Jalan Kaki Demi Siarkan Perdamaian, 16 Biksu Jalani Ritual Thudong Jepara-Klaten

Jalan Kaki Demi Siarkan Perdamaian, 16 Biksu Jalani Ritual Thudong Jepara-Klaten
ESPOS.ID - Potret biksu yang tengah melakukan perjalanan spritual Thudong ketika melintas di Jalan Kaligawe Raya Kota Semarang. Minggu (24/5/2026) (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Nusatime.com, SEMARANG — Teriknya matahari dan suara bising kendaraan yang lalu lalang di jalur Pantura Kaligawe Raya menyambut langkah 16 biksu yang tengah menjalani ritual Thudong di Kota Semarang, Minggu (24/5/2026).

Para biksu yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia itu memulai perjalanan dari Candi Sima, Jepara pada Rabu (20/5/2026). Sebelum tiba di Kota Semarang, mereka beberapa kali beristirahat di sejumlah tempat ibadah yang berada di sepanjang jalur perjalanan.

Perjalanan ritual Thudong itu tidak hanya menguji fisik, tetapi juga ketahanan para biksu menghadapi cuaca ekstrem di jalur pantura. Biksu tertua peserta Thudong bernama Nyanakaruno Mahathera, 60, mengakui teriknya cuaca saat melintasi pantura Demak-Semarang menjadi tantangan paling terasa selama perjalanan.

“Treknya hari ini luar biasa karena cuacanya sangat panas. Makanya kami jadi lebih sering berhenti untuk beristirahat. Saya sendiri yang paling tua, jadi memang harus lebih banyak istirahat,” ujarnya saat ditemui Espos di Masjid Al-Falah Genuk Semarang, Minggu.

Biksu yang sehari-hari bertugas di Vihara Girisasono Semedhi, Boyolali, tersebut mengaku baru pertama kalinya mengikuti perjalanan Thudong. Baginya, ritual tersebut bukan sekadar menjalankan tradisi keagamaan, melainkan juga membawa misi untuk menyuarakan perdamaian dunia.

“Kami punya tujuan terhadap kondisi saat ini, ketika banyak persoalan dan perselisihan besar terjadi. Semoga perjalanan Thudong ini bisa menggerakkan masyarakat untuk terus berpikir bahwa perdamaian adalah sumber kebahagiaan bagi setiap makhluk,” ungkap Mahathera.

Perjalanan spiritual para biksu itu dijadwalkan berakhir di kawasan Candi Sewu, Klaten. Selama enam hari, para biksu berjalan kaki melintasi berbagai kota dengan mengusung tema Walk For Peace sebagai ajakan menjaga perdamaian dan keharmonisan antarsesama.

Ketua Panitia, Sundoko, 58, mengatakan para biksu nantinya akan mengikuti rangkaian ibadah Waisak di Candi Sewu pada 31 Mei 2026. Perjalanan thudong tersebut menyiarkan ajakan toleransi hingga perdamain. 

“Para peserta thudong ini paling jauh dari Papua. Lainnya ada dari Mojokerto, Lampung, Medan, Banyumas, Boyolali. Kendala kami selama ini hanya cuaca yang sangat panas, kami sering beristirahat untuk berteduh,” terangnya. 

Sundoko juga mengaku terkesan dengan sambutan dari masyarakat. Menurutnya, banyak warga, termasuk umat Islam memberikan bantuan berupa makanan, minuman, hingga perlengkapan lain untuk mendukung perjalanan para biksu.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, bersama sejumlah pejabat Pemkot Semarang turut menyambut kedatangan para biksu di Masjid Al-Falah. Agustina juga sempat berbincang dengan para biksu mengenai makna perjalanan Thudong tersebut.

“Ini menjadi berkah untuk Kota Semarang karena sejalan dengan semangat Semarang sebagai kota yang damai. Yang menyambut para biksu Thudong sebagian besar saudara muslim, ini juga singgahnya di masjid,” ungkap Agustina.

Suasana penuh toleransi di Masjid Al-Falah saat menyambut para biksu Thudong membuat Agustina merasa terharu. Ia lantas mendoakan agar perjalanan spiritual tersebut berjalan lancar hingga tujuan akhir dan mampu membawa pesan perdamaian bagi masyarakat luas.

“Kita doakan dan kita hantarkan dengan doa dari seluruh kepercayaan dan agama yang ada di Kota Semarang. Mudah-mudahan para biksu sehat sepanjang perjalanan dan bisa terus menebarkan kedamaian hingga sampai di tempat tujuan,” tandasnya. 

Leave a Reply