Nusatime.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) mengedukasi masyarakat agar berbelanja pangan secara bijak tanpa panik menjelang Lebaran 1447 Hijriah guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tengah meningkatnya permintaan.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan Moh. Arief Cahyono mengajak masyarakat tetap tenang dan rasional dalam berbelanja selama Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri.
“Kami mengajak masyarakat agar tetap tenang dan rasional dalam berbelanja pangan selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri,” kata Arief dalam keterangan di Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Edukasi tersebut dilakukan melalui talkshow interaktif Tani On Stage bertajuk Belanja Pangan Tanpa Panik, Belanja Bijak itu Asyik! yang digelar di Kota Depok, Jawa Barat.
Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Arief menjelaskan program sosialisasi tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai berbagai langkah pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan.
Sejumlah upaya yang dilakukan pemerintah antara lain Gerakan Pangan Murah, fasilitasi distribusi pangan, pengawasan kepatuhan terhadap harga eceran tertinggi (HET), serta penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
“Saya berharap masyarakat mendapat pemahaman mengenai Gerakan Pangan Murah sebagai upaya pemerintah menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan,” ujarnya.
Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nita Yulianis juga menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pangan nasional.
Menurutnya, pembelian berlebihan justru dapat mengganggu distribusi di pasar.
“Stok pangan saat ini dalam kondisi cukup sehingga masyarakat tidak perlu panic buying. Membeli berlebihan justru dapat mengganggu distribusi di pasar,” katanya.
Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan Freddy memastikan ketersediaan komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah tetap mencukupi hingga setelah Idul Fitri.
Ia menjelaskan fluktuasi harga yang terjadi lebih banyak dipengaruhi faktor cuaca yang dapat menghambat proses panen dan distribusi.
“Secara produksi sebenarnya tersedia. Tantangannya lebih pada faktor cuaca yang kadang mempengaruhi proses panen,” jelasnya.
Freddy juga mendorong masyarakat mengurangi pemborosan pangan dengan mengolah bahan makanan agar lebih tahan lama, misalnya membuat bumbu dasar atau pasta cabai.
Selain itu, masyarakat dianjurkan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan dapur seperti cabai.
Dari sisi keamanan pangan, praktisi keamanan pangan Risky Aprillian mengingatkan pentingnya perencanaan belanja dan pengelolaan makanan yang baik, terutama untuk produk pangan asal hewan.
Ia menekankan masyarakat perlu memahami konsep ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) dalam memilih pangan agar kualitas dan keamanan konsumsi tetap terjaga.
Sementara itu, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman memastikan stok pangan nasional hingga Maret 2026 berada dalam kondisi aman.
Salah satu komoditas utama, yakni beras, tercatat memiliki cadangan sekitar 3,7 juta ton.
“Insya Allah pangan kita aman. Pemerintah terus menjaga produksi dan distribusi agar kebutuhan masyarakat, khususnya menjelang Idul Fitri tetap terpenuhi,” kata Amran.
Kementan juga menyebutkan saat ini sembilan komoditas pangan strategis telah mencapai swasembada, yaitu beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Leave a Reply