UIN Saizu Optimalkan Digital Branding untuk Perkuat Citra Kampus

UIN Saizu Optimalkan Digital Branding untuk Perkuat Citra Kampus
Pusat Promosi dan Informasi Mahasiswa Baru (PPIMB) UIN Saizu menggelar Workshop Digital Branding bagi Perguruan Tinggi Tahun 2026, Kamis (24/9/2026), di Ruang Rapat Eks LPM, Lantai IV, Gedung Rektorat UIN Saizu. (Istimewa)

Nusatime.com, PURWOKERTO—Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto memperkuat strategi promosi dan komunikasi digital melalui Workshop Digital Branding bagi Perguruan Tinggi Tahun 2026, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Pusat Promosi dan Informasi Mahasiswa Baru (PPIMB) UIN Saizu tersebut berlangsung di Ruang Rapat Eks LPM, Lantai IV, Gedung Rektorat UIN Saizu.

Workshop menghadirkan Handini, akademisi sekaligus praktisi komunikasi yang merupakan Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi dan Ketua Admisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Kegiatan diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa yang tergabung dalam organisasi mahasiswa dan organisasi mahasiswa daerah (ormada) UIN Saizu.

Kepala PPIMB UIN Saizu Purwokerto, Dr. Sumiarti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa promosi perguruan tinggi menjadi kebutuhan penting di tengah persaingan penerimaan mahasiswa baru yang semakin kompetitif. 

Menurutnya, anggapan bahwa perguruan tinggi negeri tidak perlu melakukan promosi sudah tidak lagi relevan karena banyak perguruan tinggi negeri aktif mengikuti pameran pendidikan dan melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah.

Dia menjelaskan, kegiatan promosi di UIN Saizu mulai dilakukan secara lebih intensif sejak sekitar 2024–2025 dan kini memasuki tahun ketiga. Persaingan tidak hanya terjadi di wilayah Purwokerto, tetapi juga dengan perguruan tinggi dari berbagai daerah.

Dr. Sumiarti menegaskan bahwa memberikan pemahaman kepada calon mahasiswa mengenai pilihan pendidikan tinggi merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, promosi UIN Saizu tidak hanya menjadi tugas PPIMB, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai unsur sivitas akademika.

Dia juga mengajak mahasiswa untuk turut menjaga reputasi UIN Saizu melalui penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab. Setiap konten maupun aktivitas yang dibagikan di ruang digital dapat menjadi bagian dari citra perguruan tinggi di mata masyarakat.

Pusat Promosi dan Informasi Mahasiswa Baru (PPIMB) UIN Saizu mengadakan Workshop Digital Branding bagi Perguruan Tinggi Tahun 2026, Kamis (24/9/2026), di Ruang Rapat Eks LPM, Lantai IV, Gedung Rektorat UIN Saizu. (Istimewa)
Pusat Promosi dan Informasi Mahasiswa Baru (PPIMB) UIN Saizu mengadakan Workshop Digital Branding bagi Perguruan Tinggi Tahun 2026, Kamis (24/9/2026), di Ruang Rapat Eks LPM, Lantai IV, Gedung Rektorat UIN Saizu. (Istimewa)

Dalam pemaparannya, Handini menjelaskan bahwa digital branding merupakan proses membangun persepsi dan identitas lembaga di tengah masyarakat. Branding membantu audiens memahami karakter sebuah perguruan tinggi, mengenali layanan dan keunggulannya, serta membangun kepercayaan melalui pengalaman dan komunikasi yang dilakukan secara konsisten.

“Digital branding bukan sekadar membuat konten atau mempercantik tampilan media sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana perguruan tinggi membangun persepsi, identitas, dan kepercayaan publik secara konsisten,” ujar Handini.

Menentukan Identitas dan Pesan untuk Publik

Dia memperkenalkan konsep Brand DNA yang terdiri atas Purpose, Promise, Personality, dan Proof. Keempat unsur tersebut dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi dalam menentukan identitas dan pesan yang ingin disampaikan kepada publik.

Dalam aspek visual, Handini juga membahas pentingnya konsistensi penggunaan warna, tipografi, logo, serta gaya komunikasi. Salah satu pendekatan yang dikenalkan adalah komposisi warna 60-30-10, penggunaan jenis huruf yang mudah dibaca, fleksibilitas logo, serta penyesuaian tone of voice dengan karakter komunikasi, baik formal, santai, maupun edukatif.

Menurut Handini, strategi digital branding juga perlu diawali dengan pemahaman terhadap audiens. Perguruan tinggi perlu menentukan segmentasi, target, dan posisi yang ingin dibangun. Pengelola media sosial dan humas juga perlu mendengarkan aspirasi publik sebelum menentukan materi komunikasi.

Dia turut mengenalkan pemanfaatan Google Trends untuk melihat perkembangan topik, kata kunci, kompetitor, hingga momentum berdasarkan wilayah. Data tersebut dapat membantu perguruan tinggi menyusun konten yang lebih relevan dengan kebutuhan dan minat audiens.

Dalam penyusunan content planner, Handini membagi konten ke dalam empat pilar, yakni edukasi berupa tips dan panduan, behind the scenes yang menampilkan aktivitas internal, social proof untuk menunjukkan rekam jejak dan prestasi, serta cerita personal yang mengangkat sudut pandang atau pengalaman unik.

Strategi tersebut kemudian diperkuat dengan pendekatan 360 derajat, yaitu membangun konsistensi identitas visual dan suara komunikasi di berbagai kanal. Dengan pendekatan ini, pengalaman publik terhadap perguruan tinggi diharapkan dapat terbentuk secara utuh, baik dari sisi visual maupun emosional.

Workshop ditutup dengan diskusi interaktif. Para peserta berkesempatan membahas berbagai strategi branding dan promosi perguruan tinggi di media sosial, sekaligus mendiskusikan tantangan dalam membangun komunikasi digital yang efektif dan berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman sivitas akademika UIN Saizu mengenai pentingnya digital branding serta mendorong keterlibatan bersama dalam membangun citra positif perguruan tinggi. 

Dengan komunikasi yang konsisten, relevan, dan berbasis kebutuhan audiens, informasi mengenai program, prestasi, serta aktivitas UIN Saizu dapat semakin dikenal oleh masyarakat. (NA)

Leave a Reply