Nusatime.com, SOLO — Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Bhimo Rizky Samudro, menilai setidaknya ada tiga dampak dari penutupan Pusat Grosir Solo (PGS) secara permanen pada tahun ini. Dampak tersebut mulai dari nasib pedagang hingga perombakan rantai pasok.
Menurut Bhimo, punutupan PGS sudah pasti berdampak. Terlebih PGS sudah menjadi ikon dan roda penggerak ekonomi di Kota Bengawan yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Ia mengatakan selama ini, PGS menjadi pusat produk konfeksi, kain, dan berbagai produk tradisional khas Solo. Ia pun menyayangkan PGS harus tutup karena masalah investasi dan pendanaan.
“Kemarin memang ada problem berkaitan dengan investasi. Sistem pendukung untuk pendanaan guna menopang pusat grosir ini menjadi tidak sekuat dulu dan tidak berkelanjutan [sustain], sehingga terpaksa ditutup,” kata Bhimo kepada Espos, Rabu (12/8/2026).
Lebih jauh, Bhimo menilai setidaknya ada tiga dampak terkait penutupan Pusat Grosir Solo bagi ekosistem ekonomi di Solo. Dampak pertama dirasakan langsung oleh para pedagang yang kini harus pindah lokasi usaha.
Ia menjelaskan para pedagang yang sudah sejak lama terbiasa dengan PGS, terpaksa memulai dari awal untuk mencari tempat baru dan merombak strategi bisnis mereka.
”Pedagang ini sebenarnya sudah punya rekanan, mitra, dan langganan. Ketika direlokasi dan harus pindah tempat, mereka dituntut memutar otak dan membangun strategi baru di lokasi yang baru pula. Ini tentu tidak mudah dan ada risikonya,” terangnya.
Image di Mata Investor
Dampak kedua, ia mengatakan berkaitan dengan citra (image) tata kelola ekonomi di mata investor. Ia menilai tutupnya pusat grosir yang telah lama menjadi ikon ekonomi Kota Solo dapat menimbulkan tanda tanya di benak publik maupun investor.
”Orang atau investor akan bertanya-tanya, ‘Loh, kok salah satu ikon ekonominya Solo ditutup?’ Hal ini tentu membawa dampak pada citra tata kelola ekonomi kota, meskipun dampaknya mungkin tidak dirasakan secara penuh,” sebutnya.
Adapun dampak ketiga, ia mengatakan penutupan Pusat Grosir Solo akan berpengaruh pada sistem rantai pasok atau supply chain. Menurutnya, selama ini keberadaan PGS sangat memudahkan para penyuplai atau supplier karena seluruh pedagang grosir terkumpul dalam satu lokasi terpusat.
Namun, dengan ditutupnya PGS, para pedagang kini menyebar ke berbagai lokasi yang berbeda. Bhimo menilai penyebaran lokasi pedagang berpotensi mengganggu alur distribusi barang.
“Kalau pedagang menyebar, pola rantai pasokannya otomatis harus berubah. Ini akan menjadi problem tersendiri karena sebelumnya sangat mudah, semua terpusat di satu tempat. Kini mereka harus beradaptasi dengan pola rantai pasokan yang baru,” katanya.
Sebagaimana diketahui, Pusat Grosir Solo di Jl Mayor Sunaryo, kawasan Bundaran Gladag, Solo, terpaksa tutup permanen setelah pengelolanya, yakni PT Putera Griya Sentosa, dinyatakan pailit melalui putusan pengadilan yang keluar pada Februari 2026.
Atas putusan pengadilan itu, aset PGS kini berada di tangan kurator dan harus dikosongkan. Para pedagang pun terpaksa pindah ke tempat lain dan awal Agustus semua pedagang sudah memindahkan barang dagangan mereka.

Leave a Reply