25 Orang Meninggal saat Demo 2025, Eks PM Nepal dan Mendagri Ditangkap

25 Orang Meninggal saat Demo 2025, Eks PM Nepal dan Mendagri Ditangkap
Para demonstran berteriak-teriak sambil berkumpul untuk memprotes pembunuhan 19 orang pada hari Senin, yang terjadi setelah protes anti-korupsi yang dipicu oleh larangan media sosial yang kemudian dicabut, selama jam malam di Kathmandu, Nepal, pada 9 September 2025. REUTERS/Navesh Chitrakar

Nusatime.com, JAKARTA – Mantan Perdana Menteri (PM) Nepal K. P. Sharma Oli dan mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Ramesh Lekhak ditangkap oleh otoritas negara setempat pada Sabtu (28/3/2026) atas dugaan kelalaian pidana terkait kematian sejumlah demonstran pada September 2025.

“Janji tetaplah janji. Tak ada yang kebal hukum,” tulis Menteri Dalam Negeri Nepal Sudan Gurung di media sosial Facebook. “Mantan perdana menteri dan mantan menteri dalam negeri telah ditangkap.”

Gurung yang terlibat dalam aksi protes massal tersebut, mengatakan penangkapan itu bukan bentuk balas dendam.

“Ini baru awal dari keadilan. Saya berharap negara ini akan bergerak ke arah baru,” ujarnya yang dikutip dari Antara.

Oli merupakan ketua Partai Komunis Unified Marxist Leninist (UML), sementara Lekhak adalah pemimpin senior Nepali Congress.

Puluhan polisi dikerahkan ke kediaman Oli di Bhaktapur setelah rapat kabinet pada Jumat memutuskan untuk menindaklanjuti laporan Komisi Yudisial terkait protes Gen Z tahun lalu.

Komisi yang dipimpin Gauri Bahadur Karki merekomendasikan penyelidikan terhadap Oli, Lekhak, dan Kepala Kepolisian Chandra Kuber Khapung atas dugaan kelalaian pidana dan kematian demonstran.

Sejumlah pendukung UML bentrok dengan polisi di luar kediaman Oli, tetapi aparat berhasil membubarkan massa di gerbang utama lalu menangkap mantan PM yang digulingkan itu.

Rapat kabinet juga memutuskan melaksanakan rekomendasi itu dan membentuk komite kajian atas pejabat keamanan yang diduga terlibat penembakan, setelah penunjukan Balendra Shah sebagai PM.

Para pemimpin UML dan Nepali Congress menilai laporan tersebut tidak lengkap dan bias.

UML menggelar rapat darurat untuk membahas situasi tersebut dan diperkirakan akan mengumumkan aksi protes.

“Ini adalah bentuk prasangka dan balas dendam terhadap kami,” kata Sekretaris UML Mahesh Basnet, seraya mendesak kader partai untuk turun ke jalan.

Sedikitnya 25 demonstran, sebagian besar anak muda meninggal dunia dan 700 orang lainnya terluka pada September lalu saat protes meluas setelah pelarangan sejumlah media sosial.

Leave a Reply