Kurang Cermat Pilih Sekolah, Ratusan Lulusan SD di Sragen Terpental dari SMPN

Kurang Cermat Pilih Sekolah, Ratusan Lulusan SD di Sragen Terpental dari SMPN
Para pegawai Disdikbud Sragen melayani aduan dari calon siswa baru terkait dengan adanya perubahan status PIP di Posko Aduan SPMB Sragen, Kamis (18/6/2026)

Nusatime.com, SRAGEN — Banyak lulusan sekolah dasar (SD) di Kabupaten Sragen yang tidak mendapatkan kursi di sekolah menengah pertama (SMP) negeri karena gagal di semua jalur saat pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru atau SPMB 2026 yang berlangsung pada 24-27 Juni 2026. 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau Disdikbud Sragen siap memfasilitasi para lulusan SD itu untuk mendapatkan sekolah negeri maupun swasta bagi mereka. Para siswa yang terdepak dari SPMB 2026 dan tidak mendapatkan sekolah sesuai harapan mereka tetap dapat bersekolah di SMP negeri yang kuotanya belum penuh atau di sekolah swasta. 

Sejumlah calon siswa yang belum dapat kursi ditemukan di sejumlah SMP negeri perkotaan maupun perdesaan karena kurang cermat dalam pemilihan jalur SPMB. Kabid Pembinaan SMP Disdikbud Sragen, Muh Farid Wajdi, saat ditemui Espos di Kantor Disdikbud Sragen, Senin (29/6/2026), mengungkapkan total jumlah pendaftar SMP pada SPMB 2026 yang berasal dari Sragen sebanyak 9.068 anak.

Sedangkan yang berasal dari luar Sragen ada 435 anak. Total pendaftar ada 9.503 anak. Padahal jumlah daya tampung di 49 SMP negeri di Sragen mencapai 9.792 siswa.

Farid, sapaan akrabnya, menyebut jumlah pendaftar SPMB 2026 yang diterima di SMP negeri terdiri atas jalur afirmasi 2.586 anak; jalur domisili 4.050 anak; jalur prestasi ada 2.612 anak; dan jalur mutasi orang tua ada 18 anak.

Total siswa yang diterima ada 9.266 orang sehingga ada selisih 237 orang bila dibandingkan dengan jumlah pendaftar. Dia menjelaskan kemungkinan besar banyak siswa yang sekadar membuat akun tetapi tidak melanjutkan pendaftaran karena pendaftar dari luar Sragen mencapai 435 orang.

Dia menyampaikan dari semua pendaftar itu ternyata juga ada yang tidak diterima di SMP negeri dari jalur mana pun karena kurang cermat dalam pemilihan jalur pendaftaran. Bagi para siswa yang tidak mendapat sekolah akan difasilitasi Disdikbud Sragen untuk mendapat sekolah yang paling dekat dengan rumah.

Dia berpendapat banyaknya calon siswa yang tidak masuk SMP negeri itu disebabkan banyak faktor, salah satunya terburu-buru dalam menentukan pilihan jalur pendaftaran dan kurang cermat dalam Keputusan pindah jalur pendaftaran.

Pengumuman SPMB

“Kesempatan pindah jalur itu hanya sekali setiap calon siswa. Ada kasus, seorang calon siswa awalnya mendaftar lewat jalur prestasi di awal-awal masa pendaftaran. Setelah melihat jurnal, si anak optimistis bisa diterima di jalur prestasi. Padahal kalau mau ke jalur domisili sebenarnya bisa ke SMP negeri terdekat,” jelas Farid.

“Seiring berjalannya waktu ternyata nilainya tergeser terus ke bawah. Sebelum terdepak punya rencana pindah jalur ke sekolah lainnya. Ternyata juga tidak memiliki kesempatan diterima. Akhirnya si calon siswa tak dapat sekolah negeri,” lanjutnya.

Dia mengatakan gara-gara ingin masuk ke SMP negeri yang dianggap favorit ternyata mengabaikan SMP negeri lainnya yang lebih dekat secara domisili. Farid menemukan di SMPN 3 Sragen ada satu anak yang tidak dapat sekolah.

Di SMPN 2 Sragen juga ada satu anak, di SMPN 4 Sragen ada tiga orang siswa yang tidak mendapat sekolah. Farid belum memetakan per sekolah sehingga belum mengetahui angka pasti jumlah calon siswa yang belum mendapat sekolah.

“Hari ini merupakan masa analisis hingga Selasa besok. Ada beberapa siswa yang datang ke Disdikbud yang minta bantuan karena tidak mendapat sekolah. Kami nantinya akan mengarahkan ke SMP negeri yang masih kekurangan siswa, tetapi jaraknya biasanya lebih jauh. Atau dapat diarahkan ke sekolah swasta terdekat,” jelas dia.

Farid menyampaikan beberapa SMP negeri yang kuotanya belum terpenuhi juga cukup banyak tetapi datanya belum direkap, seperti di sekolah-sekolah dengan label angka dua atau di SMP Satu Atap (Satap). Dia menyatakan saat pengumuman hasil SPMB pada 1 Juli 2026 nanti akan terlihat jumlah SMP yang kekuarangan siswa. 

“Secara umum pelaksanaan SPMB 2026 ini lancar. Beberapa aduan yang muncul terhitung masih masalah klasik, yaitu tidak bisa buat akun, titik koordinat berbeda, dan lainnya. Semua itu sebenarnya karena ketidaktahuan orang tua siswa,” jelas Farid.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMPN 3 Gemolong, Sragen, Johan Wahyudi, menyampaikan sejumlah SMP negeri di Gemolong mengalami overload pendaftar. Menurut Johan, banyaknya kelebihan pendaftar otomatis banyak siswa yang sekolah di sekolah swasta. “Dari hasil monitoring ada calon siswa yang penting bisa sekolah di Gemolong, meskipun di sekolah swasta,” jelas dia.

Johan berpendapat persaingan untuk mendapatkan SMP negeri di Gemolong cukup ketat sedangkan kuota terbatas. “Peminat SMP negeri di Gemolong luar biasa. Banyak calon siswa dari luar Sragen yang ikut masuk berkompetisi di Gemolong. Sayangnya domisili jauh dan prestasi biasa-biasa saja,” kata dia.  

Leave a Reply