Tangis Haru Pecah di Sekolah Rakyat Sragen, Orang Tua Titip Masa Depan Anak

Tangis Haru Pecah di Sekolah Rakyat Sragen, Orang Tua Titip Masa Depan Anak
Tiga orang tua memeluk anaknya saat berada di panggung Open House dan MPLS di SRT 1 Sragen yang dihadiri Menteri Sosial Gus Ipul, Selasa (14/7/2026)

Nusatime.com, SRAGEN — Suasana Aula Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Sragen mendadak hening ketika tiga orang ibu dipanggil naik ke panggung dalam kegiatan Open House dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Selasa (14/7/2026).

Di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Bupati Sragen Sigit Pamungkas, serta ratusan tamu undangan, para ibu memeluk erat anak-anak mereka. Isak tangis pun pecah ketika mereka diminta menyampaikan harapan bagi masa depan buah hati yang kini berkesempatan mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat.

Bagi mereka, kesempatan itu bukan sekadar memperoleh bangku sekolah, melainkan harapan agar anak-anak memiliki kehidupan yang lebih baik daripada orang tuanya.

Salah satu yang tak kuasa menahan haru adalah Murni, 39, warga Desa Genengduwur, Kecamatan Gemolong. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani sekaligus mencari barang bekas itu memeluk putrinya, Septiana Selfi Safira, siswa baru jenjang SMP di SRT 1 Sragen.

Di hadapan Gus Ipul, Murni menyampaikan harapan sederhana namun begitu dalam.

“Mugi-mugi Septiana pinter, Pak. Uripe luwih apik. Kula pun boten saget nyambut damel, boten saget nyekolahke, Pak. Matur nuwun kepada Pak Prabowo. Mugi-mugi mboten kados kulo.”

Ucapan itu sontak membuat suasana aula hening. Sejumlah orang tua terlihat mengusap air mata, sementara tepuk tangan bergema dari para tamu yang hadir.

Berharap Anak Punya Kehidupan Lebih Baik

Murni berharap putrinya tumbuh menjadi anak yang rajin beribadah, jujur, berbakti kepada orang tua, serta mampu menggapai cita-citanya menjadi guru matematika.

Selama ini keluarganya hidup dalam keterbatasan. Ia mengaku belum memiliki rumah sendiri dan menumpang di rumah kerabat. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Murni mencari barang bekas, sedangkan suaminya bekerja sebagai buruh bangunan dan buruh tebang tebu.

Meski hidup serba terbatas, Septiana dikenal sebagai siswa berprestasi yang kerap meraih peringkat pertama di kelas.

Gus Ipul menegaskan Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Ia juga memastikan seluruh layanan pendidikan diberikan tanpa pungutan.

“Tidak boleh ada yang membayar sepeser pun di Sekolah Rakyat. Tidak boleh ada yang bermain-main dengan program ini. Siapa pun yang terbukti menyalahgunakan akan diberi sanksi,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Ipul juga menceritakan kisah kakak beradik Al Jabar dan Al Fatih yang sebelumnya belum pernah mengenyam pendidikan sebelum akhirnya dijangkau melalui program Sekolah Rakyat.

Selain memperoleh pendidikan formal, para siswa juga akan mengikuti pemetaan minat dan bakat menggunakan teknologi DNA Talent berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikenalkan oleh Ari Ginanjar.

Menurut Gus Ipul, pemetaan tersebut diharapkan membantu siswa mengenali potensi sejak dini sehingga dapat diarahkan sesuai kemampuan masing-masing.

“Kalau burung jangan disuruh tarik gerobak. Kalau sapi jangan disuruh terbang. Anak-anak memiliki potensi yang berbeda. Kami ingin mengetahui bakat mereka sejak dini agar berkembang sesuai kemampuannya,” ujarnya.

Di penghujung acara, Septiana, Aliya, Ibnu Majid, dan ratusan siswa lain meninggalkan aula dengan seragam baru yang masih rapi dikenakan.

Sementara itu, air mata para orang tua perlahan mengering. Di balik pelukan terakhir sebelum anak-anak memasuki kehidupan berasrama, tersimpan harapan yang sama: agar pendidikan menjadi jalan memutus rantai kemiskinan dan membuka masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka.

Leave a Reply