Nusatime.com, DEMAK — Nama Jembatan Genderuwo di Desa Banjarsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, mungkin terdengar menyeramkan. Di balik nama tersebut, tersimpan kisah panjang tentang kepercayaan warga dan perjuangan membangun akses vital yang selama puluhan tahun dianggap “mustahil” terwujud karena gangguan mistis.
Jembatan yang menjadi penghubung utama warga Dukuh Dombo menuju pusat desa ini dulunya hanya berupa susunan papan kayu tanpa penyangga. Baru pada Juni 2025 lalu, jembatan permanen yang kokoh akhirnya berdiri tegak.
Kepala Desa Banjarsari, Hariyanto, mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan ini baru berhasil di masa kepemimpinannya sebagai kades generasi ke-9. Delapan kepala desa sebelumnya selalu menemui kegagalan saat mencoba membangun akses tersebut.
“Jembatan ini akses utama pendidikan dan ekonomi warga. Sebelumnya, delapan kades gagal membangun karena mengalami gangguan non-teknis,” tutur Hariyanto saat ditemui Espos di Kota Semarang, Kamis (12/3/2026).
Gangguan Alat Berat hingga Kecelakaan Kerja
Nama “Genderuwo” muncul karena cerita turun-temurun tentang sosok gaib penghuni sungai yang kerap mengganggu pengendara. Upaya pembangunan di masa lalu sering kali terhenti karena hal-hal di luar nalar, mulai dari alat berat yang mendadak rusak hingga pekerja yang mengalami kecelakaan kerja tanpa sebab yang jelas.
Hariyanto awalnya mengaku tidak percaya dengan hal-hal mistis tersebut. Namun, setelah menjabat, ia merasa perlu melakukan pendekatan yang berbeda.
“Ada semacam komunikasi secara spiritual. Konon, kalau kades mau membangun, penunggunya meminta sesuatu. Saya merasa desa ini dititipkan kepada kita,” ujarnya.
Kearifan Lokal Sesaji Dawet Ganjil
Berbekal dana Rp1 miliar dari Pemkab Demak, Hariyanto menyiapkan strategi teknis dan non-teknis. Selain melebarkan jalan untuk alat berat, ia juga menjalankan ritual adat sebagai bentuk izin kepada “penghuni” setempat.
Uniknya, syarat yang diminta adalah menyajikan dawet Banjarnegara dalam jumlah ganjil. “Waktu itu diminta menyediakan sembilan gelas dawet. Setelah proses itu dilakukan, pembangunan berjalan lancar tanpa hambatan,” tambah Hariyanto.
Kini, jembatan sepanjang 35 meter itu berdiri kokoh dengan beton bertulang. Tradisi menyediakan dawet pun kini menjadi kearifan lokal baru bagi warga Banjarsari saat hendak membangun infrastruktur di desa tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Leave a Reply