Magnet Investasi, Harga Tanah di Lokasi Strategis Colomadu sampai Rp17 Juta/M2

Magnet Investasi, Harga Tanah di Lokasi Strategis Colomadu sampai Rp17 Juta/M2
Kendaraan melintas di Jl Adisucipto, Colomadu, Karanganyar, beberapa waktu lalu. (Dok Daerah)

Nusatime.com, KARANGANYAR — Camat Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Sriono Budi Santoso, mengungkapkan harga tanah di lokasi strategis wilayahnya berkisar mulai Rp15 juta hingga Rp17 juta per meter persegi (m2). Angka itu naik dibandingkan beberapa tahun lalu yang di kisaran Rp10 juta hingga Rp13 juta per m2.

Hal itu disebut tidak lepas dari posisi Kecamatan Colomadu yang kian kuat menjadi magnet investasi dan pengembangan kawasan penyangga Kota Solo. Tingginya minat masyarakat untuk bermukim maupun berinvestasi membuat harga tanah di sejumlah wilayah Colomadu terus merangkak naik dalam beberapa tahun terakhir.

Sriono mengungkapkan harga tanah di kawasan-kawasan strategis Colomadu saat ini telah mencapai kisaran Rp15 juta hingga Rp17 juta per meter persegi. “Kalau dulu sekitar Rp10-Rp13 juta per meter persegi. Sekarang kelihatannya sudah naik lagi menjadi kisaran Rp15 juta sampai Rp17 juta per meter persegi,” katanya saat berbincang dengan Espos, Senin (1/6/2026).

Menurutnya, kenaikan harga tanah di Colomadu tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejumlah faktor mendukung meningkatnya nilai lahan di wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Solo tersebut.

Selain kedekatan geografis dengan Solo, Colomadu dinilai memiliki aksesibilitas yang baik menuju berbagai pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, maupun bandara. Ketersediaan air yang relatif memadai serta kondisi wilayah yang minim banjir juga menjadi daya tarik tersendiri bagi investor maupun masyarakat yang ingin menetap.

“Potensinya besar karena dekat Solo. Akses ke mana-mana mudah. Air juga tidak ada masalah. Kemudian sementara ini tidak ada banjir. Kalau ada genangan saat hujan deras, biasanya hanya sementara dan tidak lama sudah surut,” ujarnya.

Masalah Drainase

Meski demikian, ia mengakui pesatnya pembangunan di Colomadu juga membawa konsekuensi terhadap sistem drainase. Banyaknya pembangunan perumahan dan bangunan komersial membuat sejumlah saluran air mengalami penyempitan atau bahkan tertutup.

“Kadang-kadang ada genangan karena sekarang bangunan semakin banyak. Ada saluran yang terhambat, ada yang tertutup. Tetapi biasanya tidak berlangsung lama,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan kenaikan harga tanah paling signifikan terjadi di wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Solo. Kawasan seperti Malangjiwan, Baturan, dan Klodran menjadi lokasi yang paling banyak diburu investor maupun masyarakat.

“Yang paling terasa kenaikannya terutama di Malangjiwan. Kemudian Baturan karena sangat dekat dengan Kota Solo. Klodran juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan,” jelasnya.

Sementara itu, sejumlah wilayah lain seperti Ngasem, Gawanan, Gedongan dan lainnya  juga mengalami kenaikan harga tanah meskipun tidak setinggi kawasan yang berada di koridor utama perbatasan Solo.

Menurutnya, perkembangan Colomadu, Karanganyar, saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh pertumbuhan Kota Solo, tetapi juga oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap kawasan hunian yang lebih nyaman dengan akses yang tetap mudah ke pusat kota.

Paulan Diincar untuk Hunian

Salah satu wilayah yang mulai banyak dilirik masyarakat adalah Desa Paulan. Ia menilai desa tersebut kini menjadi salah satu tujuan utama masyarakat yang ingin membeli rumah maupun berinvestasi properti.

“Paulan sekarang menjadi jujugan banyak orang yang ingin investasi dan tinggal. Kelihatannya masyarakat menganggap kawasan itu lebih nyaman untuk hunian,” ujarnya.

Ia menilai salah satu faktor yang membuat Paulan diminati adalah akses jalan yang baik serta lingkungan yang relatif tenang dibanding kawasan yang sudah lebih padat. Selain sektor perumahan, pertumbuhan investasi usaha juga terus meningkat di sepanjang koridor Jl Adi Sumarmo.

Kawasan tersebut menjadi salah satu titik perkembangan ekonomi baru di Colomadu. Namun demikian, tingginya minat investor mulai berhadapan dengan keterbatasan lahan yang tersedia. “Di [Jl] Adi Sumarmo sekarang banyak yang ingin berinvestasi. Tetapi memang semakin sulit mencari lahan yang tersedia,” ujarnya.

Sebagian lahan potensial di kawasan tersebut masih berstatus aset desa sehingga proses pemanfaatannya memerlukan tahapan administrasi dan regulasi yang lebih panjang. Tren usaha yang berkembang saat ini didominasi sektor kuliner dan tempat nongkrong.

Sejumlah kafe baru bermunculan mengikuti meningkatnya aktivitas ekonomi dan pertumbuhan kawasan perumahan. “Banyak yang bergerak di sektor kafe dan kuliner. Itu yang paling terlihat sekarang,” katanya.

Keluhan soal Kebisingan

Di balik pesatnya pertumbuhan usaha kuliner, pemerintah kecamatan juga menerima sejumlah keluhan dari warga perumahan yang berada di sekitar lokasi usaha. Keluhan yang paling sering disampaikan berkaitan dengan kebisingan akibat musik serta aktivitas pengunjung pada malam hari.

“Kami beberapa kali menerima aduan dari masyarakat terkait polusi suara. Biasanya karena ada hiburan musik atau aktivitas usaha yang berdekatan dengan perumahan,” ujarnya.

Pemerintah kecamatan berupaya memediasi kedua pihak agar aktivitas usaha tetap berjalan tanpa mengganggu kenyamanan warga. “Investasi harus tetap jalan, tetapi warga juga harus nyaman. Kami pertemukan kedua belah pihak agar ada komunikasi dan solusi bersama,” katanya.

Selain kebisingan, persoalan sampah juga menjadi perhatian seiring bertambahnya aktivitas ekonomi di wilayah Colomadu. Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kecamatan Colomadu tengah menyiapkan konsep pengelolaan sampah mandiri.

Seluruh kepala desa dijadwalkan melakukan studi tiru ke Kabupaten Magelang guna mempelajari sistem pengelolaan sampah yang telah berjalan. “Rencananya kami studi tiru ke Magelang bersama seluruh kepala desa. Harapannya ke depan Colomadu bisa mengelola sampah sendiri,” katanya.

Ia berharap sistem tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukosari sekaligus menjadi model pengelolaan sampah mandiri bagi wilayah lain di Kabupaten Karanganyar. “Kalau berhasil, mudah-mudahan bisa menjadi percontohan bagi kecamatan lain,” ujarnya.

Leave a Reply