Diguyur Hujan, Warga dan Mahasiswa Tetap Berburu Takjil di Belakang UNS

Diguyur Hujan, Warga dan Mahasiswa Tetap Berburu Takjil di Belakang UNS
Pengunjung memilih aneka takjil di lapak pedagang di Jalan Ki Hajar Dewantara, belakang UNS Solo, meski diguyur hujan menjelang waktu berbuka puasa, Rabu (4/3/2026). (Daerah/Miqda Al Auza'i)

Nusatime.com, SOLO — Hujan yang turun hampir setiap sore di Kota Solo membasahi deretan tenda pedagang takjil di sepanjang Jalan Ki Hajar Dewantara, kawasan belakang Universitas Sebelas Maret (UNS). Meski cuaca kurang bersahabat, warga dan mahasiswa tetap berdatangan untuk berburu menu berbuka puasa di lokasi tersebut.

Berdasarkan pengamatan Tim Espos, Rabu (4/3/2026) sejumlah pedagang mulai menata dagangan sejak sekitar pukul 14.30 WIB. Meja-meja sederhana dipenuhi berbagai jenis makanan, mulai dari jajanan pasar, gorengan, hingga makanan kekinian. Sebagian pedagang juga menyiapkan minuman segar untuk menyambut pembeli menjelang waktu berbuka.

Suasana pasar takjil mulai ramai setelah waktu Asar. Warga dan mahasiswa tampak berdatangan untuk memilih hidangan berbuka. Salah seorang mahasiswa UNS, Nabila, mengatakan biasanya ia membeli takjil sekitar pukul 16.00 WIB.

“Dari jam biasanya sih, jam 16.00, jam 17.00,” ujarnya.

Meski hujan turun, para pembeli tetap mendatangi lapak pedagang dengan mengenakan jas hujan atau membawa payung.

Beragam menu tersedia di sepanjang jalan tersebut, mulai dari es buah, kolak, aneka gorengan, masakan rumahan, hingga jajanan pasar. Selain makanan tradisional, berbagai menu kekinian juga ikut meramaikan pilihan takjil.

Salah satu menu yang cukup diminati adalah risol dengan berbagai varian isian. Sekitar lima pedagang terlihat menjual makanan yang tengah populer tersebut.

“Ada matcha, daging, ori, gurame, bolognese, banyak macam. Cokelat, ini pisang,” ujar Yuli, salah satu penjual risol.

Di sisi lain, jajanan tradisional seperti cenil tetap diminati pembeli. Makanan berbahan dasar tepung singkong tersebut biasanya disajikan bersama parutan kelapa dan gula merah cair, serta dipadukan dengan olahan lain seperti gatot, klepon, tiwul, dan ketan.

Namun, hujan disebut memengaruhi jumlah pembeli. Arum, penjual cenil, mengatakan saat cuaca cerah dagangannya biasanya habis terjual.

“Beda sama kalau hujan, kelong (berkurang) separo. Mungkin peminatnya sudah pada malas keluar rumah,” katanya.

Meski begitu, suasana pasar takjil di belakang UNS tetap ramai menjelang waktu berbuka. Aktivitas pedagang, pembeli, dan kendaraan yang lalu lalang menciptakan hiruk-pikuk khas Ramadan di kawasan tersebut.

Leave a Reply