Bawa Ular hingga Buaya, KREZS Rutin Edukasi Warga soal Reptil di CFD Solo

Bawa Ular hingga Buaya, KREZS Rutin Edukasi Warga soal Reptil di CFD Solo
Salah satu anggota Komunitas Reptil Zona Solo (KREZS) mengenalkan koleksi hewan berupa ular peliharaannya kepada pengunjung di arena Car Free Day (CFD) Jl Slamet Riyadi, Solo, Minggu (16/8/2026). (Daerah/Dhima Wahyu Sejati)

Nusatime.com, SOLO — Komunitas Reptil Zona Solo (KREZS) membawa berbagai jenis reptil ke Car Free Day (CFD), Jl Slamet Riyadi, Kota Solo, Minggu (16/8/2026) pagi. Beberapa hewan yang dibawa ada ular, buaya, biawak, gecko, dan lainnya.

Hewan-hewan itu dibawa untuk diperkenalkan ke masyarakat. Sejumlah orang pun mengerumuni reptil itu sambil mengambil foto. Ketua KREZS, Affri Sugiyanto, menjelaskan kehadiran komunitasnya di ruang publik seperti ini merupakan langkah edukasi langsung kepada masyarakat.

Ia mengatakan hewan yang dibawa tidak buas. Affri menyebut reptil-reptil itu sudah sangat terbiasa dengan manusia sehingga aman ketika disentuh. Dengan membawa koleksi reptil, ia ingin menunjukkan bahwa hewan tersebut tidak selalu menyeramkan dan bisa bersahabat jika diperlakukan dengan tepat.

“Tujuan edukasi di CFD ini salah satunya memperkenalkan bahwa reptil juga bisa bersahabat dengan manusia,” katanya saat berbincang dengan Espos, Minggu.

Ia menilai banyak dari masyarakat yang telanjur menganggap jika ada hewan liar masuk rumah, terutama ular, langsung dibunuh. Ia tidak menampik memang hewan liar ada yang bahaya, namun tidak selalu harus dibunuh. “Nah, kami mencoba menjaga keseimbangan itu, agar tidak semua hewan dibunuh,” katanya.

Namun, ia menyadari tidak semua orang bisa menangkap hewan liar yang masuk rumah. Maka, KREZS juga punya layanan sukarela berupa snake rescue atau penyelamatan reptil. Sehingga masyarakat yang mendapati ular, biawak, maupun reptil liar lainnya masuk ke dalam rumah dapat langsung menghubungi komunitas ini tanpa dipungut biaya alias gratis.

Layanan Evakuasi

Affri menegaskan hewan liar hasil evakuasi (rescue) tersebut tidak akan dipelihara atau diperjualbelikan oleh anggota komunitas. Ia menjelaskan reptil liar memiliki insting bertahan hidup yang kuat di alam. Ini berbeda dengan reptil koleksi pameran yang memang dipelihara sejak kecil.

“Rata-rata hasil rescue pasti kami lepasliarkan kembali. Biasanya kami menunggu momentum, mengumpulkan beberapa ekor dulu baru kita rilis bersama. Pelepasliaran ini harus di lokasi yang jauh dari jangkauan warga, paling tidak tiga sampai empat kilometer dari permukiman terdekat, contohnya kami sering merilis ke daerah hutan di Sragen,” urai Affri.

Affri mengatakan layanan rescue gratis ini disambut antusias oleh masyarakat Solo dan sekitarnya. Ia mengatakan sudah banyak masyarakat yang mulai paham dan memilih menghubungi relawan KREZS.

Affri memperkirakan dalam waktu dekat, kemungkinan permintaan untuk rescue akan meningkat. Sebab, menurutnya, siklus pergantian musim saat ini akan memicu lonjakan kemunculan ular di kawasan permukiman.

“Mulai bulan depan sampai Februari itu masuk musim tetas ular. Akan banyak bayi-bayi ular yang berpotensi masuk ke dalam rumah. Kalau pas musim tetas begini, dalam seminggu kami bisa melakukan evakuasi sampai tiga atau empat kali,” katanya.

Leave a Reply