Nusatime.com, SEMARANG — Senyum Sukartini, 50, tak terbendung saat keponakannya berhasil mengamankan sego kethek di tengah kerumunan. Sajian khas yang selalu hadir dalam tradisi Sesaji Rewanda itu menjadi incaran dan ramai diperebutkan, bahkan membuat sebagian warga harus gigit jari.
Kepercayaan akan membawa keberuntungan dan berkah membuat sego kethek jadi buruan. Tak heran, ratusan warga rela berdesakan, saling berebut, demi bisa menyantap sajian tersebut.
“Setiap tahun saya ke sini [Sesaji Rewanda], kadang dapat, kadang juga tidak. Makan sego kethek ini biar berkah,” ungkap Sukartini ke pada Espos, Sabtu (28/3/2026).
Selain diyakini membawa berkah, sego kethek juga memiliki cita rasa khas. Porsinya cukup mengenyangkan, sehingga banyak warga memanfaatkannya untuk “mengganjal” perut setelah mengikuti prosesi Sesaji Rewanda di kawasan Gua Kreo.
“Rasa [sego kethek] enak, sedap gitu. Isinya nasi, gereh [ikan asin] dan jantung pisang. Langsung saya makan setelah ini,” imbuhnya.
Asal Usul Sego Kethek
Ketua Pengelola Desa Wisata Kandri, Saiful Ansori, menjelaskan bahwa dalam tradisi Sesaji Rewanda, warga tidak hanya memberikan hasil bumi kepada kera-kera di Gua Kreo. Warga Kampung Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati juga membagikan ribuan sego kethek kepada masyarakat yang hadir dalam prosesi tersebut.
“Sego kethek itu adalah bentuk sedekah dari warga, berbagi kepada saudara-saudara yang ikut acara. Karena kita tidak hanya berbagi dengan hewan [kera], tapi juga dengan saudara-saudara kami yang ikut acara Sesaji Rewanda,” papar Saiful.
Saiful Ansori membeberkan bahwa sego kethek merupakan kuliner khas Kampung Talun Kacang. Makanan ini dibungkus daun jati dengan isian beragam, seperti nasi, telur, tempe, oseng daun pepaya dan singkong hingga ikan teri.
Penamaan sego kethek berawal dari tradisi merti desa atau apitan yang saat itu ramai dikunjungi masyarakat luar. Sajian kuliner warga yang dihidangkan kala itu belum memiliki nama atau identitas khusus.
“Waktu itu sekitar 2012, ada usulan dari Kepala Disbudpar namanya Nurjanah, untuk menamai sajian ini sebagai sego kethek. Karena kebetulan di sini banyak komunitas kera,” paparnya.
Saiful membeberkan bahwa kepercayaan akan keberkahan dari sego kethek memang berkembang di tengah masyarakat. Namun, dia mengingatkan agar hal tersebut tidak diyakini secara berlebihan.
“Ada yang bercerita setelah makan sego kethek usahanya jadi lancar, dapat keberkahan, bahkan ada yang mengaku anaknya yang sakit bisa sembuh. Tapi itu sebetulnya jangan dipercaya terlalu dalam,” paparnya.
Cerita-cerita tersebut dipandang sebagai penguat daya tarik tradisi agar tetap hidup di tengah masyarakat. Nilai keberkahan yang melekat lebih dimaknai sebagai bagian dari kearifan lokal, bukan sesuatu yang harus diyakini secara mutlak.

Leave a Reply