3 Bakteri Ditemukan dalam Sampel MBG Penyebab Keracunan di SMKN 6 Semarang

3 Bakteri Ditemukan dalam Sampel MBG Penyebab Keracunan di SMKN 6 Semarang
Kepala Dinkes Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam membeberkan hasil pemeriksaan keracunan MBG di SMKN 6 Semarang. Selasa (11/8/2026) (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Nusatime.com, SEMARANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengungkap hasil pemeriksaan sampel makanan dalam kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 6 Semarang. Hasil pemeriksaan mikrobiologi menemukan tiga jenis bakteri, yakni Escherichia coli, Staphylococcus, dan Salmonella.

Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, mengatakan ketiga bakteri tersebut ditemukan terutama pada makanan sumber protein dalam menu MBG. Makanan yang telah diperiksa di antaranya rendang ayam dan telur puyuh.

“Hasil pemeriksaan sample keracunan pangan MBG di SMKN 6 Semarang Escherichia coli positif, Staphylococcus positif, Salmonella positif terutama pada lauk rendang ayam, telur puyuh rata-rata di sana. Jadi tiga-tiganya yang protein positif semuanya,” ujar Hakam saat ditemui Espos di Balai Kota Semarang, Selasa (11/8/2026).

Berbeda dengan pemeriksaan mikrobiologi, hasil pemeriksaan kimia terhadap sampel makanan MBG menunjukkan hasil negatif. Pemeriksaan tersebut mencakup kandungan formalin, boraks, hingga zat pewarna.

Hakam mengatakan hasil pemeriksaan kasus tersebut telah disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) dan Menteri Kesehatan. Dinkes juga mendorong agar pemeriksaan mikrobiologi terhadap makanan MBG dilakukan secara rutin untuk mengetahui titik kritis yang berpotensi menyebabkan kontaminasi.

“Kalau nanti ke depan misalnya itu setiap hari dilakukan pemeriksaan mikrobiologi, paling tidak kita bisa mengetahui titik kritisnya,” ungkap Hakam.

Insiden keracunan MBG di SMKN 6 Kota Semarang terjadi pada Jumat (31/7/2026) dan berdampak kepada 707 orang yang terdiri atas 693 siswa dan 14 guru. Setelah kejadian tersebut, Dinkes berencana melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) dan puskesmas untuk melakukan pengambilan sampel makanan secara berkala.

Sampel tersebut kemudian akan diperiksa untuk mengetahui kandungan bakterinya. Hasil pemeriksaan nantinya menjadi rekomendasi bagi pihak terkait, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun BGN untuk menentukan langkah selanjutnya.

Menurut Hakam, pemeriksaan tidak seharusnya baru dilakukan setelah terjadi insiden keracunan.

“Kalau pemeriksaannya itu hanya dilakukan setelah keracunan seperti ini kan seperti narik layangan yang putus. Harapannya kejadian keracunan tidak terjadi berulang,” tegasnya.

Hakam melanjutkan kontaminasi bakteri juga dapat terjadi akibat penanganan makanan yang tidak tepat. Makanan berprotein yang tidak ditutup atau disimpan pada suhu yang tidak sesuai dapat mempercepat pertumbuhan bakteri.

Selain penanganan makanan, kebersihan penjamah makanan juga menjadi faktor penting. Bakteri stafilokokus dapat ditemukan pada kulit manusia dan mencemari makanan apabila proses pengolahan tidak dilakukan secara higienis.

“Tahu tidak stafilokokus? Kuman stafilokokus itu sebetulnya ada banyak terdapat di lapisan kulit kita. Kalau sampai mencemari makanan, berarti penjamah makanannya tidak higienis,” tandasnya.

Leave a Reply