Nusatime.com, BOYOLALI — Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut ke wilayah Boyolali.
Plt. Kepala Disnakkan Boyolali, Ahmad Gojali, mengatakan pihaknya juga memantau perkembangan kasus antraks di Gunungkidul.
“Terkait dengan hal ini, Disnakkan Boyolali sudah siap-siap membuat surat edaran yang ditujukan kepada para peternak, penjual, dan kami meminta bantuan dari Disdagperin untuk pasar hewan dan camat agar bisa menginformasikan ke masyarakat mewaspadai dan mengendalikan lalu lintas ternaknya,” kata dia saat ditemui di Giriroto, Ngemplak, Boyolali, Kamis (7/10/2026).
Ia mengatakan Gunungkidul cukup dekat dengan Boyolali sehingga diperlukan peningkatan kewaspadaan terhadap penyakit antraks pada hewan ternak.
Selain itu, ke depan juga akan dilaksanakan pengecekan hewan ternak di pasar sapi dan peternakan yang ada di Boyolali.
“Kami sudah ada koordinasi dengan beberapa dinas, harapan kami bisa dicegah sedini mungkin. Di Boyolali belum ada laporan kasus antraks, semoga saja tidak ada,” kata dia.
Tujuh Kambing Mati Mendadak
Sebelumnya diberitakan, tujuh ekor kambing milik lima warga mati mendadak di Padukuhan Pelem, Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Dari tujuh kambing yang mati, tiga ekor di antaranya disembelih dan dagingnya dibagikan hingga dikonsumsi warga.
Lurah Dadapayu, Nanang Arijana, mengatakan kejadian tersebut ditemukan pada awal September 2026.
“Kambing yang mati ada yang dikubur. Tapi, ada juga yang dibrandu dua atau tiga ekor untuk dibagi-bagikan ke warga,” kata Nanang saat diberitakan pada Selasa (29/9/2026).
Setelah daging kambing dibagikan, terdapat warga yang mengalami luka yang mirip dengan gejala penyakit antraks. Pemerintah kabupaten kemudian menindaklanjuti temuan tersebut dengan penyelidikan epidemiologis.
Nanang menjelaskan warga sempat mengira kambing yang mati mendadak mengalami keracunan. Untuk itu, saat masih hidup, beberapa kambing langsung dipotong untuk kemudian dibagikan kepada warga.
“Kambing disembelih karena warga mengira hanya keracunan sehingga saat masih hidup langsung dipotong untuk kemudian dibagi-bagikan. Ternyata, setelah itu ada dua warga yang mengalami sakit karena luka di bagian jari,” ungkap Nanang.
Menurut dia, warga sebelumnya tidak menduga adanya penyakit antraks di wilayah tersebut. Apalagi, kambing yang mati mendadak itu telah lama dipelihara oleh masing-masing pemilik.
“Dugaannya berasal dari pakan karena ada yang membeli. Di sisi lain, lokasinya juga tidak jauh dari Kalurahan Gombang yang beberapa tahun lalu juga terjadi kasus antraks,” katanya.
Nanang memastikan dua warga yang menjadi suspek antraks telah mendapatkan penanganan. Kondisi luka yang dialami keduanya juga disebut sudah mengering.
Untuk memastikan dugaan kasus tersebut, pengambilan sampel telah dilakukan untuk kemudian diuji di laboratorium. Hasil pemeriksaan masih ditunggu. “Uji lab sudah dilakukan dan sekarang tinggal menunggu hasilnya,” imbuh Lurah Dadapayu.
54 Warga Konsumsi Daging Kambing
Terpisah, Programmer Penyakit Menular Zoonosis Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Eko Mujiarto, mengatakan suspek antraks di Kalurahan Dadapayu berada di Padukuhan Pelem dan Kerdon.
Dugaan kasus bermula ketika seorang warga memeriksakan luka di bagian tangan ke puskesmas. Setelah temuan tersebut diketahui, dilakukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut.
Hasil penelusuran menunjukkan pada 29 Agustus 2026 terdapat kambing yang mati, kemudian diolah dan dikonsumsi oleh 54 orang di kedua padukuhan tersebut.
“Ada lima warga yang mengalami luka kulit. Empat lukanya masih basah dan satu mulai mengering. Selain itu, juga ada dua warga yang mengalami diare,” katanya.
Menurut Eko, sejak 29 Agustus hingga 10 September 2026 tercatat total tujuh ekor kambing mati. Upaya penanggulangan telah dilakukan, termasuk pengambilan sampel untuk memastikan kasus yang terjadi. “Warga yang bergejala juga terus dipantau kesehatannya,” katanya.

Leave a Reply