Nusatime.com, SEMARANG — Cuaca di wilayah Jawa Tengah (Jateng) masih menunjukkan kondisi yang belum stabil. Hujan dengan intensitas cukup tinggi masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah, seiring kawasan ini berada dalam masa peralihan musim atau pancaroba.
Khusus di Kota Semarang, dalam dua hari terakhir hujan masih sering turun dengan intensitas cukup tinggi. Bahkan pada Kamis (26/3/2026) pagi, hujan mengguyur kota tersebut dengan durasi yang cukup lama.
Forecaster BMKG Ahmad Yani Semarang, Harits Syahid Hakim, menyebut kondisi cuaca saat ini masih berada dalam fase peralihan musim. Cuaca yang cenderung labil itu diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal Mei 2026.
“Untuk saat ini, beberapa wilayah termasuk [Semarang] masih masuk musim peralihan atau pancaroba, diprakirakan hingga awal Mei,” ujar Harist saat dihubungi Espos, Kamis.
Dia menjelaskan hujan yang terjadi belakangan ini tidak lepas dari pengaruh fenomena siklon tropis di sekitar Australia, khususnya keberadaan Siklon Tropis Narelle di sebelah barat laut Australia yang memengaruhi pola angin di wilayah Indonesia, termasuk Jateng.
“Kondisi angin tertarik ke wilayah siklon, sehingga terjadi penumpukan massa udara di sekitar wilayah Jawa. Hal ini yang menyebabkan hujan di beberapa wilayah Jawa Tengah,” paparnya.
Lebih lanjut, Harist memprakirakan musim kemarau di Jateng mulai berlangsung pada Mei mendatang. Sedangkan puncak kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 dengan kondisi cuaca yang cenderung kering dan minim hujan.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dinamis selama masa pancaroba, termasuk potensi hujan lebat yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
“Musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Tengah diprakirakan mulai sekitar bulan Mei,” tandasnya.

Leave a Reply