Jejak Mbah Kiai Mergo, Pembabat Alas Kampung Sekayu Semarang

Jejak Mbah Kiai Mergo, Pembabat Alas Kampung Sekayu Semarang
Caps: Makam Mbah Kiai Mergo, yang terletak di kawasan Sekayu Kramatjati di Kampung Sekayu di Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (21/2/2026) sore. (Daerah/Adhik Kurniawan).

Nusatime.com, SEMARANG — Kampung Sekayu di Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, bukan sekadar kawasan permukiman tua di sekitar Masjid Taqwa Sekayu. Di balik gang-gangnya yang sempit, tersimpan kisah tokoh lokal yang diyakini menjaga tatanan kampung setelah masa para wali, yakni Mbah Kiai Mergo.

Nama Mbah Kiai Mergo hingga kini masih dikenang sebagai pembabat alas sekaligus sosok yang menata kehidupan masyarakat ketika kawasan tersebut mulai berkembang menjadi permukiman.

Menjelang senja, Sabtu (21/2/2026), Espos menyusuri gang-gang Kampung Sekayu. Perjalanan dimulai dari Masjid Taqwa Sekayu, rumah ibadah tua yang menyimpan jejak panjang perjalanan Islam di pesisir utara Jawa.

Masjid itu berdiri di tengah permukiman yang sebagian rumahnya masih mempertahankan ornamen kayu di bagian atas pintu. Beberapa rumah bahkan masih menyimpan simbol kepangkatan tumenggung-patih, penanda bahwa kampung ini pernah dihuni tokoh-tokoh penting pada masanya.

Dari tempat inilah denyut sejarah Kampung Sekayu bermula.

Dewan Takmir Masjid Sekayu, Achmad Arief, menuturkan kawasan tersebut telah hidup sejak era Wali Songo. Para wali disebut ikut membangun masjid sekaligus membentuk tatanan sosial masyarakatnya.

“Sekayu sampai saat ini bisa bertahan karena para wali yang dulu ikut membangun masjid itu dicontoh oleh lingkungan,” kata Achmad saat menyusuri gang-gang Kampung Sekayu.

Dari pusat ibadah itulah permukiman terus tumbuh perlahan. Orang-orang berdatangan, mendirikan rumah sederhana di sekitar masjid untuk mencari perlindungan sekaligus penghidupan.

Bayangan suasana ratusan tahun lalu seakan muncul: hutan yang mulai dibuka, jalan tanah terbentuk dari pijakan kaki, suara kayu ditebang, hingga azan yang menggema dari bangunan kayu sederhana.

Dalam fase itulah, perlahan muncul sosok-sosok yang hingga kini masih dikenang warga setempat.

“Salah satu yang kemudian muncul adalah tokoh lokal, Mbak Kiai Mergo,” ucapnya.

Achmad meyakini Mbak Kiai Mergo merupakan pembabat alas Kampung Sekayu. Puluhan tahun setelah masjid berdiri dan permukiman mulai padat, tokoh tersebut hadir untuk menata ruang sekaligus kehidupan sosial masyarakat.

“Ketika Masjid Sekayu berkembang, orang-orang datang dan membangun rumah kecil-kecilan seperti rayap. Beliau yang menata,” tuturnya.

Jejak Tokoh Lokal di Sekayu Kramatjati

Sejarah Kampung Sekayu juga berkaitan dengan keberadaan makam para ulama dan tokoh yang berperan dalam pembentukan kawasan tersebut.

Setelah para ulama dan habib di Semarang bermusyawarah mengenai perluasan Masjid Sekayu, area makam para pendiri, ulama, dan auliya yang semula berada di sekitar masjid dipindahkan ke sebelah barat masjid, dekat mimbar.

Di kawasan itu terdapat makam Mbah Kiai Kamal yang dikenal sebagai santri Sunan Gunung Jati. Namun perjalanan kali ini mengarah ke makam Mbah Kiai Mergo yang berada di kawasan Sekayu Kramatjati, wilayah yang dahulu ditata oleh almarhum.

Gang-gang kecil di Sekayu Kramatjati masih menyimpan percakapan warga yang saling menyapa akrab. Kampung ini tidak menampakkan kesan ditinggalkan zaman.

Yang terasa justru keteguhan warga dalam menjaga identitas di tengah perubahan Kota Semarang yang bergerak cepat.

Kini Kampung Sekayu terbagi dalam beberapa wilayah, seperti Sekayu Kramatjati dan Sekayu Tumenggungan. Nama-nama tersebut bukan sekadar penanda wilayah, tetapi jejak sejarah keluarga besar yang pernah membangun kawasan ini.

Setiap simbol di atas pintu rumah seakan menjadi fragmen kisah yang menunggu untuk diceritakan kembali.

Di tengah modernitas Semarang yang terus tumbuh secara vertikal, Kampung Sekayu bertahan dengan cara berbeda—menguatkan relasi antarwarga. Solidaritas menjadi benteng tak kasatmata.

Warga percaya, selama masih ada tokoh panutan dan kepedulian sosial, sejarah kampung tidak akan hilang.

“Lingkungan yang orangnya acuh biasanya mudah berubah. Tapi kalau masih ada tokoh dan kepedulian, itu bisa dipertahankan,” nilainya.

Senja mulai turun ketika langkah kembali menuju pelataran Masjid Taqwa Sekayu. Cahaya lampu temaram memantul di dinding kayu, menghadirkan bayangan yang seolah membawa ingatan pada masa para wali.

Di Kampung Sekayu, perjalanan bukan sekadar menapaki ruang. Lebih dari itu, ia adalah cara menelusuri waktu, mengingat bahwa kota bukan hanya tentang gedung tinggi dan jalan lebar, tetapi juga tentang orang-orang yang menjaga cerita.

Leave a Reply