Nusatime.com, SOLO — Pegiat budaya Budhi Hartanto mendorong pelestarian kebudayaan bergerak lebih jauh dari sekadar seremoni, pertunjukan, maupun penyimpanan benda-benda warisan masa lalu.
Tantangan yang lebih besar, menurutnya, adalah memastikan pengetahuan dan nilai di balik warisan budaya tetap dipahami serta memiliki pewaris pada generasi berikutnya.
Gagasan tersebut menjadi napas Semarak Budaya 2026 yang diselenggarakan Omah Budhi Solo bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Minggu (20/9/2026), di D’Lima Resto, Jebres.
Mengusung tema “Merawat Warisan, Menghidupkan Nilai, Meneguhkan Jati Diri”, kegiatan itu mempertemukan pegiat budaya, praktisi perkerisan, pelaku seni, dan masyarakat dalam satu ruang belajar kebudayaan.
“Persoalan kita bukan sekadar apakah keris masih ada atau macapat masih ditembangkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah generasi berikutnya masih memahami mengapa semua itu diwariskan kepada mereka?” kata Budhi.
Budhi yang selama ini bergiat di PSTA Nunggak Semi Solo dan turut menggagas Pusat Studi Lontar Nusantara melihat kebudayaan tidak seharusnya berhenti sebagai objek nostalgia.
Keris, misalnya, bukan hanya benda pusaka. Di baliknya terdapat sejarah, pengetahuan mengenai teknologi tempa, estetika, simbolisme, etika, hingga pandangan hidup masyarakat pada zamannya.
Demikian pula macapat. Tembang tradisional Jawa tersebut bukan hanya persoalan suara dan metrum. Macapat selama berabad-abad menjadi salah satu medium penyampaian pitutur, pendidikan moral, dan refleksi mengenai perjalanan kehidupan manusia.
“Kalau keris berhenti menjadi benda pajangan dan macapat hanya menjadi tembang yang didengar pada acara tertentu, kita kehilangan bagian penting dari proses pewarisan. Yang harus diwariskan bukan hanya bentuknya, tetapi pengetahuan dan nilai di belakangnya,” ujar dia.
Karena itu, Semarak Budaya 2026 tidak menempatkan masyarakat semata-mata sebagai penonton. Peserta diajak menikmati seni, memahami sejarah dan filosofi, berdialog dengan pelaku budaya, hingga melihat langsung praktik perawatan keris.
Semarak Budaya 2026 menghadirkan Tri Wahyunianto, ST., M.Si. dari PSTA Nunggak Semi yang membahas filosofi dan nilai moral keris serta Rosnendya Yudha Wiguna, SH., M.Si. dari Pusat Studi Lontar Nusantara yang mengupas sejarah keris.
Dari ranah seni pertunjukan, Sunu Purniadi bersama Girli Budaya Sejahtera menghadirkan Tari Budaya Bambangan Cakil. Drs. Sri Widada, MM. dari PSM Sekar Wening membawa peserta menyelami ajaran moral melalui macapat.
Sementara itu, Ady Sulistyono, S.Sos., praktisi perkerisan senior, menghadirkan demonstrasi dan praktik perawatan keris. Rangkaian acara juga menghadirkan Ma’ruf Pujinto melalui Macapat Umbul Donga.
Menurut Budhi, mempertemukan para pelaku budaya dengan masyarakat merupakan bagian penting dari regenerasi. Sebab, sebagian pengetahuan kebudayaan tidak hanya tersimpan dalam buku dan museum, tetapi juga hidup dalam pengalaman para seniman, penembang, praktisi, kolektor, dan komunitas yang merawat tradisi.
Perubahan teknologi dan pola komunikasi masyarakat juga menjadi perhatian Budhi. Generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial, menurutnya, tidak selalu dapat didekati dengan pola pewarisan budaya masa lalu.
Substansi tradisi perlu dijaga, tetapi cara mengomunikasikannya harus mampu mengikuti perkembangan zaman. “Anak muda tidak harus dibuat menjadi seperti generas

Leave a Reply