Nusatime.com, BOYOLALI — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) merencanakan Pasar Rakyat Ampel Boyolali yang selama ini belum difungsikan akan digunakan sebagai pasar sayur.
Kepala Disdagperin Boyolali, Purnawan Raharjo, mengatakan pihaknya terus menggodok konsep agar bangunan Pasar Rakyat Ampel yang terletak di Desa Gladagsari, Kecamatan Gladagsari, dapat difungsikan dan diterima oleh masyarakat.
“Nanti Pasar Rakyat Ampel kami arahkan khusus untuk pasar sayur. Kami sudah menjajaki Pasar Sayur pagi di Pasar Ampel, untuk mereka yang tidak menempati los akan kami bawa ke Pasar Gladagsari [Pasar Rakyat Ampel],” kata dia kepada Espos, Minggu (26/4/2026).
Saat ditanya target operasional Pasar Rakyat Ampel, ia mengatakan pihaknya masih menjajaki berbagai pihak sekaligus mengidentifikasi kebutuhan agar pasar tersebut dapat ramai dikunjungi.
Untuk meramaikan pasar sayur di Ampel, pihaknya juga berencana membuat berbagai kegiatan pendukung seperti event dan hiburan lainnya. Pemerintah daerah akan menggandeng pemerintah kecamatan serta desa untuk membantu meramaikan pasar tersebut.
Selain itu, Disdagperin juga akan berkomunikasi dengan para pedagang di Pasar Sayur Cepogo untuk ikut meramaikan pasar sayur yang baru tersebut.
“Nantinya percontohan Pasar Sayur Cepogo. Barangkali nanti misalnya ada yang punya [toko] di Pasar Sayur Cepogo ingin mengembangkan usaha di Ampel. Pedagang sayur kan punya jaringan, yang berjualan di Pasar Cepogo juga bukan hanya orang sana,” kata dia.
Apabila jaringan pedagang sudah terbentuk, ia memperkirakan pasar atau target market akan terbentuk dengan sendirinya.
“Kami mencoba Gladagsari menjadi pasar sayur terbesar kedua setelah Cepogo,” kata dia.
Sebelumnya, Disdagperin Boyolali juga telah mencari solusi untuk bangunan Pasar Nogosari baru yang sempat mangkrak.
Rencana relokasi pedagang Pasar Nogosari lama di Kabupaten Boyolali akhirnya dibatalkan. Pemerintah daerah memutuskan pedagang tetap berjualan di lokasi lama, sementara pasar baru yang sempat mangkrak akan difungsikan secara bertahap.
Keputusan tersebut disampaikan dalam sosialisasi Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Boyolali di Kecamatan Nogosari, Rabu (8/4/2026). Kepala Disdagperin Boyolali, Purnawan Raharjo, mengatakan kebijakan ini diambil setelah mempertimbangkan aspirasi pedagang yang sejak awal menolak relokasi.
Menurut dia, pasar baru tetap akan dimanfaatkan dengan membuka kesempatan bagi pelaku usaha yang berminat berjualan. Pedagang lama juga dipersilakan apabila ingin membuka lapak di lokasi baru.
Untuk menarik minat pedagang, pemerintah menggratiskan retribusi selama masa uji coba sepanjang 2026. Retribusi baru akan diberlakukan mulai 2027.
“Selama 2026 belum kami kenakan retribusi. Harapannya pasar baru bisa berkembang dan menarik aktivitas ekonomi baru,” ujar Purnawan.
Ia menegaskan pedagang yang menempati kios di pasar baru wajib aktif berjualan. Jika tidak, akan diberikan peringatan hingga kemungkinan penggantian penyewa.
Pasar Nogosari baru sendiri berada di Desa Glonggong, Kecamatan Nogosari, sama seperti pasar lama. Namun lokasinya dinilai kurang strategis karena lebih masuk dari jalan utama. Faktor ini menjadi salah satu alasan utama penolakan relokasi oleh pedagang.
Sebelumnya, aksi demonstrasi penolakan sempat dilakukan pedagang pada November 2024. Pasar baru tersebut memiliki 67 kios, 96 los dengan meja, dan 78 los tanpa meja.
Pembangunannya berlangsung pada 2019–2021 dengan anggaran sekitar Rp15 miliar, namun sempat terbengkalai hingga lima tahun.

Leave a Reply