Ayam Warga di Tawangmangu Karanganyar Mati Diduga Dimangsa Macan Tutul

Ayam Warga di Tawangmangu Karanganyar Mati Diduga Dimangsa Macan Tutul
Tim gabungan menemukan jejak diduga kaki macan tutul di wilayah Sepanjang, Tawangmangu, Karanganyar, Senin (2/3/2026). (Istimewa)

Nusatime.com, KARANGANYAR — Teror binatang buas yang diduga macan tutul kembali meresahkan warga lereng Gunung Lawu, Tawangmangu, Karanganyar. Setelah sebelumnya dilaporkan muncul di wilayah Jatiyoso, kini muncul dugaan serangan binatang buas di Desa Sepanjang, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar.

Seekor ayam milik warga Dusun Sendang, Desa Sepanjang, ditemukan mati dengan kondisi luka yang mengarah pada serangan predator. Peristiwa itu kemudian dilaporkan warga kepada aparat setempat dan diteruskan ke instansi terkait.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Hendro Prayitno, mengatakan laporan tersebut segera ditindaklanjuti dengan koordinasi lintas sektor.

“Awalnya kami menerima aduan dari warga terkait ternak ayam yang mati dan diduga dimakan binatang buas. Kami langsung berkoordinasi dengan pihak yang menangani satwa liar di tingkat provinsi untuk memastikan langkah penanganan,” ujarnya saat diwawancarai Espos, Senin (2/3/2026).

Menurut dia, laporan serupa sebelumnya juga sempat ia terima, sehingga kejadian kali ini menjadi perhatian serius. Pada Senin (2/3/2026) pagi hingga siang, tim gabungan melakukan pengecekan langsung ke lokasi kejadian.

Tim terdiri atas Camat Tawangmangu, perwakilan Polsek dan Koramil Tawangmangu, petugas Resort KSDA Wilayah Karanganyar, Cabang Dinas Kehutanan Wilayah X, Perhutani, pemerintah Desa Sepanjang, hingga unsur Bhabinkamtibmas.

Langkah Identifikasi

Di lokasi, petugas melakukan serangkaian langkah, mulai dari mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), pendataan kronologi kejadian, koordinasi antarinstansi, hingga pengambilan jejak satwa liar menggunakan gipsum untuk kepentingan identifikasi.

“Dari hasil pemeriksaan lapangan, ditemukan dua jenis jejak satwa liar dengan ukuran berbeda. Jejak pertama berukuran sekitar 7 sentimeter x 8 sentimeter, sementara jejak kedua berukuran sekitar 3 sentimeter x 2 sentimeter,” tuturnya.

Hendro mengatakan dari ukuran tersebut dimungkinkan ada dua ekor satwa liar, satu berukuran lebih besar dan satu lebih kecil, yang masuk ke area permukiman warga. Meski warga menduga satwa tersebut adalah macan tutul, petugas masih melakukan kajian dan identifikasi lebih lanjut berdasarkan hasil cetakan jejak dan analisis lapangan oleh tim KSDA.

Kejadian ini menambah daftar kemunculan satwa liar di kawasan lereng Lawu dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi permukiman yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan diduga menjadi salah satu faktor yang memungkinkan satwa liar turun mendekati kandang ternak warga.

Sebagai langkah antisipasi, tim gabungan memberikan sejumlah imbauan kepada warga. Di antaranya meningkatkan ronda malam secara berkelompok, menyalakan api unggun di sekitar permukiman, memaksimalkan lampu penerangan terutama di kandang ternak, serta memperkuat konstruksi kandang.

Warga juga diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di ladang atau kebun, tidak pergi sendirian, berangkat lebih siang, serta kembali sebelum kondisi gelap. “Hasil pengecekan sudah kami laporkan kepada pimpinan untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur penanganan satwa liar,” kata Hendro.

Leave a Reply