Nusatime.com, SOLO—Pernahkah siswa terlihat mengantuk saat pelajaran, sulit berkonsentrasi, atau kehilangan fokus di tengah pembelajaran? Pertanyaan sederhana itulah yang menjadi awal perjalanan Saraswati, S.Si., guru SMPI Al Abidin Surakarta, dalam menghadirkan proyek pembelajaran “Misteri Screen Time: Detektif Digital”.
Alih-alih hanya mengingatkan siswa untuk mengurangi penggunaan gadget, Saraswati mengajak siswa kelas IX mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka mengumpulkan data tentang screen time, waktu tidur, dan aktivitas belajar melalui kuesioner digital, kemudian mengolahnya menggunakan materi statistika seperti mean, median, dan modus.
Hasil pengolahan data tersebut kemudian dikembangkan menjadi infografis dan dipresentasikan di kelas. Dari proses itu, siswa tidak hanya belajar statistika, tetapi juga belajar membaca data, berpikir kritis, bekerja sama, dan menyampaikan informasi berdasarkan temuan mereka sendiri.
Yang tak kalah penting, siswa mendapat kesempatan untuk melihat kembali kebiasaan mereka. Data yang dikumpulkan memberikan gambaran nyata tentang penggunaan gadget, waktu tidur, dan aktivitas belajar. Dari sana, siswa dapat merefleksikan kebiasaan sehari-hari dan mempertimbangkan hal-hal yang perlu diperbaiki.
Proyek tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan Saraswati dalam Wardah Inspiring Teacher (WIT) Generasi 8 Tahun 2026, program pengembangan guru yang diselenggarakan ParagonCorp bersama Guru Belajar Foundation.
Melalui rangkaian Design Thinking dan Project Based Learning (PjBL), guru didorong untuk mengembangkan pembelajaran berdasarkan persoalan nyata yang ditemukan di kelas.
Saraswati berhasil menuntaskan rangkaian tersebut hingga Tahap 3, Pemantik Inspirasi. Pengumuman capaian itu diperolehnya melalui portal pembelajaran Paragon Wardah yang menjadi bagian dari rangkaian program WIT Gen 8.
Bagi Saraswati, proyek ini menjadi pengalaman bahwa materi statistika bisa terasa lebih dekat ketika siswa menggunakannya untuk memahami sesuatu yang memang mereka alami sendiri.
Kepala SMPI Al Abidin Surakarta, Eka Noer Maya Sari, ST., turut mendukung pengembangan pembelajaran yang mendorong guru dan siswa untuk terus bertumbuh. Sekolah juga memiliki program unggulan Cambridge, didukung guru-guru dengan kompetensi tinggi, serta biaya pendidikan yang realistis.
“Bagi siswa SMPI Al Abidin Surakarta, keberadaan guru yang kreatif dan terus mengembangkan kompetensinya menjadi keuntungan tersendiri. Mereka mendapatkan pengalaman belajar yang tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga memberi ruang untuk mengeksplorasi persoalan nyata, menggunakan teknologi, mengolah informasi, dan menemukan pemahaman melalui pengalaman mereka sendiri,” jelasnya, Sabtu (26/9/2026). (NA)

Leave a Reply