Nusatime.com, SUKOHARJO — Pemerintah pusat menargetkan penempatan 40.000 pekerja migran di berbagai negara pada 2026. Saat ini, pemerintah tengah membangun ekosistem tenaga kerja berbasis kompetensi dan berstandar global.
Pernyataan ini diungkapkan Kepala Balai Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Tengah, Dewi Ariani, di sela-sela International Workshop Japanese Forestry Industry and Business di Gedung Hartono Trade Center Solo Baru, Sukoharjo, Rabu (29/7/2026).
Kegiatan itu dihadiri Manager Executive Officer Haseman Jepang Yasunori Yamauchi serta Ketua Departemen Manajemen Hutan Institut Pertanian Bogor (IPB) Soni Trison. Selain itu, turut hadir perwakilan perguruan tinggi, sekolah, dan pelaku usaha pengolahan kayu di Jawa Tengah.
Menurut Dewi, pemerintah pusat menargetkan 500.000 pekerja migran di berbagai negara selama empat tahun mulai 2026-2029. Pada 2026, jumlah target penempatan pekerja migran sebanyak 40.000 orang. Kemudian, target penempatan pekerja migran pada 2027 sebanyak 140.000 orang.
Sedangkan jumlah pekerja migran yang ditempatkan di luar negeri pada 2028 ditargetkan sebanyak 180.000 orang. Terakhir, pekerja migran yang ditempatkan di luar negeri pada 2029 sebanyak 160.000.
“Khusus wilayah Jawa Tengah, nanti ditargetkan sebanyak 6.800 pekerja migran yang ditempatkan di luar negeri pada tahun ini. Ini sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun ekositem pekerja migran yang berkelanjutan,” ujar dia.
Ekosistem Pekerja Migran
Saat ini, lanjut Dewi, pemerintah tengah melakukan pendataan tenaga kerja dan bekerja sama dengan lembaga vokasi seperti sekolah, perguruan tinggi, dan swasta. Guna menyokong penempatan pekerja migran, saat ini pemerintah tengah menyiapkan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) berbasis kompetensi dan berstandar global.
Hal ini diintegrasikan dengan potensi peluang kerja di mancanegara. “Pemetaan tenaga kerja menjadi krusial dalam menjembatani antara potensi dalam negeri dan kebutuhan global. Ini bagian dari membangun ekosistem penempatan 500.000 tenaga kerja hingga 2029,” papar dia.
Manager Executive Officer Haseman Jepang, Yasunori Yamauchi, mengatakan potensi pekerja migran asal Indonesia bekerja di industri pengolahan kayu di Jepang cukup tinggi. Syaratnya, mereka harus memiliki keterampilan atau skill didukung kemampuan berbahasa Jepang untuk berkomunikasi sehari-hari.
Yasunori menyebut kekurangan tenaga kerja menjadi salah satu tantangan pengembangan sektor industri di Negeri Matahari Terbit. “Banyak tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di Jepang. Termasuk di industri pengolahan kayu yang memanfaatkan teknologi dalam memproduksi barang,” papar dia.
Sementara itu, Ketua Departemen Manajemen Hutan Institut Pertanian Bogor Soni Trison menambahkan membanguun ekosistem pekerja migran harus dilakukan dari hulu ke hilir mulai dari pelatihan, kurikulum, hingga penjaminan mutu. Tidak hanya pekerja migran yang didorong kapasitasnya meningkat melainkan lembaga vokasi dan perusahaan penempatan.

Leave a Reply