Dansektor: Bromo Dipantau Intensif Meski Tak Ditemukan Titik Api

Dansektor: Bromo Dipantau Intensif Meski Tak Ditemukan Titik Api
Foto udara kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dari puncak penanjakan 1 di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (13/8/2026). Kawasan wisata Gunung Bromo ditutup total untuk wisatawan akibat kebakaran hutar dan lahan hingga 15 Agustus 2026 untuk proses pemadaman dan pemulihan. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq/nym)

Nusatime.com, MALANG – Pemantauan kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, terus dilakukan secara intensif meskipun tidak lagi ditemukan titik api pascakebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Komandan Sektor (Dansektor) Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Baladhika Jaya, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, mengatakan tim gabungan dari berbagai unsur masih melakukan koordinasi dan evaluasi secara berkala hingga kawasan Bromo benar-benar dinyatakan aman.

“Prioritas kami sekarang adalah memastikan tidak ada lagi titik api yang tersisa. Maka dari itu, operasi darat, pemantauan drone, maupun kesiapsiagaan dukungan udara tetap dilaksanakan,” kata Wahyu melalui keterangan pers yang diterima di Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (15/8/2026), dilansir Antara.

Menurut Wahyu, hasil pemantauan pada Sabtu menunjukkan kondisi Gunung Bromo secara umum semakin terkendali setelah kawasan tersebut dilanda karhutla dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menjelaskan operasi darat dilakukan untuk memastikan seluruh area yang terdampak kebakaran terbebas dari sisa bara. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembasahan area yang dinilai masih berpotensi menyimpan bara.

Operasi darat tersebut menyasar wilayah Pusung Duwur dan Pakis Binjil, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Selain pemantauan dari darat, tim juga terus melakukan pemantauan dari udara. Dua helikopter Super Puma dan Air Base tetap disiagakan untuk mendukung kegiatan pembasahan apabila ditemukan lokasi yang berpotensi menyimpan bara api.

Pemantauan udara juga dilakukan menggunakan pesawat nirawak Pusgesos untuk mengoptimalkan deteksi dini terhadap titik panas, asap, maupun bara di kawasan Bromo yang sebelumnya terdampak kebakaran.

“Keselamatan masyarakat, wisatawan, personel, serta kelestarian kawasan TNBTS menjadi perhatian utama,” ujarnya.

Kebakaran Bromo

Kebakaran di kawasan Gunung Bromo pertama kali terjadi pada Senin (3/8/2026), tepatnya di area Blok Bantengan. Api kemudian menjalar ke sejumlah lokasi lain, di antaranya Watu Gede, Bukit Jantur, B29, dan Dingklik.

Kebakaran tersebut berdampak pada kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Untuk memaksimalkan proses pemadaman sekaligus memastikan keselamatan wisatawan, Balai Besar TNBTS menutup seluruh pintu akses wisata menuju Gunung Bromo.

Meski titik api kini tidak lagi ditemukan, pemantauan dan penanganan masih dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara yang dapat kembali memicu kebakaran.

Leave a Reply