Bersih Sendang Sinongko Klaten, Gulai Kambing dan Syukur Hasil Panen

Bersih Sendang Sinongko Klaten, Gulai Kambing dan Syukur Hasil Panen
Suasana kawasan Sendang Sinongko di Desa Pokak, Kecamatan Ceper yang dikenal dengan tradisi tahunan bersih sendang, Jumat (4/9/2026). (Daerah/Taufiq Sidik Prakoso)

Nusatime.com, KLATEN — Ribuan warga Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Klaten, menggelar tradisi tahunan Bersih Sendang Sinongko, Jumat (4/9/2026). Dalam tradisi tersebut, warga bersama-sama menikmati gulai kambing sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan sumber air yang menghidupi masyarakat setempat.

Warga mulai berdatangan ke area Sendang Sinongko selepas Salat Jumat. Mereka duduk bersama di bawah tenda yang didirikan di sekitar sendang sambil membawa tenong berisi beragam makanan.

Isi tenong yang dibawa warga cukup beragam, mulai dari ingkung, nasi tumpeng, mi, lauk-pauk, hingga buah-buahan. Setelah mengikuti acara seremonial dan doa bersama, warga kemudian menikmati gulai kambing secara bersama-sama.

Sebagian gulai kambing juga dimasukkan ke dalam wadah yang berada di puluhan tenong untuk dibawa pulang oleh pemiliknya.

Acara makan bersama menjadi puncak rangkaian Bersih Sendang Sinongko. Sebelumnya, warga menggelar sejumlah kegiatan, antara lain membersihkan area sendang dan kirab budaya. Seluruh kegiatan tersebut digelar secara swadaya oleh masyarakat.

Ketua Rukun Kampung Desa Pokak, Rusmiyadi, mengatakan Bersih Sendang Sinongko merupakan tradisi tahunan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Keberhasilan pertanian warga selama ini tidak terlepas dari pasokan air yang bersumber dari Sendang Sinongko.

Tradisi tersebut rutin digelar setiap Jumat Wage pada rentang Agustus hingga September. “Total untuk tahun ini ada 23 kambing yang disembelih,” kata Rusmiyadi.

Ia menjelaskan seluruh rangkaian kegiatan digelar secara swadaya. Warga memberikan sumbangan secara sukarela sesuai kemampuan masing-masing.

“Ada panennya yang melimpah kemudian bersedekah. Ada yang sukarela urun kambing, semangka, dan lain-lain. Jadi tidak ada patokan dan warga secara sukarela menyokong kegiatan ini,” jelas dia.

Sukirman, 75, menjadi salah satu warga yang rutin membawa tenong dalam tradisi Bersih Sendang Sinongko. Tenong yang dibawanya berisi berbagai jenis makanan untuk dibagikan kepada warga dan sebagian lainnya dibawa pulang.

Ia mengatakan gulai kambing menjadi salah satu hidangan khas dalam rangkaian tradisi tersebut. Kambing disembelih pada Jumat pagi di lahan sekitar sendang sebelum kemudian dimasak dan dinikmati bersama. “Harapannya kegiatan ini bisa terus dilestarikan,” kata dia.

Syukur atas Air dan Hasil Panen

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, mengapresiasi warga Desa Pokak yang terus melestarikan tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun tersebut.

Bagi Hamenang, Sendang Sinongko bukan tempat yang asing. Ia mengenang kawasan tersebut sebagai salah satu lokasi bermainnya ketika masih kecil.

Dalam kesempatan itu, Hamenang juga menyoroti kondisi debit air di Sendang Sinongko. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama berupaya meningkatkan kembali debit air agar dapat dioptimalkan untuk mendukung kehidupan warga dan pertanian.

“Maka, Bersih Sendang Sinongko tidak hanya membersihkan lingkungan setempat. Ke depan kami mengajak untuk gotong royong bagaimana agar debit air bisa meningkat lagi. Insyaallah kami bantu bersama-sama mencari konsultan penyebab debit air ini tidak besar dan bagaimana mengembalikan kondisi debit airnya,” jelas Hamenang.

Tradisi Bersih Sendang Sinongko sendiri berawal dari cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Desa Pokak. Tradisi tersebut diyakini sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen warga yang selama ini didukung oleh sumber air dari Sendang Sinongko.

Cerita mengenai asal-usul tradisi itu berkisah tentang seorang petani yang tengah menggarap sawah pada musim kemarau. Dalam kondisi kelelahan, petani tersebut beristirahat di bawah pohon di sekitar sendang.

Dalam keadaan setengah tertidur, Pak Tani mendengar suara tanpa wujud yang memintanya menggelar syukuran setelah panen apabila hasil pertaniannya melimpah. Syukuran tersebut berupa nasi tumpeng, menyembelih kambing yang dimasak dengan bumbu becek, serta minuman dawet.

“Ki Petani, kamu mengerjakan sawah sampai melewati batas waktu, maksudmu supaya hasil sawahmu banyak dan melimpah, dapat untuk mencukupi kebutuhan keluargamu dan keluargamu dapat hidup sejahtera. Ingatlah supaya panenmu mulai musim kemarau ini dan seterusnya dapat menghasilkan yang banyak dan baik, nanti setelah panen ini hendaknya kamu mengadakan sesaji atau syukuran di sendang ini berwujud nasi tumpeng, memotong kambing, dan dimasak bumbu becek dengan minuman dawet,” demikian suara yang didengar Pak Tani.

Pak Tani kemudian memohon kepada Sang Pencipta agar hasil panennya pada musim tersebut berhasil dengan baik. Setelah panen, tepat pada Jumat Wage, ia menggelar syukuran sesuai pesan yang diyakini didengarnya saat beristirahat di dekat sendang.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, tanaman Pak Tani kemudian tumbuh subur dan menghasilkan panen yang melimpah. Cerita tersebut selanjutnya diwariskan secara turun-temurun dan menjadi dasar pelaksanaan tradisi Bersih Sendang Sinongko.

Hingga kini, masyarakat Desa Pokak masih menjaga tradisi tersebut sebagai bentuk rasa syukur setelah panen padi pada musim kemarau sekaligus penghormatan terhadap sumber air yang menopang kehidupan dan pertanian warga.

Leave a Reply