Nusatime.com, BOYOLALI – Fenomena upwelling di Waduk Cengklik, Kabupaten Boyolali, menyebabkan ribuan ikan nila mati dan membuat petani karamba jaring apung (KJA) merugi hingga ratusan juta rupiah.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali, Anton Sarwoko, mengatakan kematian ikan dimulai sekitar pukul 05.00 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 13.00 WIB.
Ia menjelaskan upwelling terjadi akibat faktor lingkungan. Fenomena tersebut dipicu cuaca berupa hujan dan angin yang terjadi di Waduk Cengklik pada malam sebelumnya, Kamis (14/5/2026).
“Kerugian total sebanyak 4,2 ton terdiri dari 11 pembudidaya KJA dengan nilai kerugian Rp117,6 juta,” kata Anton saat dihubungi Espos, Sabtu (16/5/2026).
Sebanyak 11 pembudidaya KJA terdampak berasal dari dua kelompok, yakni Sumber Rejeki dan Sumber Panguripan di Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak.
Atas kejadian tersebut, Disnakkan Boyolali menggelar pertemuan pada Jumat malam untuk mendata kerugian. Para petani KJA juga meminta perhatian pemerintah agar memfasilitasi bantuan bagi pembudidaya terdampak upwelling.
“Kejadian ini segera kami laporkan ke pimpinan dan diharapkan pembudidaya melakukan tindakan menjaga keberlangsungan ekosistem waduk dengan selalu melakukan kegiatan budi daya yang baik,” ujarnya.
Diketahui, upwelling merupakan naiknya massa air dari bagian bawah Waduk Cengklik yang mengandung racun amonia sisa pakan ikan ke permukaan. Racun amonia tersebut meracuni ikan hingga menyebabkan kematian massal.
Upwelling pada Jumat Kemarin
Sementara itu, Ketua KJA Sumber Rejeki, Suhartono, mengatakan kematian ikan akibat upwelling terjadi pada Jumat. Pada Sabtu, kematian ikan sudah tidak terjadi, namun sisa ikan mati masih perlu dibersihkan.
Ia menyebut kematian ikan terjadi dari satu karamba ke karamba lain dalam waktu singkat. Menurutnya, cuaca ekstrem berupa hujan deras pada Kamis membuat suhu permukaan waduk turun drastis sehingga lapisan air bawah yang lebih hangat mengangkat amonia ke permukaan.
“Amonia yang naik ke atas membuat ikan-ikan mati,” katanya.
Suhartono menjelaskan seluruh ikan yang mati merupakan ikan nila. Berdasarkan pendataan bersama Disnakkan Boyolali, total kerugian mencapai Rp117,6 juta dengan harga ikan dihitung Rp28.000 per kilogram.
“Untuk berapa ikan yang mati, ikan nila semua, semalam dihitung bersama Disnakkan Boyolali sekitar Rp117,6 juta, harganya dihitung Rp28.000 per kilogram,” ujarnya.
Kerugian tersebut telah dilaporkan ke Disnakkan Boyolali. Para petani KJA berharap ada kompensasi untuk mengurangi beban akibat kematian massal ikan.
Suhartono mengatakan upwelling menjadi ancaman rutin bagi petani KJA, terutama saat cuaca ekstrem. Menurutnya, petani sudah berupaya mengurangi risiko dengan mengatur kepadatan karamba dan pola pemberian pakan.
Ia menambahkan kapasitas karamba di waduk hanya sekitar 1% dari total luas waduk atau sekitar 750 titik. Kelompok KJA Sumber Rejeki juga telah memperketat penambahan karamba dan menata karamba yang ada.
Selanjutnya, bangkai ikan nila yang memenuhi karamba dibersihkan secara mandiri oleh petani untuk mencegah pencemaran dan menyelamatkan ikan yang masih hidup.
“Kalau tidak dibersihkan segera, nanti bisa menyebabkan ikan-ikan yang hidup mati. Kan bangkainya juga mengeluarkan minyak,” kata dia.

Leave a Reply