Nusatime.com, SEMARANG – Tahun 1942 menjadi titik balik bagi keluarga-keluarga Belanda yang tinggal di Indonesia. Kedatangan tentara Jepang tak hanya mengubah kehidupan mereka, tetapi juga memisahkan perempuan, laki-laki, dan anak-anak ke dalam kamp-kamp interniran.
Jejak tragedi tersebut masih dapat dilihat di Ereveld Kalibanteng, Semarang. Deretan nisan di kompleks pemakaman itu menjadi pengingat perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perang, sekaligus keluarga-keluarga yang tercerai-berai akibat pendudukan Jepang dan meletusnya Perang Dunia II.
Makam kehormatan Belanda yang didirikan pada 22 April 1949 tersebut berada di sisi Jalan Siliwangi, Kota Semarang, dan dikelola Yayasan Oorlogsgravenstichting (OGS) Indonesia. Di tempat ini, lebih dari 3.000 korban perang dimakamkan yang mayoritas merupakan warga sipil Belanda, anggota militer, dan sebagian masyarakat Indonesia.
Lead in Communication, Public Relations OGS Indonesia, Siti Juwindasari, mengatakan banyak perempuan dan anak dimakamkan di Ereveld Kalibanteng yang sebelumnya meninggal di kamp-kamp interniran Jepang. Mereka tidak hanya kehilangan kehidupan, tetapi juga terpisah dari anggota keluarga selama masa penahanan.
“Kalau dilihat dari atas, perempuan berada di sisi kiri, laki-laki di kanan, sementara anak-anak berada di tengah. Penataan ini menggambarkan bagaimana keluarga terpecah belah karena peperangan,” ujar perempuan yang akrab disapa Siti kepada Espos, Sabtu (15/8/2026).
Mereka yang meninggal dan dimakamkan di Ereveld Kalibanteng mayoritas ditahan di sejumlah kamp interniran yang tersebar di wilayah Ambarawa, Banyubiru, Lampersari, dan Karangpanas. Akibat tinggal di kamp interniran tersebut, banyak masyarakat sipil Belanda mengalami penderitaan setelah kehidupan mereka diawasi ketat oleh Tentara Jepang.
Menurut Siti, kondisi di kamp interniran jauh dari kehidupan normal. Perempuan, laki-laki, dan anak-anak ditempatkan secara terpisah dan harus bertahan dalam ruang yang terbatas dengan kekurangan pangan serta berbagai kebutuhan dasar lainnya.
“Anak-anak sendiri mayoritas meninggal di kamp-kamp karena kelaparan. Banyak dari mereka mengalami malnutrisi, ini cukup menyedihkan,” imbuhnya.
Sejumlah potret penderitaan mereka yang tinggal di kamp interniran diabadikan melalui sebuah monumen berupa patung anak laki-laki kurus kering. Monumen karya Anton Beysens itu menjadi simbol kehidupan anak-anak yang tidak berdosa yang turut menjadi korban dan dihancurkan oleh kekejaman perang.
Selain itu, ada juga Monumen Perempuan yang dibuat Marian Gobius. Monumen ikonik yang diresmikan pada 1954 itu menampilkan tiga figur dari perunggu, yakni seorang perempuan teguh berdiri tegak, seorang perempuan dalam pose berduka, dan seorang anak laki-laki di antara keduanya. Ketiganya mewujudkan nasib dan ketangguhan bersama para perempuan dan anak-anak di masa-masa sulit itu.
Banyaknya keluarga yang terpecah akibat perang tercermin dari sejumlah keluarga yang datang ke makam kehormatan Belanda dan baru mengetahui bahwa anggota keluarga mereka dimakamkan di Ereveld. Bahkan, ada keluarga yang sebelumnya sama sekali tidak mengetahui lokasi persemayaman kerabat mereka.
“Kami bertugas merawat para korban perang yang ada di ereveld sekaligus memastikan cerita-cerita mereka tetap hidup dan terus diceritakan. Harapannya, kisah ini dapat menjadi pembelajaran untuk khalayak umum. Apalagi sekarang banyak konflik dan percikan perang di berbagai tempat,” terangnya.
Menurut Siti, mengenang sejarah masa lalu sangat penting agar generasi saat ini tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mengingat konflik atau peperangan pada akhirnya tidak benar-benar menghadirkan pemenang karena semua pihak mengalami kehilangan.
“Kalau kita melupakan sejarah, kecenderungan kita akan melakukan kesalahan yang sama. Fokus kami lebih ke situ karena sebenarnya tidak ada pemenang dari peperangan, semuanya mengalami kehilangan,” ungkapnya.
Tak Pernah Melihat Wajah Sang Kakek
Salah satu keluarga korban perang, Henry Sandee, membagikan pengalamannya yang belum pernah melihat wajah kakeknya. Sang kakek bernama Thomas Henry Lewis meninggal dunia pada April 1945, beberapa bulan sebelum Perang Dunia II berakhir, di Kamp Bangkong.
“Saya tidak pernah bertemu dengan Opa Thomas. Kami tidak tahu banyak mengenai nasib dan kehidupannya. Kami hanya tahu nomor registrasi di kamp Jepang, 28560. Itu yang hanya saya tahu,” ujar Henry.
Laki-laki yang pernah menjadi dosen di UKWS Salatiga ini pernah menelusuri jejak terakhir kakeknya. Namun, ia melihat bekas kamp yang pernah ditinggali kakeknya di Semarang Selatan telah berubah menjadi bangunan sekolah.
Istri Thomas atau nenek Henry saat itu berada di Kamp Cideng, Jakarta. Surat-surat yang dikirim untuk mencari kabar terkait kondisi Thomas tidak mendapatkan jawaban hingga akhirnya keluarga menerima informasi bahwa kakek Henry telah meninggal dunia.
“Saya sempat berkeliling di Kamp Bangkong dan sulit membayangkan bahwa sekitar 81 tahun yang lalu ditempatkan 1.400 orang di sana,” tukasnya.

Leave a Reply