Mitos Permen Karet Menetap di Perut hingga Lepaskan Mikroplastik, Ini Kata Ahli

Mitos Permen Karet Menetap di Perut hingga Lepaskan Mikroplastik, Ini Kata Ahli
Seorang perempuan membuat gelembung dengan permen karet. (Ilustrasi AI-ChatGPT)

Nusatime.com, JAKARTA — Sejumlah mitos berkembang terkait permen karet yang tertelan, mulai dari menetap di dalam perut selama bertahun-tahun hingga mengeluarkan mikroplastik yang membahayakan. Namun, mitos tersebut dipatahkan oleh penjelasan ahli.

Dokter ahli gastroenterologi, Dr Vishal Seth, membantah kepercayaan bahwa permen karet akan tetap berada di perut selama bertahun-tahun atau menyebabkan masalah lambung serius jika tertelan. ​​​​

“Orang-orang tidak perlu khawatir dan jangan tegang, karena permen karet yang tertelan tidak akan tinggal di perut selama bertahun-tahun,” kata dokter dari Rumah Sakit Apollo Spectra di India itu sebagaimana diberitakan Antara, belum lama ini.

Ia menyampaikan permen karet memang tidak mudah dicerna seperti makanan biasa, tetapi tidak akan bertahan di dalam tubuh selama bertahun-tahun. Menurut dia, permen karet tetap melewati saluran pencernaan seperti makanan lainnya, tetapi tidak dapat dicerna seperti makanan.

Dari lambung, permen karet akan menuju ke usus dan bergerak bersama sisa makanan lainnya serta dikeluarkan bersama feses. Dr Seth mengatakan permen karet yang tertelan akan keluar bersama feses dalam waktu empat sampai lima hari. “Tubuh tidak akan menyimpannya selama bertahun-tahun sama sekali,” ucapnya.

Ia juga memastikan permen karet tidak akan menempel pada organ tubuh seperti usus atau lapisan lambung. “Permen karet tidak akan meningkatkan kemungkinan gejala seperti sakit perut, rasa berat, gangguan pencernaan, muntah, mual, atau sembelit, atau memengaruhi kesehatan secara keseluruhan,” ia menjelaskan.

Permen Karet Keluarkan Mikroplastik

Sementara itu mitos lain yakni permen karet disebut mengeluarkan mikroplastik. Menurut siaran Health yang dipublikasikan pada 31 Maret 2025, hasil penelitian baru menunjukkan permen karet melepaskan partikel plastik kecil.

Hasil penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan musim semi American Chemical Society (ACS) pada Maret 2025 menunjukkan mengunyah permen karet dapat melepaskan ratusan mikroplastik ke dalam air liur.

Penelitian yang hasilnya belum ditinjau oleh sejawat itu juga menunjukkan permen karet sintetis maupun alami melepaskan mikroplastik dalam jumlah yang hampir sama ketika dikunyah. 

Mikroplastik adalah potongan-potongan kecil polimer yang tidak dapat terurai dan dapat terakumulasi dalam aliran darah dan organ tubuh ketika terhirup atau tertelan. Mengingat banyaknya makalah yang muncul tentang bagaimana mikroplastik merembes keluar dari produk konsumen, Lisa Lowe, seorang penulis studi dan mahasiswa PhD di University of California, Los Angeles, bersama timnya ingin mengidentifikasi sumber potensial mikroplastik lain seperti permen karet.

Para peneliti memutuskan untuk menguji 10 permen karet populer yang terdiri atas lima permen karet alami dan lima permen karet sintetis yang dijual di Amerika Serikat. Mereka meminta sekelompok peserta untuk berkumur tiga hingga lima kali menggunakan air deionisasi untuk menentukan jumlah mikroplastik di mulut mereka pada awal percobaan.

Peserta penelitian kemudian diminta mengunyah setiap jenis permen karet selama empat menit dan beberapa peserta selama 20 menit tambahan, sementara para peneliti mengumpulkan sampel air liur mereka.

Setelah memeriksa sampel di bawah mikroskop, para peneliti menemukan satu gram permen karet dapat melepaskan hingga 637 mikroplastik. Menariknya, permen karet sintetis dan alami melepaskan jumlah mikroplastik yang sama.

Sepotong permen karet biasanya berbobot antara dua dan enam gram. Jika seseorang mengunyah 160-180 potong permen karet dalam setahun, secara teoritis dia akan menelan sekitar 30.000 mikroplastik setiap tahun menurut para peneliti.

Tim peneliti mendapati 94 persen mikroplastik dilepaskan selama delapan menit pertama mengunyah dan setelah titik itu jumlah mikroplastik yang dilepaskan berkurang sampai akhirnya mencapai titik jenuh dalam waktu 20 menit.​​​​​​​

Dampak Mikroplastik

Sanjay Mohanty, PhD, profesor teknik di University of California yang menjadi peneliti utama dalam proyek tersebut, menyampaikan sebagian besar penelitian tentang mikroplastik dalam makanan fokus pada kandungan mikroplastik pada kemasan atau proses pembuatan yang membuat produk tercemar mikroplastik.

Namun, tidak demikian kasusnya dengan permen karet. “Pada permen karet, makanannya adalah plastiknya,” kata Mohanty kepada Health. Polimer memberikan elastisitas, kekompakan, dan daya kunyah pada permen karet.

Pada permen karet alami yang sebagian besar bahannya dari tanaman, poliolefin–jenis polimer yang biasanya digunakan dalam kemasan makanan– mencakup hingga 50 persen dari partikel yang teridentifikasi.

Sedangkan permen karet sintetis mengandung polimer PET dan polistirena dalam kadar tinggi bersama dengan zat petrokimia seperti karet sintetis dan polivinil asetat. Mohanty menyampaikan paparan mikroplastik dari permen karet tergolong sangat kecil dibandingkan dengan produk seperti kantong teh.

​​​​​​​Lisa Patel, MD, profesor klinis pediatri di Stanford Medicine, mengatakan mikroplastik pada dasarnya dapat memicu peradangan dan kerusakan sel-sel sehat di dalam tubuh. Hasil penelitian menunjukkan mikroplastik dapat merusak DNA serta menyebabkan stres oksidatif, gangguan metabolisme, dan disfungsi organ.

Akumulasi mikroplastik di dalam usus dapat meningkatkan risiko penyakit radang usus dan keberadaan mikroplastik dalam aliran darah dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi.

Patel menambahkan partikel plastik kecil juga dapat menyebabkan penurunan kesuburan, neurotoksisitas, dan masalah metabolisme seperti resistensi insulin. Jadi, meski paparan mikroplastik dari permen karet tergolong kecil, membatasi mengunyah permen karet bukan gagasan yang buruk. Patel mengatakan secara umum membatasi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari lebih baik untuk semua.​​​​​​​

Leave a Reply