150 Kasus Karhutla Terjadi di Wonogiri pada Musim Kemarau 2026

150 Kasus Karhutla Terjadi di Wonogiri pada Musim Kemarau 2026
Tim gabungan saat memadamkan api yang membakar lahan di Desa Pesido, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Wonogiri, Minggu (23/8/2026). (Istimewa/Polres Wonogiri)

Nusatime.com, WONOGIRI – Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Wonogiri tercatat sebanyak 150 kejadian selama musim kemarau 2026. Dari ratusan kejadian itu, lahan seluas 695,98 hektare hangus terbakar.

Data itu dikonfirmasi oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama. Menurut dia ada banyak sebab karhutla marak terjadi di Wonogiri.

“Bermacam-macam sebabnya. Di antaranya yang pertama tentunya musim yang mendukung untuk itu, karena panas dan di Wonogiri banyak hutan dan lahan sehingga kawasan tersebut kering dan ketika ada pantikan api atau bahkan gesekan-gesekan pun memungkinkan untuk terjadinya kebakaran,” kata Fuad kepada Espos pada Selasa (6/10/2026).

Selain itu, penyebabnya juga kelalaian manusia, seperti wraga yang membakar sampah. Namun, warga tidak menjaga api dengan baik hingga menjalar ke hutan maupun lahan di sekitarnya. 

“Dalam kondisi seperti saat ini, selain panas angin juga cukup kencang sehingga memudahkan api untuk membesar dan menjalar ke mana-mana,” tambahnya.

Dia menuturkan sebagian besar lahan yang mengalami kebakaran milik Perhutani. Terutama yang berada di perbukitan dan saat api muncul tidak terdeteksi.

“Tahu-tahu sudah membesar. Sebagian lagi terjadi di lahan-lahan sekitar permukiman warga dengan total luas lebih dari 600 hektare tersebut ludes karena api,” jelasnya.

Lebih lanjut, data 150 kasus karhutla itu sendiri dihimpun pihaknya berdasarkan laporan yang diterima dari warga maupun Perhutani. Dalam kejadian berulang itu tidak ada korban jiwa maupun luka.

Untuk kerugian material, pihaknya bersama Pemkab Wonogiri dan Perhutani masih dalam proses penaksiran. Termasuk pula perbaikan hutan dan lahan pascakebakaran.

“Untuk pemulihan kita juga terus lalukan koordinasi, apakah akan reboisasi bagi hutan dan lahan yang habis terbakar atau seperti apa nantinya. Karena memang tidak semua hutan dan lahan yang terbakar menjadi gundul,” kata dia.

Sementara untuk antisipasi kejadian berulang, Fuad mengaku terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat dengan menggandeng pemerintah di jajaran terbawah termasuk RT, RW, dan desa agar mewanti-wanti warga jangan sembarangan membuat api di saat seperti ini. 

“Kami terus mengimbau agar masyarakat berhati-hati saat membuat api saat musim kemarau. Dijaga apinya sampai padam atau jangan membuat api sama sekali terlebih dahulu. Ini demi kebaikan kita bersama,” tutupnya.

Leave a Reply