Nusatime.com, SEMARANG — Raut bahagia terpancar dari wajah atlet panahan Nurisa Dian Ashrifah saat melangkah di peron Stasiun Tawang Semarang, Jumat (9/10/2026) sore.
Kedatangannya disambut keluarga, pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Jawa Tengah (Jateng). Peraih medali emas Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, itu juga berbagi cerita tentang keberhasilannya yang ternyata di luar ekspektasi.
Perempuan berusia 20 tahun ini baru saja mengukir sejarah yang mengharumkan nama kontingen Indonesia. Atlet kelahiran Kota Semarang tersebut meraih medali emas nomor compound putri sekaligus menjadi pemanah Indonesia pertama yang mempersembahkan emas di ajang internasional tersebut.
“Alhamdulillah senang banget di luar ekspektasi bisa dapat emas di Asian Games 2026. Pastinya bersyukur dan saya berterima kasih kepada semua pihak yang sudah mendoakan dan memberikan dukungan,” ucap Nurisa saat ditemui Espos, Jumat.
Nurisa mengaku tidak memasang target atau mengejar medali emas saat datang dan berlaga di Asian Games 2026. Sebab, ia menyadari para pesaingnya dari Korea Selatan, China, dan India memiliki atlet panahan berpengalaman yang telah bersaing di level dunia.
“Nggak ada ekspektasi (meraih emas), sama sekali nggak ada. Mengingat lawan-lawan dari Korea Selatan, China, dan India ini bagus. Panahan mereka juga sudah mendunia, jadi awalnya nggak memasang target emas,” ungkap Nurisa.
Berawal dari Menonton The Hunger Games
Ketertarikan Nurisa pada dunia panahan bermula saat ia menonton film The Hunger Games ketika berusia 11 tahun. Adegan memanah dalam film tersebut memantik rasa penasarannya untuk mencoba olahraga panahan. Tanpa pikir panjang, Nurisa langsung memutuskan bergabung dengan ekstrakurikuler panahan di sekolahnya.
Sejak saat itu, Nurisa terus menekuni panahan dan mengikuti berbagai perlombaan. Bakat dan kerja kerasnya akhirnya membawa Nurisa ke panggung internasional hingga berbuah medali emas di Asian Games 2026.
“Awalnya (tertarik) panahan setelah nonton film The Hunger Games. Kok kayaknya keren dan seru. Kebetulan waktu SD ada ekskul panahan, jadi langsung coba ikut panahan,” ungkap Nurisa.
Selain menjalani latihan fisik dan mengasah teknik, Nurisa juga memiliki ritual yang menjadi kebiasaan khusus sebelum pertandingan. Ia sering melakukan visualisasi dengan memejamkan mata sembari membayangkan suasana pertandingan, mulai dari membidik hingga melepaskan anak panah ke sasaran.
Hal lain yang tak boleh diabaikan adalah kemampuan mengendalikan emosi. Bagi atlet panahan, menjaga ketenangan sangat penting karena emosi yang tidak terkendali dapat mengganggu konsentrasi dan memengaruhi arah anak panah saat dilepaskan.
“Larangan atlet panahan itu nggak boleh cepat kebawa emosi. Karena (emosi) itu ngaruh banget, misal kita terlanjur kebawa emosi. Kita nggak bisa mikir dan anak panahnya ke mana gitu,” imbuhnya.
Punya Dua Mimpi Besar Lainnya
Medali emas Asian Games 2026 tak lantas membuat Nurisa berpuas diri. Ia bertekad untuk terus bekerja keras mengembangkan kariernya di dunia panahan dan memperluas kiprahnya di panggung internasional. Mimpi berikutnya, Nurisa ingin tampil di Olimpiade 2028 di Los Angeles, Amerika Serikat.
“Targetnya (berikutnya) semoga bisa main di Olimpiade 2028. Medali emas Asian Games ini tentunya untuk orang tua, keluarga, sahabat, dan semuanya yang sudah support,” tuturnya.
Nurisa juga memiliki mimpi besar lainnya yang tidak berkaitan dengan kompetisi. Ia ingin menggunakan uang bonus dari Asian Games untuk membeli sebidang tanah yang nantinya akan dibangun lapangan panahan pribadi.
“Uang bonus dari Asian Games ini ingin beli tanah, terus bikin lapangan untuk tempat latihan sendiri,” paparnya.
Pelatih panahan, Permadi Sandra Wibowo, membeberkan bahwa Nurisa memiliki potensi menjadi atlet yang bisa bersaing di dunia internasional. Bahkan, perempuan yang tercatat sebagai mahasiswi semester III di Unidus Semarang tersebut sempat menempati peringkat keempat dunia pada babak kualifikasi World Cup di Madrid pada 2025.
“Meraih medali emas ini memang di luar ekspektasi. Perhitungan kami pasti (Nurisa) dapat medali atau naik podium. Alhamdulillah malah dapat medali emas dan podium tertinggi,” ungkap Permadi.
Permadi menilai Nurisa memiliki kombinasi bakat, keberanian, dan ketenangan yang jarang ditemukan. Mental Nurisa juga patut diacungi jempol karena tidak pernah merasa takut ketika berhadapan dengan lawan yang memiliki peringkat lebih tinggi.
“Dia memang petarung. Tidak gentar dengan lawan yang ranking-nya di atas dan mainnya sangat tenang. Menemukan bakat atlet seperti dia memang sangat langka,” tandasnya.

Leave a Reply