Nusatime.com, JAKARTA – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi, berkaitan dengan aktivitas sesar naik Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan berdasarkan parameter sumber gempa, aktivitas tersebut berasosiasi dengan sesar naik Busur Belakang Flores.
“Berdasarkan parameter sumber, gempa ini berasosiasi dengan sesar naik Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust,” kata Lana dalam konferensi pers secara virtual, Sabtu, dilansir Bisnis.com.
Dia menjelaskan sistem sesar tersebut memanjang di sepanjang laut utara Kepulauan Nusa Tenggara, mulai dari utara Pulau Bali hingga utara Pulau Wetar. Sesar tersebut terbagi menjadi beberapa segmen.
Menurut Lana, secara historis struktur sesar tersebut telah berulang kali menghasilkan gempa bumi yang merusak. Sejumlah gempa yang bersumber dari struktur tersebut bahkan pernah memicu tsunami.
Beberapa kejadian gempa yang tercatat berkaitan dengan aktivitas struktur tersebut antara lain gempa Flores Utara pada 1961, gempa Solor pada 1982, gempa Flores pada 1992, serta gempa Manggarai pada 2003.
“Dengan demikian, kejadian hari ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari aktivitas tektonik regional yang memang harus terus kita waspadai,” ujar Lana.
Guncangan Capai VII-VIII MMI
Badan Geologi juga melakukan pemodelan terhadap dampak guncangan akibat gempa tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan wilayah di sekitar sumber gempa mengalami intensitas guncangan terbesar, yakni setara VII-VIII Modified Mercalli Intensity (MMI).
Lana mengatakan tingkat guncangan diperkirakan semakin menurun seiring dengan bertambahnya jarak dari sumber gempa.
Intensitas sekitar VI MMI masih diperkirakan dapat dirasakan hingga Kabupaten Manggarai Timur di sebelah barat dan Kabupaten Sikka di sebelah timur.
Menurut Lana, informasi mengenai sebaran intensitas guncangan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan wilayah yang perlu mendapatkan prioritas pemeriksaan di lapangan.
Terutama, pemeriksaan akan diprioritaskan di wilayah yang diperkirakan menerima guncangan paling kuat.
Ada Potensi Likuifaksi
Selain menganalisis guncangan, Badan Geologi Kementerian ESDM melakukan analisis cepat terhadap potensi likuifaksi akibat gempa.
Hasil analisis awal menunjukkan terdapat peluang terjadinya likuifaksi berdasarkan hubungan antara jarak suatu wilayah dari sumber gempa dan kekuatan guncangan yang diterima.
Lana menyebut dampak likuifaksi diperkirakan lebih signifikan di wilayah yang berada lebih dekat dengan sumber gempa, khususnya pada area dengan kondisi tanah berupa endapan aluvium.
“Dampaknya diperkirakan lebih signifikan pada wilayah yang lebih dekat dengan sumber, khususnya pada area daratan aluvium seperti sebagian wilayah Nagekeo,” jelas Lana.
Kendati demikian, Lana menekankan hasil tersebut masih merupakan analisis cepat. Data tersebut digunakan sebagai dasar untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan dalam proses verifikasi lapangan.
Badan Geologi juga menerima laporan mengenai fenomena keluarnya air dari dalam tanah beberapa saat setelah gempa di wilayah Waekokak-Mbai.
Menurut Lana, fenomena tersebut secara awal diperkirakan dapat berkaitan dengan likuifaksi dalam bentuk sand boil. Fenomena tersebut berupa keluarnya material berupa air yang bercampur pasir atau lumpur ke permukaan akibat tekanan pori tanah setelah terjadi guncangan gempa.
Berdasarkan indikasi awal, dampak terhadap tanah fondasi diperkirakan berada pada tingkat rendah hingga sedang.
Lana mengatakan fenomena tersebut juga tidak menunjukkan karakteristik seperti likuifaksi tipe aliran yang dapat menyebabkan massa tanah bergerak dalam jarak jauh. “Namun demikian, kesimpulan final tetap membutuhkan identifikasi dan pemeriksaan langsung di lapangan,” kata Lana.

Leave a Reply