Profil Eko Pece Supriyanto, Koreografer World Tour Madonna yang Jadi Guru Besar

Profil Eko Pece Supriyanto, Koreografer World Tour Madonna yang Jadi Guru Besar
Eko Supriyanto atau yang akrab disapa Eko Pece (kanan) menerima surat keputusan pengukuhan sebagai Guru Besar bidang Kepakaran Koreografi dari Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Bondet Wrahatnala, dalam sidang senat akademik di Pendapa Joyokusumo kampus setempat, Rabu (28/10/2026) malam. (Istimewa)

Nusatime.com, SOLO — Eko Supriyanto atau yang akrab disapa Eko Pece resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Kepakaran Koreografi di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Rabu (28/10/2026) malam.

Dalam perjalanan kariernya, Eko dikenal sebagai akademisi sekaligus praktisi seni pertunjukan yang aktif di kancah nasional maupun internasional. Selain mengajar, ia juga aktif sebagai penari dan koreografer.

Eko lahir di Banjarmasin pada 26 November 1970, tetapi menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Magelang.

Ia berdomisili di Kota Solo bersama istrinya, Astri Kusumawardhani, yang juga bergelar magister seni, serta dua anak mereka, Candra Surya Vimala Prabasri dan Lintang Hine Puko Atahua.

Meskipun telah berkiprah di berbagai panggung dunia, Eko mengatakan fondasi keseniannya justru berakar pada tradisi lokal di kampung halamannya.

“Saya tumbuh di Magelang, belajar melalui tari Jawa, silat, Jatilan, dan kehidupan kampung. Perjalanan membawa saya ke Surakarta, Los Angeles, panggung dunia, laut Jailolo, perbatasan Belu, perairan Kaimana, lalu kembali ke ladang Bandungrejo,” katanya saat menyampaikan orasi ilmiah, Rabu.

Bagi Eko, setiap tempat membuatnya berkembang dan memperluas perspektif terhadap kesenian.

“Setiap tempat mengubah cara saya bertanya. Tubuh yang pulang membawa sesuatu yang tidak ada ketika ia berangkat,” lanjutnya.

Pendidikan dan Karier Akademik

Eko menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Magelang, yakni di SD Muhammadiyah 1 pada 1983, SMP Negeri 10 pada 1986, dan SMEA Negeri Magelang pada 1989. Ia kemudian meraih gelar Sarjana Seni dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) pada 1997, yang kini bernama ISI Surakarta.

Eko melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan meraih gelar Master of Fine Arts dari Department of World Arts and Culture, University of California, Los Angeles (UCLA), pada 2001.

Ia juga menuntaskan dua program doktoral, yakni Kajian Seni Rupa dan Seni Pertunjukan di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2015, disusul program Penciptaan Seni di ISI Surakarta pada 2018.

Di bidang akademik, Eko mulai mengabdi sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) di ISI Surakarta pada 1 Desember 2000. Jabatan fungsionalnya meningkat secara bertahap, mulai dari Asisten Ahli pada 2005, Lektor pada 2018, Lektor Kepala pada 2021, hingga resmi menduduki jabatan profesor atau guru besar mulai 1 Oktober 2026.

Di lingkungan akademik internasional, Eko pernah menjadi College Visiting Artist di University of Minnesota, Amerika Serikat, pada 2017.

Eko juga menduduki sejumlah posisi manajerial. Ia pernah menjabat Kepala Pusat Studi Kawasan dan Pengembangan Inovasi Seni ISI Surakarta pada 2019, Ketua Asosiasi Pencipta Seni Indonesia sejak 2020, serta Ketua Program Studi Koreografi Inkuiri pada 2024-2025.

Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Direktur Program Pascasarjana ISI Surakarta untuk periode 2025-2029.

Karya Internasional

Kiprah internasional Eko Pece mulai mendapat sorotan luas pada 2001 ketika ia terpilih menjadi penari dalam Drowned World Tour milik penyanyi Madonna.

Pada periode yang sama, ia menjadi konsultan tari Jawa untuk teater musikal The Lion King di Broadway, New York, dan Los Angeles.

Karya-karya koreografinya rutin mengisi berbagai festival panggung internasional, di antaranya Cry Jailolo, Balabala, dan SALT. Ia juga mementaskan karya Ibu-ibu Belu pada 2020, Ari-ari di Taiwan International Festival of Art pada 2022, serta KSCK di Kuala Lumpur pada 2024.

Di tingkat nasional, Eko kerap dipercaya menangani acara kenegaraan dan ajang olahraga berskala besar.

Ia bertindak sebagai koreografer pembukaan dan penutupan Asian Games 2018, Direktur Kreatif PON XX Papua 2021, serta koreografer National Day Republik Indonesia dalam Expo 2020 Dubai.

Pada 2022, Eko menangani acara Java in Paris, perjamuan presidensial KTT G20 di Bali, hingga Asian Para Games di Surakarta. Keterlibatannya berlanjut sebagai koreografer dalam KTT ASEAN di Labuan Bajo pada 2023 dan World Water Forum ke-10 di Bali pada 2024.

Di luar panggung, hasil riset dan pemikiran Eko didokumentasikan dalam berbagai publikasi akademik. Beberapa di antaranya adalah buku Ikat Kait Impulsif Sarira: Gagasan Mewujud Era 1990-2010 (2018), monograf Koreografi Konseptual (2024), dan Jejak Garam di Kulit Gunung: Ekodramaturgi Eko (2026).

Ia juga tercatat aktif melakukan riset pengembangan seni berbasis komunitas, seperti riset Tari Likok Pulo di Aceh dan pengembangan Festival Fulan Fehan di Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Leave a Reply