Nusatime.com, SOLO — Pemkot Solo memiliki pekerjaan rumah atau PR yakni masih adanya 154 guru nonaparatur sipil negara (ASN) sementara guru ASN yang pensiun 2026 mencapai 250 orang. Pemkot Solo berharap pemerintah memberikan jaminan ketersediaan guru yang berkompeten.
Sebelumnya, ada Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026 tentang Penugasan Guru Nonaparatur Sipil Negara (ASN) pada Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah. SE itu membuat status kerja guru honorer terancam diberhentikan pada 2027.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo, Dwi Ariyatno, menjelaskan Pemkot Solo masih menunggu arahan dari pimpinan mengenai kebijakan guru non-ASN karena berkaitan dengan perencanaan, pembiayaan, dan penganggaran 2027.
“Kebutuhan guru itu sesuai kemampuan teknis untuk melakukan proses pembelajaran didukung dengan kualifikasi pendidikan dan sertifikat profesi keahlian yang itu nanti bisa kami tugaskan untuk mengajar,” jelas dia kepada wartawan di Graha Wisata Niaga, Solo, Selasa (12/5/2026).
“Jadi, deskripsi guru itu seperti itu. Terkait dengan statusnya memang kalau merujuk pada ketentuan Undang-Undang ASN itu harapannya di seluruh negeri semuanya diampu oleh para pendidik dari ASN baik PNS maupun PPPK. Tetapi faktanya bahwa sampai dengan saat ini kita masih ada kekosongan,” tambahnya.
Menurut dia, ada 154 guru non-ASN yang bertugas mengisi kekosongan kebutuhan guru di Solo. Mereka memiliki perjanjian kerja dengan Pemkot Solo dengan berbagai skema berupa PPPK paruh waktu dan honorer daerah.
“Ada 154 non-ASN guru yang secara nyata sudah sampai saat ini masih menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik. Dia berarti ada di dalam kelas, di depan para siswa, mendampingi di dalam proses pendidikannya,” ungkap dia.
Pengganti Guru Pensiun
Selain itu, kata dia, ada 250 orang guru ASN yang pensiun di Solo pada tahun ini. Mereka yang pensiun harus ada penggantinya sehingga Solo memiliki PR 154 guru non-ASN dan 250 guru yang segera pensiun atau total 404 guru.
“Tetapi kalau kemudian 404 ya dari mulai saat ini yang 154 guru non-ASN ditambah dengan yang nanti akan pensiun 250 guru itu tidak ada penggantinya, tidak ada kebijakan untuk penambahan ASN,” ungkap dia.
“Ya, daripada sekolah kosong, murid enggak ada yang mendampingi pembelajaran, dan mereka kehilangan hak belajarnya, saya tetap akan mendukung supaya prosesnya guru non-ASN tetap diberikan kesempatan,” kata dia.
Dia menjelaskan 154 guru non-ASN itu bertugas di beberapa jenjang sekolah mulai dari PAUD sampai SMP. Mereka direkrut tiga tahun lalu. Para guru itu berusia rata-rata 30 tahun.
“Kalau kemudian itu diberikan kesempatan untuk apakah melalui seleksi ASN atau melalui proses CAT atau melalui apa pun itu pada prinsipnya kami enggak ada masalah. Yang penting itu ada jaminan bahwa 154 orang plus dengan 250 kebutuhan guru yang sampai dengan Desember 2026 kami ini harus diisi. Apakah dalam skema ASN, apakah dalam skema yang non-ASN,” ungkap Dwi.
Dwi mengatakan Pemkot Solo berharap agar pemerintah pusat memberikan jaminan pendidikan yang telah berjalan dengan ketersediaan SDM yang sesuai kompetensi dan kualifikasi.

Leave a Reply