Batik Warna Alam Semarang Tembus Pasar Global, Usung Misi Fesyen Berkelanjutan

Batik Warna Alam Semarang Tembus Pasar Global, Usung Misi Fesyen Berkelanjutan
Pemilik Roslina Batik, Siti Roslina (kiri) dan Batik siPutri Putri Merdekawati (kanan) saat mengikuti pameran UMKM dalam acara temu bisnis di Kota Semarang, Selasa (4/8/2026) (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Nusatime.com, SEMARANG — Satu stan UMKM Batik siPutri dan Roslina Batik bukan sekadar memamerkan lembaran kain bermotif indah. Di balik setiap helai batik yang dipajang dalam kegiatan temu bisnis di sebuah hotel di Kota Semarang, Selasa (4/8/2026), tersimpan misi yang sama, yakni mengedukasi masyarakat tentang fesyen berkelanjutan melalui penggunaan pewarna alami.

Di balik dua merek tersebut berdiri dua perempuan, Putri Merdekawati dan Siti Roslina, yang menjadi penggerak fesyen berkelanjutan di Kota Semarang. Mereka tak hanya merawat warisan budaya membatik, tetapi juga membuktikan industri fesyen dapat berkembang tanpa meninggalkan jejak pencemaran terhadap lingkungan.

Keduanya tergabung dalam Sentra Batik Warna Alam di Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Dari kawasan pinggiran kota itu lahir batik-batik dengan pewarna yang berasal dari alam, diproses secara tradisional, bahkan berhasil menembus pasar internasional.

Bagi Putri Merdekawati, penggunaan pewarna alami menjadi identitas utama Batik siPutri. Seluruh produknya dibuat menggunakan teknik batik asli dengan malam panas, baik melalui teknik tulis, cap, maupun kombinasi keduanya.

“Kami benar-benar menggunakan bahan pewarna alami untuk semua batik. Motifnya juga tidak pasaran karena kami menciptakan desain sendiri. Setiap tiga bulan, kami selalu membuat motif baru,” ujar perempuan yang akrab disapa Putri kepada Espos, Selasa (4/8/2026).

Karakter Batik siPutri juga terlihat dari pilihan warna-warna earth tone, seperti hitam, abu-abu, dan cokelat. Warna-warna tersebut dipadukan dengan motif hasil rancangan sendiri sehingga setiap koleksi memiliki ciri khas yang tidak mudah ditemukan di pasaran.

Konsep ramah lingkungan diterapkan sejak awal hingga akhir proses produksi. Putri memperhatikan pemilihan bahan baku, proses pewarnaan, pengelolaan limbah, hingga penggunaan kemasan yang mudah terurai agar tidak mencemari lingkungan.

“Kami tidak asal membuat produk. Semua dipikirkan, mulai penggunaan bahan pewarna, proses produksi, limbah sampai kemasan yang bisa diuraikan kembali oleh mikroorganisme di dalam tanah sehingga tidak mencemari lingkungan,” paparnya.

Sejak dirintis pada pertengahan 2017, Batik siPutri terus mengembangkan produknya. Tak hanya memproduksi kain batik dan busana siap pakai, sisa-sisa kain juga diolah menjadi berbagai aksesori, seperti anting, gelang, dan scrunchie melalui konsep upcycle agar tidak menjadi limbah.

Untuk pemasaran, Putri tidak hanya mengandalkan toko fisik maupun ruang pameran. Berbagai platform digital, mulai dari Instagram, situs web resmi, hingga marketplace seperti Shopee dan Tokopedia dimanfaatkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Melalui pemasaran digital tersebut, produk Batik siPutri berhasil menembus pasar internasional, antara lain Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Jerman, hingga Kanada.

“Tetapi ekspor kami belum dalam porsi besar. Kami melayani butik-butik yang memiliki konsep sama, yaitu mengusung sustainable fashion di negaranya masing-masing,” imbuh Putri.

Menurut Putri, tantangan terbesar dalam mengembangkan batik pewarna alami bukan terletak pada proses produksi, melainkan mengedukasi masyarakat agar memahami alasan harga batik pewarna alam relatif lebih tinggi dibandingkan batik dengan pewarna sintetis.

“Kami ingin memberikan warisan, bukan sekadar memproduksi sesuatu atau mencari keuntungan. Kami ingin mewariskan nilai keberlanjutan. Menjaga lingkungan sekaligus menjaga kesehatan para pekerja menjadi nilai utama yang ingin terus kami pegang,” tegasnya.

Limbah Kulit Kayu Mahoni

Misi serupa juga dijalankan Siti Roslina melalui Roslina Batik. Ia memanfaatkan limbah kulit kayu mahoni dari industri penggergajian sebagai bahan pewarna alami. Material yang kerap dianggap tidak bernilai itu justru diolah menjadi sumber warna tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan.

Kulit kayu mahoni direbus berulang kali untuk menghasilkan tanin sebagai zat pewarna. Selain mahoni, Roslina juga memanfaatkan bahan alami lain seperti kayu tegeran, jolawe, dan kayu tingi yang memiliki kandungan tanin sehingga mampu mengikat warna pada kain.

“Proses pewarnaannya benar-benar ramah lingkungan. Sampai titik air mau habis masih bisa kita pakai. Kalau pun ada limbah sisa pelorodan malam juga tidak mengandung bahan kimia,” ungkap Roslina.

Ia menjelaskan batik pewarna alam memiliki keunikan karena setiap lembar kain tidak pernah menghasilkan warna yang benar-benar sama. Kandungan alami pada setiap potongan kayu membuat karakter warna selalu berbeda meski berasal dari jenis bahan yang serupa.

Meski sebagian besar pemasarannya masih menyasar pasar domestik, produk Roslina Batik juga kerap diminati wisatawan mancanegara. Melalui berbagai pameran, sejumlah produknya banyak dibeli wisatawan asing untuk dibawa pulang ke negara asal mereka.

“Tantangan membuat batik warna alam sebenarnya pada sumber daya manusia. Karena proses pewarnaan benar-benar dikerjakan oleh tangan manusia, dari awal hingga pelepasan lilin atau pelorodan. Untuk mendapatkan satu warna, proses pencelupan bisa sampai 10-12 kali,” tutur Roslina.

Dari Sentra Batik Warna Alam Gunungpati, Putri Merdekawati dan Siti Roslina membuktikan bahwa menjaga warisan budaya dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Melalui selembar batik, keduanya tidak hanya menawarkan produk fesyen, tetapi juga mengajak masyarakat memahami bahwa keberlanjutan dapat dimulai dari pilihan yang dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply