Program Kemitraan Distannak Jateng Jamin Pasar dan Naikkan Harga Tembakau

Program Kemitraan Distannak Jateng Jamin Pasar dan Naikkan Harga Tembakau
Kepala Distannak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares alias Frans (kemeja hijau), saat melihat hasil serapan tembakau di gudang PT Lampion Agrikultura Indonesia di Kecamatan Temanggung, Rabu (7/10/2026). (Daerah/Adhik Kurniawan).

Nusatime.com, TEMANGGUNG — Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Jawa Tengah terus berupaya memperkuat rantai pasok komoditas tembakau di wilayahnya. Melalui program demonstrasi farming (demfarm) berbasis kemitraan, pihaknya menjembatani para petani dengan industri pabrikan rokok demi menjamin kepastian pasar hingga stabilitas harga jual di tingkat petani.

Kepala Distannak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares alias Frans, menjelaskan tujuan program kemitraan untuk memangkas mata rantai distribusi yang selama ini kerap merugikan para petani saat musim panen raya. Maka lewat skema kolaborasi, hasil panen tembakau warga dipastikan langsung terserap oleh pabrikan dengan kesepakatan harga yang adil dan sesuai ekspektasi petani.

“PT Lampion Agrikultura Indonesia adalah salah satu mitra kerja yang menyerap hasil tembakau di Temanggung dan Wonosobo untuk nantinya disalurkan ke perusahaan-perusahaan,” kata Frans seusai melihat hasil serapan tembakau di gudang PT Lampion Agrikultura Indonesia di Kecamatan Temanggung, Rabu (7/10/2026).

Tak hanya fokus pada aspek pemasaran, Distanak Jateng dan PT Lampion Agrikultura Indonesia turut memberikan pendampingan teknis secara berkelanjutan. Pembinaan dilakukan mulai dari penataan tata tanam, pemilihan benih unggul, hingga proses penanganan pascapanen agar kualitas daun tembakau yang dihasilkan memenuhi standar mutu dan spesifikasi yang dibutuhkan pabrikan.

“Jadi ini kemitraan yang win-win solution [saling menguntungkan], karena dengan kualitas tetap terjaga, harga dan hasil panen terjamin terserap,” ucapnya.

Program kemitraan yang dicanangkan Distannak Jateng juga sudah berjalan selama dua tahun. Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo menjadi daerah percontohan yang nantinya akan dikembangkan ke daerah sentra tembakau lainnya.

“Jumlah lahan dan petani selalu bertambah tiap tahun. Sekarang, hampir semua petani [Temanggung dan Wonosobo] ikut mitra dengan total luas lahannya 359,16 hektare. Selain dua daerah itu, saat ini ada Kabupaten Sragen yang tahap uji coba, luasannya 19,41 hektare,” bebernya.

Dampak nyata dari hadirnya pasar yang pasti lewat program mitra tersebut dirasakan langsung oleh Danang, 38, petani tembakau asal Wonosobo. Ia mengingat kembali masa-masa sulit sebelum bergabung dalam skema mitra.

“Dulu sebelum mitra per kilonya itu Rp70.000 hingga Rp75.000, itu juga masih harus cari-cari pasar yang mau. Sekarang, dengan kualitas sesuai pasar dan tentunya pasti terserap, bisa tembus Rp100.000,” kata Danang.

Sementara itu, Komisaris Lampion Agrikultura Indonesia, Yopie Samiaji, mengaku bisa menyerap sekitar 350 ton tembakau per tahun dari kemitraan. Hasilnya, mayoritas disalurkan ke industri-industri rokok ternama di Indonesia.

“350 ton itu dari sekitar 600 petani di Temanggung dan Wonosobo. Pembeli terbesarnya saat ini, Djarum,” kata Yopie.

Menurut Yopie, pasar pabrik rokok besar saat ini cenderung menolak tembakau dengan tambahan gula. Namun untuk pabrik rokok kecil, masih menerima tembakau dengan kadar gula tambahan.

“Kualitas pasar, khususnya pabrikan besar, sekarang yang penting menghindari tambahan gula. Kalau pabrikan kecil, masih mau menyerap,” bebernya.

Sinergi antara pemerintah daerah, kelompok tani, dan pelaku industri ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pertembakauan di Jawa Tengah yang lebih mandiri, berdaya saing, serta berkelanjutan. (NA)

Leave a Reply