Nusatime.com, SEMARANG – Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies atau Asita Jawa Tengah (Jateng) mengungkapkan kabupaten/kota seperti Klaten, kawasan Dieng (Banjarnegara dan Wonosobo), Surakarta atau Solo, serta Semarang menjadi daerah overtourism atau tingkat kunjungan berlebihan.
Faktornya, mulai dari destinasi tempat wisata (DTW) tanpa tiket alias gratis, kuliner murah, hingga sederet event menarik. Pengurus Asita Jateng, Ririn Setyawati, menilai industri wisata mengalami tren positif dengan kenaikan kunjungan tiap tahunnya.
Pernyataan ini juga selaras dengan data Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jawa Tengah, yang mencatat tingkat kunjungan wisatawan pada Januari–Maret 2026 naik 18,72% dibandingkan tahun 2025, yakni mencapai 17,21 juta orang.
“Kalau industri wisata, sekarang sedang bagus-bagusnya. Apalagi beberapa bulan ini kondisi pariwisata meningkat [kunjungannya],” kata Ririn kepada Espos, Senin (4/5/2026).
Kendati demikian, menurut Ririn, ada ketimpangan antar-DTW di suatu daerah karena tingkat kunjungan wisatawan belum bisa merata. Sejumlah kawasan, menjadi overtourism karena terus-terusan menjadi jujukan favorit wisatawan, apalagi saat libur panjang.
“[Catatan untuk wisata Jateng] terkait pengembangan sudah lumayan. Tapi ada beberapa daerah jadi sentral industri wisata, seperti Klaten, Karangayar, Dieng, Solo, Kota Semarang itu overtourism. Harusnya bisa lebih ditingkatkan lagi daerah sekitarnya, biar enggak langsung menumpuk di sana semua,” ucap Ririn yang juga Korwil Asita Kota Semarang.
Daerah Populer
Menurut Ririn, ada berbagai faktor yang membuat suatu tempat wisata di daerah menjadi populer bagi mayoritas wisatawan. Misalnya, Kota Semarang yang memiliki destinasi gratis seperti Kota Lama Semarang.
“Solo itu karena kultur, event-nya menarik, wisata kulinernya ada, terhitung murah dan berkembang. Dieng juga event menarik kan. Terbaru ini Ambarawa juga sebenarnya lumayan setelah ada Banteng Willem,” nilainya.
Sedangkan kawasan wisata yang menjadi sorotan Asita tersebar di sepanjang kawasan Pantai Utara (Pantura). Menurutnya, DTW di sepanjang daerah tersebut memiliki potensi bahari yang sangat besar, namun sangat disayangkan karena kurang ada ikon unik.
“Pantura itu susah banget ngangkatnya, kecuali ada DTW religi. Maka perlu poin unik tersendiri selain religi buat meningkatkan pariwisata lokalnya,” pesannya.
Seorang pekerja di Kota Semarang, Rahmatika, sepakat bila berkunjung ke wisata Solo dan Wonosobo sangat menarik. Bahkan, dua daerah ini kerab dikunjunginya saat libur panjang pada tahun 2026 ini.
“Tapi sepanjang tahun ini lebih sering ke Solo. Enak aja di sana, akses mudah bisa naik kereta dari Semarang, pilihan wisatanya juga banyak, makanannya banyak yang bisa dieksplor,” ucap perempuan usia 29 tahun itu.

Leave a Reply