Nusatime.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana eksplorasi minyak, gas, dan mineral dalam skala besar di Greenland. Namun, rencana tersebut belum disertai perincian proyek, sementara Denmark menegaskan eksplorasi sumber daya alam di wilayah otonom itu harus mematuhi hukum setempat.
Trump menyampaikan pengumuman tersebut melalui akun media sosialnya pada Rabu (14/10/2026). Pernyataan itu muncul beberapa pekan setelah AS, Denmark, dan Greenland menandatangani kesepakatan kerja sama keamanan dan pertahanan pada September 2026.
“Eksplorasi oil, gas, dan mineral secara skala luas akan segera dimulai di Greenland kami yang baru dan indah,” kata Trump, dikutip Jumat (16/10/2026) dari akun The White House.
Trump juga mengklaim Greenland memiliki cadangan minyak yang mudah diakses dalam jumlah sangat besar. Namun, ia tidak menyertakan data atau bukti konkret untuk mendukung klaim tersebut.
“Terdapat ahli dan akademisi yang mengemukakan bahwa jumlah minyak lebih mudah diakses dari hampir wilayah manapun di dunia,” klaim Trump.
Greenland memang diperkirakan memiliki potensi sumber daya minyak, gas, dan mineral yang besar. Wilayah Arktik tersebut juga menyimpan potensi unsur tanah jarang yang dibutuhkan dalam industri elektronik, pertahanan, dan energi terbarukan.
Meski demikian, potensi sumber daya itu tidak serta-merta mudah dikembangkan. Iklim ekstrem, keterbatasan infrastruktur, biaya ekstraksi yang tinggi, serta pertimbangan lingkungan menjadi sejumlah kendala bagi kegiatan eksplorasi dan produksi.
Greenland bahkan menghentikan penerbitan izin baru eksplorasi minyak dan gas pada 2021 karena pertimbangan lingkungan dan perubahan iklim. Kondisi tersebut membuat pernyataan Trump mengenai dimulainya eksplorasi berskala besar perlu dibedakan dari realisasi proyek di lapangan.
Kesepakatan Pertahanan Tak Otomatis Beri Hak Eksplorasi
Selain potensi sumber daya alam, Trump menyoroti posisi strategis Greenland bagi keamanan Amerika Serikat dan Eropa. Menurut dia, lokasi pulau tersebut penting untuk mendeteksi dan menghadapi ancaman militer, termasuk serangan rudal dan drone.
“Dari aspek keamanan untuk pertahanan dan serangan AS maupun Eropa, Greenland adalah yang terbaik,” tekan Trump, melansir Euronews.
Trump menegaskan bahwa Greenland berkapabilitas untuk menghentikan serangan drone dan rudal yang ditujukan terhadap AS, seiring dengan ekspansi militer dan sistem pertahanan Amerika Serikat.
“Setiap serangan yang dikerahkan terhadap AS harus melewati Greenland, dimana sistem pertahanan kami akan secara rutin menghentikan drone, rudal, atau senjata lainnya,” tambah Trump.
Kesepakatan keamanan yang ditandatangani AS, Denmark, dan Greenland pada September 2026 membuka jalan bagi perluasan aktivitas militer AS. Pengaturan tersebut mencakup modernisasi dan perluasan kegiatan di Pituffik Space Base serta rencana penambahan area pertahanan di Narsarsuaq dan Mestersvig.
Namun, kesepakatan itu tidak memberikan hak khusus kepada investor AS untuk mengeksplorasi sumber daya alam Greenland. Kementerian Luar Negeri Denmark menegaskan bahwa kegiatan tersebut tetap harus mengikuti aturan yang berlaku dan kesepakatan keamanan tidak memberikan perlakuan istimewa kepada investor AS dibandingkan investor dari negara lain.
Dengan demikian, pengumuman Trump belum menjadi bukti bahwa eksplorasi minyak, gas, dan mineral berskala besar akan segera berlangsung. Realisasi proyek tetap bergantung pada perizinan, ketentuan hukum, pertimbangan lingkungan, serta kelayakan ekonomi.
Greenland sendiri merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark. Kesepakatan pertahanan dengan AS tidak mengubah status tersebut ataupun menghapus kewenangan Greenland dalam mengelola sumber daya alamnya.
Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Donald Trump Umumkan Eksplorasi Minyak dan Mineral Skala Besar di Greenland”

Leave a Reply