Nusatime.com, SRAGEN — Di tengah gencarnya pemberitaan mengenai klaster mewah di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Cibinong, Bogor, Jawa Barat, LP Kelas IIA Sragen justru memiliki inovasi yang dapat menjadi contoh bagi LP dan rumah tahanan (rutan) lain.
Para narapidana (napi) atau warga binaan pemasyarakatan (WBP) di LP Sragen diberdayakan sebagai duta kesenian untuk menghibur tamu VIP yang berkunjung.
Penyambutan tamu VIP itu terlihat saat tim wartawan Sragen berkunjung ke LP tersebut beberapa hari lalu. Para jurnalis yang biasanya melakukan wawancara doorstop justru disambut dengan layanan VIP dan disuguhi kreativitas seni dari warga binaan laki-laki dan perempuan.
Belasan napi berkolaborasi menabuh gamelan untuk mengiringi tiga sinden. Mereka merupakan warga binaan yang tergabung dalam kelompok karawitan Laras Roso Panglipur Jiwo yang dibentuk Kepala LP Kelas IIA Sragen, Giyono. Meskipun baru berlatih selama sebulan terakhir, mereka sudah mampu memainkan gamelan dengan alunan musik yang rancak dan enak didengar.
“Kebetulan ada warga binaan yang lulusan ISI. Dia jago dalam seni karawitan. Dialah yang mengajari para warga binaan lainnya untuk menabuh gamelan,” ujar Giyono saat berbincang dengan Espos, Selasa (29/9/2026).
Bakat para napi tersebut sudah dinikmati jajaran pejabat di lingkungan Kabupaten Sragen, mulai dari bupati hingga jajaran Polres Sragen. Tamu dari kementerian juga pernah disuguhi pertunjukan kesenian tersebut.
Dalam waktu dekat, Giyono berencana menggandeng akademisi dan mahasiswa ISI Surakarta untuk mengembangkan kesenian di LP Sragen agar semakin baik.
Tak hanya seni karawitan, di balik tembok tinggi LP, para napi juga diasah untuk membentuk grup musik akustik dengan peralatan gitar dan kentrung seadanya. Dengan alat musik minimalis, mereka mampu mengalunkan lagu-lagu nostalgia yang enak didengar.
Potensi Internal Warga Binaan
Giyono menyampaikan program pembinaan seni budaya tersebut memanfaatkan potensi internal warga binaan. Meskipun para anggota kelompok seni memiliki latar belakang yang beragam, menurut dia, kunci utama pemberdayaan napi terletak pada niat dan kemauan yang tinggi.
“Jadwal latihannya hampir setiap hari. Strategi kami, mereka dijadikan satu kamar hunian. Jadi kalau pagi, sore, atau malam ada pendampingan dari pegawai untuk latihan, kami mudah secara teknis menghadirkan mereka. Jadwal resminya Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu latihan di aula,” jelasnya.
Kekompakan yang terjalin antarwarga binaan terbukti mampu membuahkan hasil dalam waktu singkat. Mereka bahkan menciptakan lagu baru berjudul Lapas Sragen. Lagu tersebut menceritakan harapan warga binaan untuk kembali menjadi manusia seutuhnya dan segera berkumpul kembali bersama keluarga.
Menanggapi isu klaster mewah, Giyono menegaskan LP Sragen tidak memiliki fasilitas mewah maupun perlakuan khusus bagi warga binaan. Dia menyatakan seluruh warga binaan mendapatkan perlakuan yang sama.
Menurut Giyono, LP Sragen justru memfasilitasi kebutuhan warga binaan untuk berkarya dan mengekspresikan seni secara maksimal.
“Prinsip kami, manfaatkan waktu seoptimal dan semaksimal mungkin. Di sini semua tergantung kepada mereka. Kalau mereka bisa merencanakan bekal kehidupannya ke depan, akan kami akomodasi, apalagi yang sifatnya seni-seni. Dalam hal budaya kami tidak akan mempersulit,” kata Giyono.
Saat ini, LP Kelas IIA Sragen dihuni 485 warga binaan dari kapasitas ideal 307 orang. Meski dalam kondisi padat atau kelebihan kapasitas, Giyono memastikan pemenuhan hak-hak warga binaan serta pembinaan kepribadian dan kemandirian tetap berjalan secara optimal.

Leave a Reply