10 Ton Ikan Mati akibat Upwelling di WKO Boyolali, Petani Rugi hingga Rp247 Juta

10 Ton Ikan Mati akibat Upwelling di WKO Boyolali, Petani Rugi hingga Rp247 Juta
Berton-ton ikan mati di Waduk Kedung Ombo (WKO) Boyolali akibat fonomea upwelling, Sabtu (25/7/2026). (Istimewa)

Nusatime.com, BOYOLALI — Fenomena upwelling di Waduk Kedung Ombo (WKO), Kemusu, Boyolali, menyebabkan sekitar 10 ton ikan mati dan membuat petani karamba jaring apung (KJA) merugi hingga Rp247 juta.

Ketua Petani KJA Dukuh Bulu, Jono, mengatakan upwelling terjadi mulai Jumat (24/7/2026) pagi, tak lama setelah upwelling di WKO wilayah Sragen. “Jumat itu kami sudah wawas, kami menggeser karamba hingga memompa air biar oksigen air ada. Lalu ikannya mulai mengapung mati pada Sabtu sampai sekarang masih belum membaik kondisi airnya. Total 10 ton ikan yang mati,” kata dia dihubungi Espos, Minggu (26/7/2026).

Kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali pada Minggu pagi. Jono juga menyampaikan kebutuhan pompa air untuk membuat oksigen di dalam air bergerak.

Saat kejadian upwelling, lanjutnya, ada panas namun angin berembus cukup kencang dan dingin. Akibatnya, suhu di permukaan air lebih dingin dibanding di bawah air dan membuat perpindahan massa serta mengangkat sisa kotoran yang mengandung amonia. Kotoran itu meracuni ikan di karamba kelompoknya.

“Untuk ikan mas harganya per kilogram Rp25.000, mati 8 ton. Ikan patin mati satu ton, harganya Rp20.000 per kilogram, ikan nila mati satu ton, harganya Rp27.000 per kilogram,” kata dia.

Langkah Penanganan

Sementara itu, Sekretaris Disnakkan Boyolali, Agus Pramudi Rahardjo, membenarkan telah menerima laporan terkait kejadian tersebut. Ia mengatakan upwelling mulai terjadi pada Jumat pagi.

“Adanya faktor lingkungan yang diindikasikan sebagai penyebab upwelling berasal dari angin sore hingga malam dari wilayah Ngasinan, Sragen. Kerugian sebanyak 10 ton terdiri dari 15 pembudidaya KJA Pokdakan Mina Mandiri,” kata dia.

Ia mengatakan kerugian 10 ton terdiri dari ikan nila satu ton dengan total rugi Rp27 juta, ikan karper/mas sebanyak 8 ton dengan total kerugian Rp200 juta, dan patin 1 ton dengan nominal kerugian Rp20 juta.

Plt Kepala Disnakkan Boyolali, Ahmad Gojali, mengatakan petani telah melakukan langkah awal yang telah dilakukan pemberian kucuran air dengan pompa lalu menggeser karamba. “Petani KJA juga berharap mendapatkan bantuan pompa air untuk antisipasi dan kompensasi kerugian yang diberikan kepada mereka yang terdampak,” kata dia.

Selanjutnya, Disnakkan Boyolali segera melakukan pendataan per nama petani KJA yang tergabung dalam kelompok. Kemudian, upaya preventif yaitu tetap menggeser karamba dan pengaturan pengurangan pakan di musim ini. “Lapor juga kepada atasan, bupati/wakil bupati berkaitan dengan upaya bantuan atau insentif,” kata dia.

Leave a Reply