Nusatime.com, SUKOHARJO — Siswa sekolah rakyat yang kedapatan melakukan perundungan atau bullying dan kekerasan bakal langsung diberhentikan tanpa melalui peringatan (warning). Pengawasan aktivitas para siswa dilakukan melalui kamera CCTV yang dipasang di sejumlah lokasi.
Hal ini diungkapkan Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, saat membuka kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sukoharjo, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Gus Ipul, para siswa dilarang keras melakukan kekerasan dan perundungan di area sekolah. “Siswa yang terbukti melakukan kekerasan dan perundungan langsung diberhentikan, tidak lagi diberi peringatan,” ujar dia.
Upaya pencegahan atau preventif dilakukan merujuk buku panduan penyelenggaraan sekolah rakyat. Para tenaga pendidik bakal mengikuti pelatihan-pelatihan pencegahan perundungan dan kekerasan di lingkungan sekolah.
Selain itu, fungsi kamera CCTV yang dipasang di sejumlah lokasi bakal dioptimalkan untuk mengawasi aktivitas para siswa sekolah rakyat. “Ada buku panduan penyelenggaraan sekolah rakyat. Itu jadi acuan dalam upaya pencegahan atau preventif kekerasan atau perundungan,” ujar dia.
Menurut Gus Ipul, program sekolah rakyat dirancang menghadirkan persamaan dalam mengakses layanan pendidikan khususnya bagi siswa dari kalangan warga miskin. Target sasaran sekolah rakyat adalah anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem agar mereka mendapatkan layanan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berkeadilan.
Total jumlah siswa sekolah rakyat yang tersebar di Tanah Air ditargetkan terus bertambah hingga 500.000 orang. “Tahun ini, alokasi siswa ditambah 45.000 siswa. Tahun depan, nanti ditambah lagi 200.000 siswa. Nah, pada 2029 ditargetkan jumlah siswa sekolah rakyat lebih dari 500.000 siswa,” papar dia.

Leave a Reply