Nusatime.com, SOLO-Bagi setiap orang tua, memilih sekolah untuk anak bukan sekadar soal gedung megah atau label unggulan. Ada harapan, doa, sekaligus pertimbangan panjang di dalamnya.
Begitu pula yang dirasakan Dekan Fakultas Adab dan Bahasa (FAB) UIN Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta), Prof. Dr. Imam Makruf, S.Ag., M.Pd., ketika menentukan sekolah bagi putri ketiganya, Nayla Shavira Meylani.
Alih-alih memaksakan pilihan, Prof. Imam justru memberi ruang bagi sang anak untuk menentukan sendiri masa depannya.
“Saya tidak mengarahkan sebenarnya. Kami hanya menunjukkan beberapa pilihan. Dia mencari informasi sendiri, lalu memutuskan ke [SMA] Al Firdaus,” tuturnya saat ditemui Espos, Jumat (27/2/2026).
Bagi keluarga ini, Al Firdaus bukanlah nama yang asing. Kakak Nayla sebelumnya juga pernah menempuh pendidikan di sana. Namun tetap saja, keputusan akhir diserahkan kepada Nayla. Sebuah langkah kecil yang ternyata membawa perubahan besar.
SMA Al Firdaus dikenal sebagai sekolah inklusi. Di sinilah Nayla belajar bukan hanya tentang rumus dan teori, tetapi juga tentang menerima perbedaan. Menurut sang ayah, lingkungan sekolah membentuk cara pandang Nayla menjadi lebih terbuka.
Ia belajar memahami, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan teman-teman yang memiliki kebutuhan khusus. Nilai-nilai inklusivitas itu, menurut Prof. Imam, jauh lebih penting daripada sekadar angka rapor.
“Secara kepribadian, mudah-mudahan ini membentuk karakter yang inklusif,” ujarnya.
Di sisi akademik, Al Firdaus memiliki kurikulum internasional yang dinilai belum banyak dimiliki sekolah lain di Solo dan sekitarnya. Hal ini selaras dengan minat Nayla yang sejak kecil menyukai bahasa Inggris.
Kini, Nayla bercita-cita melanjutkan studi di program Hubungan Internasional. Dukungan lingkungan sekolah yang terbiasa dengan penguatan bahasa dan wawasan global menjadi bekal penting bagi langkahnya ke depan.
Tak Hanya Akademik
Namun dari semua perkembangan yang ada, satu hal yang paling dirasakan keluarga adalah perubahan kepercayaan diri Nayla.
Saat lulus SMP, Nayla dikenal pendiam dan cenderung pemalu. Berbicara di depan umum bukanlah hal yang mudah baginya. Suaranya pelan, langkahnya ragu.
Kini, di kelas XI, perbedaan itu tampak nyata. Ia lebih berani tampil, menyampaikan presentasi, dan berbicara di depan kelas.
“Keberaniannya sudah sangat berbeda. Dulu kalau disuruh bicara masih pelan, sekarang jauh lebih percaya diri,” kenang Prof. Imam.
Bagi Prof. Imam, pendidikan bukan semata-mata soal kecerdasan akademik. Justru kemampuan nonakademik seperti interpersonal, karakter, dan kepribadian yang sering kali menentukan kesuksesan seseorang.
Di Al Firdaus, ia melihat ada ruang bagi anak untuk bertumbuh secara utuh. Beragam ekstrakurikuler memberi wadah pengembangan bakat. Program pembentukan karakter melibatkan orang tua sejak awal semester, menciptakan sinergi antara rumah dan sekolah.
“Kalau hanya akademik, anak bisa saja pintar secara teori. Tapi kesuksesan sering kali lebih ditentukan oleh kemampuan nonakademik,” ujarnya.
Bagi Nayla, perjalanan di SMA Al Firdaus mungkin baru beberapa tahun. Namun bagi orang tuanya, perubahan kecil dalam keberanian dan cara pandang sudah menjadi bukti bahwa memilih sekolah bukan hanya tentang tempat belajar, melainkan tentang ruang untuk bertumbuh.
Dan bagi seorang ayah, melihat anaknya yang dulu pemalu kini berani berdiri dan berbicara di depan umum, itu adalah pencapaian yang tak ternilai.
Leave a Reply