Angka Kelahiran Total Solo Lebih Kecil dari Nasional, Program KB Tetap Perlu

Angka Kelahiran Total Solo Lebih Kecil dari Nasional, Program KB Tetap Perlu
Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Solo di kompleks Balai Kota Solo, Rabu (20/5/2026). (Daerah/Wahyu Prakoso)

Nusatime.com, SOLO – Rata-rata total fertility rate (TFR) atau angka kelahiran total di Kota Solo lebih kecil dibanding angka TFR Nasional. Meskipun begitu program KB tetap dibutuhkan masyarakat dengan tujuan mengatur jarak kehamilan dan menghindari 4 T, yakni jarak kehamilan terlalu dekat, hamil terlalu banyak, hamil terlalu muda, dan hamil terlalu tua.

Ujungnya untuk mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Kepala Bidang Keluarga Berencana Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Solo Ch Novita Indriani menjelaskan tren kenaikan TFR dari 1,79 pada 2021 dan 2022.

Kemudian sempat turun tipis menjadi 1,77 pada 2023, lalu meningkat menjadi 1,8 pada 2024 dan masih tercatat 1,8 pada 2025. “TFR 1,8 ini artinya rata-rata jumlah anak yang dilahirkan perempuan selama masa reproduksinya 1-2 anak, yang artinya tingkat kelahiran relatif terkendali,” kata dia kepada Espos di Balai Kota Solo, Rabu (20/5/2026) siang.

Menurut dia, TFR secara nasional tercatat 2,12 pada 2025. TFR di Kota Solo diharapkan tidak turun lagi. “Untuk di perkotaan, TFR cenderung di angka segitu ya [rendah]. Karakteristik kota berbeda dengan daerah/kabupaten. Melihat fenomenanya, tren pasangan muda saat ini cenderung tidak ingin punya banyak anak,” ungkap dia.

Novita mengatakan meskipun TFR tercatat 1,8, DP3AP2KB Kota Solo tetap menjalankan program KB yang mudah diakses masyarakat. Pasangan Usia Subur (PUS) yang ingin menunda atau berhenti punya anak, tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi menjadi perhatian.

“Ada warga yang memiliki satu anak. Ada juga pasangan yang memiliki delapan anak, itu masih ada sehingga DP3AP2KB Kota Solo tetap menjalankan program KB khususnya menyasar daerah yang unmet need KB tinggi,” papar dia.

Safari KB

Novita menjelaskan beberapa program KB berupa penggerakan pelayanan KB dengan dana alokasi khusus serta APBD Kota Solo sekitar Rp900 juta pada 2026. Salah satunya dengan melaksanakan Safari KB dengan memanfaatkan empat momentum pada 2026.

“Kami sudah melaksanakan KB serentak pada Februari lalu bersama Muslimat NU. Kemudian di bulan ini bekerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia [IBI] serta Aisyiyah,” ujar dia.

Safari KB berikutnya pada Juni 2026 bertepatan dengan Hari Keluarga Nasional dan pada September bertepatan dengan peringatan World Contraception Day (WCD) juga akan diadakan Safari KB lagi.

“Dengan pendanaan itu kami melakukan Safari Pelayanan KB serentak di lima kecamatan dan menggandeng fasilitas kesehatan mulai dari klinik, puskesmas, dan rumah sakit,” ungkap dia.

Dia mengatakan Safari KB itu gratis bagi warga KTP Solo maupun warga domisili Solo, pelayanan yang diberikan menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang berupa pemasangan IUD dan Implan, selain gratis, warga juga diberi uang transportasi serta snack.

“Kalau pelayanan suntik, pil, dan kondom gratis dilayani di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan kami, menggunakan BPJS,” ujar dia.

Novita mengatakan beberapa tantangan program KB berupa penolakan warga, misalnya alasan keyakinan. DP3AP2KB Kota Solo menggandeng tokoh agama maupun tokoh masyarakat serta kader PPKBD untuk membantu edukasi program KB kepada masyarakat.

Leave a Reply