Nusatime.com, SALATIGA – Ancaman bencana hidrometeorologi selama musim hujan 2026/2027 menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Salatiga. Sejumlah titik rawan tanah longsor hingga kawasan yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem telah dipetakan sebagai dasar meningkatkan kesiapsiagaan.
Selain memetakan wilayah rawan bencana, BPBD Salatiga juga menyiapkan personel lintas organisasi perangkat daerah (OPD), relawan, armada, serta peralatan penanggulangan bencana. Kesiapan tersebut akan dipastikan melalui apel luar biasa pada Senin (9/11/2026).
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Salatiga, Sutarto, mengatakan apel tersebut melibatkan berbagai unsur yang memiliki peran dalam penanganan kebencanaan.
“Untuk personel dan armada, kami hari Senin melaksanakan apel luar biasa dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi musim hujan 2026/2027,” kata Sutarto, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan pemetaan yang pihaknya lakukan, kata Sutarto, sejumlah lokasi di Salatiga masuk perhatian karena memiliki potensi tanah longsor. Lokasi tersebut antara lain kawasan Jalan Lingkar Selatan (JLS) Taman Kota di Kecamatan Argomulyo, kawasan sungai di RT 09 RW 10 Kelurahan Sidorejo Lor, serta sepanjang aliran Sungai Damatex hingga Perumahan Argamas Timur.
Selain itu, terdapat beberapa lokasi yang masih memerlukan penanganan lanjutan. Salah satunya longsor di Klaster Mangunsari. Meski sebelumnya telah ditangani Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), lokasi tersebut masih memiliki potensi longsor susulan akibat air hujan.
“Titik lainnya berada di antara Perumahan Grand Witjitra dan Perumahan KotaKu Tegalejo. Di lokasi tersebut, rumpun bambu yang longsor menutup aliran sungai sehingga membutuhkan pembersihan material untuk mengantisipasi gangguan aliran air,” ungkapnya.
Dalam dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB), lanjut Sutarto, pihaknya juga memetakan kawasan rawan tanah longsor yang meliputi Kelurahan Blotongan, Bugel, Kutowinangun Kidul, dan Gendongan. Pemetaan turut mencakup kawasan berisiko cuaca ekstrem serta gempa bumi.
Khusus potensi gempa bumi, pemetaan kawasan sesar Rawa Pening mencakup sejumlah wilayah, yakni Bugel, Salatiga, Kutowinangun Lor, Kutowinangun Kidul, Gendongan, Tingkir Lor, Tingkir Tengah, dan Cebongan.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, apel luar biasa akan melibatkan BPBD, Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta DPUPR. Unsur relawan dan organisasi kemasyarakatan juga dilibatkan, mulai dari Tim Reaksi Cepat (TRC), Pusdalops, Pusdatinkom, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) kelurahan, Tagana, PMI, Saka Tangguh Bencana, Banser, hingga Kokam.
Tidak hanya mengecek kesiapan personel, BPBD juga akan memeriksa armada dan peralatan penanganan bencana milik sejumlah instansi. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan seluruh sarana operasional dapat digunakan sewaktu-waktu ketika terjadi keadaan darurat.
BPBD juga tengah menyiapkan surat edaran Wali Kota Salatiga mengenai langkah-langkah menghadapi musim hujan 2026/2027. Surat tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi instansi terkait maupun masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan antisipasi.
“Surat edaran tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi berbagai pihak dalam meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi,” ujarnya.
Sutarto menegaskan penanganan bencana tidak bisa hanya mengandalkan BPBD. Koordinasi lintas sektor, termasuk dengan kepolisian, TNI, pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat, diperlukan agar penanganan di lapangan berjalan cepat dan efektif.
“Untuk penanganan kebencanaan, kami selalu berkoordinasi dengan tim TRC tingkat kota, kepolisian, dan TNI. Sebab, penanganan kebencanaan menjadi tugas bersama pemerintah, swasta, dan masyarakat,” jelasnya.
Dia menambahkan keselamatan jiwa menjadi prioritas utama dalam setiap penanganan bencana. BPBD juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan yang membutuhkan penanganan lebih cepat saat terjadi keadaan darurat.
Kelompok tersebut meliputi lanjut usia (lansia), balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta penyandang disabilitas. Mereka menjadi prioritas dalam proses penyelamatan maupun evakuasi apabila bencana terjadi.
“Prioritas penanganan kebencanaan adalah penyelamatan nyawa orang, terutama lansia, balita, ibu hamil atau menyusui, dan penyandang disabilitas,” tandasnya.

Leave a Reply