Peringati Hari Perempuan, Aktivis Semarang Gelar Bazar Preloved untuk Penyintas

Peringati Hari Perempuan, Aktivis Semarang Gelar Bazar Preloved untuk Penyintas
ESPOS.ID - Potret Bazar Prevoled Sintas di kantor LRCKJHAM Kota Semarang untuk membantu memulihkan korban kekerasan. Jumat (6/3/2026) (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Nusatime.com, SEMARANG — Aktivis perempuan yang tergabung dalam Legal Resources Center untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) Kota Semarang menggelar Bazar Preloved Sintas dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD) 2026.

Seluruh dana dari penjualan pakaian bekas tersebut digunakan untuk membantu kebutuhan akomodasi perempuan penyintas kekerasan yang sedang menjalani proses pemulihan.

Quality Development LRC-KJHAM, Nur Laila Hafidhoh, mengatakan bazar yang digelar pada 3–6 Maret 2026 itu menjadi bagian dari kampanye Hari Perempuan Internasional. Meski bazar telah berakhir, penjualan pakaian bekas masih dibuka di kantor LRC-KJHAM.

“Bazar Preloved Sintas ini lahir dari keprihatinan atas meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan yang terus terjadi dari tahun ke tahun,” ujar perempuan yang akrab disapa Yaya, Jumat (6/3/2026).

Data LRC-KJHAM menunjukkan kasus kekerasan terhadap perempuan masih tergolong tinggi. Pada 2023 tercatat 93 kasus, meningkat menjadi 102 kasus pada 2024, dan kembali naik menjadi 117 kasus sepanjang 2025.

Yaya menjelaskan para penyintas yang menempuh jalur hukum sering menghadapi berbagai hambatan, mulai dari tekanan psikologis hingga beban biaya selama proses penanganan dan pemulihan.

Menurutnya, masih ada sejumlah layanan yang belum sepenuhnya dibiayai pemerintah.

“Dari pengalaman kami, pemeriksaan kehamilan korban belum ditanggung. Bahkan masih ada korban yang harus membayar biaya visum sendiri,” katanya.

Kasus yang ditangani lembaga tersebut beragam, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Korbannya tidak hanya perempuan dewasa, tetapi juga anak-anak.

Selain membantu pemulihan penyintas, bazar tersebut juga memiliki tujuan sosial lain, yakni mengurangi limbah tekstil melalui pemanfaatan pakaian preloved. Harga pakaian yang dijual pun terjangkau, bahkan sebagian dibagikan gratis dengan harga tertinggi sekitar Rp75.000.

Kegiatan ini mendapat perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari aktivis hingga warga sekitar yang datang untuk membeli pakaian sekaligus menunjukkan dukungan bagi para penyintas.

Salah satu pengunjung, Maimunah (68), rela datang dari Tlogosari ke kantor LRC-KJHAM di Jalan Kauman Raya No. 61, Palebon, Pedurungan untuk membeli pakaian preloved.

Ia mengaku turut berempati kepada para korban karena pernah menjadi penyintas kekerasan yang didampingi LRC-KJHAM sejak tahun 2000.

“Harapan kami bisa saling membantu sesama, terutama perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan. Semoga mereka segera pulih dan mendapatkan perlindungan,” ujarnya.

Leave a Reply