Nusatime.com, SOLO — Pemandangan menyejukkan mewarnai persinggahan 57 biksu atau bhante yang tengah menjalani tradisi Thudong di Kota Solo, Minggu (24/5/2026) pagi. Tidak hanya umat Buddha, warga lintas agama turut menyambut dan memberikan bekal berupa makanan serta minuman kepada para biksu sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan.
Rangkaian pelepasan tersebut sekaligus menandai berakhirnya masa persinggahan para biksu di Kota Bengawan sejak Sabtu (23/5/2026) siang.
Sebelum tiba di Balai Kota Solo, rombongan terlebih dahulu menjalani prosesi Pindapata atau menerima persembahan umat yang dimulai dari Vihara Dhamma Sundara, Jebres, sekitar pukul 07.00 WIB.
Dalam perjalanan menuju Balai Kota, rombongan disambut meriah oleh iringan kesenian Barongsai dari komunitas etnis Tionghoa saat melintasi kawasan Pasar Gede.
Setibanya di Balai Kota, para biksu secara resmi dilepas untuk melanjutkan laku spiritual mereka. Pelepasan ditandai dengan penerbangan balon warna-warni ke udara sebagai simbol dimulainya kembali perjalanan ribuan kilometer para biksu asal Malaysia, Thailand, Laos, dan Indonesia menuju Candi Borobudur, Magelang.
Saat para biksu yang mengenakan kasaya atau kain kuning kecokelatan berjalan keluar dari kompleks Balai Kota, warga telah berbaris rapi di tepi jalan. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya persembahan yang dibawa, meski prosesi Pindapata telah dilakukan sebelumnya.
Warga mengeluarkan berbagai bekal dari dalam tas, yang didominasi makanan kering dan air mineral. Jumlah persembahan yang sangat banyak bahkan membuat bekal tersebut harus diangkut menggunakan mobil bak terbuka atau pikap.
Solidaritas Lintas Agama
Salah satu warga yang antusias menyambut adalah Setiawati Cahya Ningrum, 31, warga Palur, Karanganyar. Meski seorang muslim dan mengenakan jilbab, ia sengaja datang bersama suami dan anak laki-lakinya untuk memberikan bekal berupa biskuit dan air mineral.
Perjuangan perempuan yang akrab disapa Tia itu tidak mudah. Ia sempat kecewa karena terlambat tiba di Vihara Dhamma Sundara sekitar pukul 08.00 WIB dan mendapati rombongan sudah berjalan menuju Balai Kota.
Ia kemudian bergegas menyusul ke Balai Kota Solo agar tetap bisa ikut menyambut dan mengantar keberangkatan para biksu. Dengan menggendong anak balitanya, ia tetap memberikan makanan dan minuman kepada rombongan.
“Kita kasih bekal ini murni sebagai wujud toleransi beragama. Walaupun kita muslim, tapi ini kan ada agenda walk for peace, mereka mengajarkan kasih sayang, berbagi, dan menebarkan perdamaian di Indonesia,” ujar Tia.
Menurut Tia, momen tersebut juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi anaknya agar belajar menghargai perbedaan keyakinan sejak dini.
“Ini bagus banget buat mengajarkan kepada anak kita bahwa kita itu harus punya solidaritas dan saling memberi kepada sesama,” katanya.
Baginya, semua agama mengajarkan kebaikan meskipun memiliki perbedaan keyakinan.
Namun lebih dari itu, Tia melihat perjalanan ribuan kilometer para bhante sebagai teladan tentang ketekunan dan kerja keras.
“Melihat perjuangan para bhante jalan kaki ini juga mengarahkan kita agar selalu pantang menyerah dan bekerja keras untuk mencapai tujuan,” tuturnya.
Ia berharap Solo dapat terus menjadi kota yang ramah bagi agenda lintas negara seperti ini.
Ruang Spiritual yang Sakral
Jika bagi sebagian warga tradisi ini dimaknai sebagai bentuk toleransi, bagi umat Buddha momen tersebut menjadi ruang spiritual yang sangat sakral.
Salah satunya dirasakan Endang Susweni, 73, umat Buddha asal Solo yang mengaku bersyukur bisa mengikuti tradisi pemberian makanan atau Pindapata secara langsung.
Endang menjelaskan persembahan yang diberikan tidak boleh sembarangan. Makanan harus berupa makanan kering dan tidak diperbolehkan memberikan susu karena menyesuaikan aturan ketat yang dijalani para biksu selama Thudong.
Baginya, kehadiran 57 biksu yang melintasi Kota Solo merupakan anugerah bagi umat Buddha setempat.
“Sebagai umat Buddhis, kita memang diajarkan untuk banyak berbuat kebajikan, terutama berdana kepada Sangha. Perasaan saya hari ini senang sekali. Kesempatan untuk bisa berdana langsung kepada Sangha seperti ini belum tentu bisa terulang,” katanya.
Bekal Akan Dibagikan Kembali
Juru Bicara Panitia Waisak Kota Solo, Pandita Mettasiri Sutrisno, menjelaskan persembahan yang diterima para biksu tidak akan dikonsumsi seluruhnya.
“Hasil Pindapata itu nantinya sebagian dikonsumsi seperti minuman yang dibawa oleh bhante. Tapi karena jumlahnya sangat banyak, ketika di jalan bertemu anak-anak kecil atau masyarakat yang membutuhkan, bekal itu akan langsung dibagikan kembali kepada mereka. Jadi intinya kita saling berbagi,” terang Sutrisno.
Ia menjelaskan rombongan melanjutkan perjalanan melalui jalur Car Free Day (CFD) menuju arah Klaten. Mereka dijadwalkan beristirahat di Gereja Paroki Santa Maria Kartasura sebelum meneruskan perjalanan ke Klaten dan Yogyakarta.
Puncaknya, para biksu akan mengikuti perayaan Waisak di Candi Borobudur pada 27–30 Mei mendatang.
Sementara itu, Staf Ahli Wali Kota Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum, Aryo Widyandoko, menyebut tingginya toleransi masyarakat Solo menjadi kebanggaan tersendiri.
“Masyarakat kita bisa menerima dan bertoleransi dengan menyambut para biksu dengan sangat meriah dan baik. Bahkan, rombongan biksu ini secara khusus meminta agar Kota Solo kembali dimasukkan ke dalam rute persinggahan mereka,” ungkap Aryo.
Menurutnya, sambutan hangat dari warga yang memberikan makanan dan dukungan menjadi energi tersendiri bagi para biksu untuk melanjutkan perjalanan.
“Di kota lain mungkin tidak seantusias di sini. Merasa didukung penuh oleh masyarakat Solo itulah yang paling membuat teman-teman Buddha ini merasa sangat terharu dan bersemangat melanjutkan perjalanan,” katanya.

Leave a Reply