480 Siswa SD di Solo Adu Cepat di MilkLife Festival SenengMinton

480 Siswa SD di Solo Adu Cepat di MilkLife Festival SenengMinton
Sebanyak 480 siswa sekolah dasar (SD) di Kota Solo beradu kecepatan dan ketangkasan dalam MilkLife Festival SenengMinton 2026 di GOR FKOR UNS, Kamis (1/10/2026). Bukan sekadar bertanding, anak-anak kelas 1 hingga 3 itu diajak mengenal bulutangkis melalui permainan yang dikemas menyenangkan.

Nusatime.com, SOLO — Sebanyak 480 siswa sekolah dasar (SD) di Kota Solo beradu kecepatan dan ketangkasan dalam MilkLife Festival SenengMinton 2026 di GOR FKOR UNS, Kamis (1/10/2026). Bukan sekadar bertanding, anak-anak kelas 1 hingga 3 itu diajak mengenal bulutangkis melalui permainan yang dikemas menyenangkan.

Mereka berasal dari 16 SD di Solo. Festival yang digelar Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife tersebut menjadi salah satu upaya mengenalkan olahraga bulutangkis sejak usia dini.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, mengatakan rasa senang menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap olahraga.

“Ini adalah wujud konsistensi kami untuk menjaga nyala api semangat bulutangkis di Indonesia. Kami percaya, rasa senang menjadi awal tumbuhnya kecintaan terhadap sebuah olahraga,” kata Yoppy dalam keterangan tertulis, Kamis.

Menurut dia, pengalaman positif saat mengenal bulutangkis di usia dini diharapkan membuat anak tertarik untuk terus bermain, berlatih, hingga menekuni olahraga tersebut secara lebih serius.

“Melalui MilkLife Festival SenengMinton, kami ingin menanamkan minat dan menginspirasi siswa untuk bermain bulutangkis. Harapannya, pengalaman positif yang mereka dapatkan hari ini dapat menjadi motivasi untuk terus menekuni dan menjaga tradisi prestasi bulutangkis sebagai salah satu cabang olahraga kebanggaan Indonesia,” ujarnya.

Solo merupakan kota ketiga dalam rangkaian MilkLife Festival SenengMinton 2026. Sebelumnya kegiatan serupa digelar di Purwokerto pada April dan Magelang pada September.

Setelah Solo, festival tersebut dijadwalkan berlanjut di Kudus pada 17-18 Oktober dan Semarang pada 28 Oktober.

Terpisah, Ketua Umum Pengprov PBSI Jawa Tengah, Basri Yusuf, mengatakan festival tersebut tidak hanya menjadi arena bermain bagi siswa, tetapi juga membuka peluang untuk menemukan bibit atlet sejak usia sekolah dasar.

Menurut dia, pendekatan “jemput bola” membuat pencarian calon atlet tidak hanya bergantung pada klub bulutangkis.

“Proses regenerasi dalam ekosistem bulutangkis sudah berada pada jalur yang tepat, dimulai dari tahap pengenalan melalui MilkLife Festival SenengMinton,” kata Basri.

Dia mengatakan pengenalan bulutangkis di tingkat SD juga mulai mendorong sejumlah siswa bergabung dengan klub sehingga kemampuan mereka dapat dikembangkan melalui latihan yang lebih terarah.

“Hal ini memberikan dampak positif karena calon atlet sudah banyak bergabung dengan klub. Kami berharap semakin banyak bibit potensial yang terjaring sejak dini sehingga di masa mendatang Indonesia tidak kekurangan materi pemain bulutangkis andal,” ujarnya.

Dalam festival tersebut, peserta tidak langsung diarahkan pada pertandingan bulutangkis konvensional. Mereka mengikuti lima permainan keterampilan yang dirancang untuk mengenalkan dasar-dasar bulutangkis sekaligus melatih motorik, koordinasi, dan kelincahan.

Peserta kelas 3 mengikuti tantangan Pyramid Shuttlecock, Shuttle Run, Throwing The Shuttlecock, Service to Target, dan Zig Zag Run. Sementara peserta kelas 1 dan 2 mengikuti empat permainan karena tantangan Service to Target tidak diberikan.

Antusiasme juga terlihat dari sekolah yang kembali mengikutsertakan siswanya dalam festival tersebut. Guru PJOK SDN Panularan Surakarta, Hendri Ahmad Ukasah, mengatakan sekolahnya telah dua kali mengikuti MilkLife Festival SenengMinton. Tahun ini, SDN Panularan mengirimkan 30 siswa.

“Pada dasarnya siswa SD senang bergerak aktif, sehingga festival ini menjadi sarana yang tepat untuk menyalurkan minat dan bakat mereka,” kata Hendri.

Menurut dia, pengalaman mengikuti festival membuat sejumlah siswanya mulai tertarik menekuni bulutangkis lebih serius.

“Ada beberapa siswa yang kemudian tertarik mendalami olahraga ini hingga bergabung dengan klub. Artinya, mereka mulai mengetahui potensi yang dimiliki dan memiliki wadah untuk mengembangkannya,” ujarnya.

Leave a Reply