Nusatime.com, BOYOLALI — Sejumlah perusahaan di Boyolali menghadapi persoalan calon pekerja yang sudah diterima, tetapi kemudian tidak masuk kerja atau menghilang tanpa kabar. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi bagian sumber daya manusia (HRD), terutama ketika perusahaan masih membutuhkan banyak tenaga kerja.
Salah satu HRD PT Wanhe Garment Indonesia, Volia Mega Rosi, mengatakan perusahaan tempatnya bekerja membutuhkan sekitar 6.000 karyawan, mulai dari operator hingga level manajerial. Saat ini, jumlah karyawan yang sudah terisi sekitar 890 orang sehingga perusahaan masih membutuhkan ribuan tenaga kerja.
Posisi yang paling banyak dibutuhkan adalah operator pada bagian linking process. Volia menjelaskan PT Wanhe Garment Indonesia merupakan pabrik garmen yang memproduksi pakaian rajut atau sweater dan direncanakan mulai beroperasi pada 1 November 2026.
Saat ini, perusahaan telah mengadakan pelatihan bagi calon karyawan. Namun, Volia mengungkapkan perusahaan menghadapi tantangan dalam mempertahankan pekerja baru.
”Range turn over di Boyolali memang lumayan, mungkin anak zaman sekarang sebagian susah untuk struggle, kami sebagai HR susah mencari sedangkan pengangguran masih banyak. Strugglenya, teman-teman yang diterima kerja bertahan sepekan saja, habis itu keluar,” kata dia saat ditemui di area Boyolali Job Fair Inklusi 2026, halaman kantor Diskopnaker Boyolali, Jumat (23/10/2026).
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, perusahaan berupaya menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, antara lain melalui penyediaan fasilitas dan tempat parkir. Langkah tersebut diharapkan dapat membuat karyawan betah bekerja.
Volia mengatakan tingkat pergantian karyawan atau turnover cukup tinggi pada kelompok usia 18-25 tahun. Sementara itu, pekerja berusia di atas 25 tahun, termasuk yang sudah menikah atau ingin membantu perekonomian keluarga, dinilai cenderung bertahan lebih lama.
”Untuk yang turn over tinggi di usia rentang 18 tahun-25 tahun, itu tinggi sekali. Justru yang 25 tahun ke atas, yang sudah menikah atau ingin membantu perekonomian keluarga begitu bisa bertahan lebih lama,” kata dia.
Melalui Boyolali Job Fair Inklusi 2026, Volia berharap perusahaan dapat menjaring pelamar yang benar-benar ingin bekerja.
”Pemerintah sangat membantu mencari pekerja, salah satunya job fair. Kami diberikan wadah untuk menjaring calon tenaga kerja,” jelasnya.
HRD Sebut Pelamar Menghilang Setelah Diterima
Pengalaman serupa disampaikan HRD PT Eco Smart Garment Indonesia Klego, M. Rifai. Dia mengatakan perusahaannya membutuhkan sekitar 1.000 operator serta 100-200 staf setiap tahun. Kapasitas karyawan di pabrik tersebut sekitar 5.000 orang.
Menurut Rifai, perusahaan beberapa kali menghadapi pelamar yang sudah diterima dan ditempatkan, tetapi kemudian tidak masuk kerja tanpa kabar.
“Sering banget [kena prank], mereka melamar, sudah kami hire, sudah penempatan, tiba-tiba menghilang. Mungkin mentalnya belum terbentuk ya, ada yang pilah-pilih bidangnya, kalau kurang sesuai, mereka langsung kabur,” kata dia.
Rifai mengatakan sebagian pelamar yang mengalami hal tersebut merupakan lulusan SMA/SMK yang menjalani masa pendidikan saat pandemi Covid-19. Meski demikian, dia menyebut perilaku serupa tidak terbatas pada kelompok lulusan tersebut.
Perusahaan, lanjutnya, berupaya menyesuaikan pendekatan kepada pekerja baru dari berbagai generasi. Pembekalan tambahan diberikan agar mereka memahami lingkungan dan tuntutan pekerjaan.
“Kami sudah merekam biasanya perilakunya bagaimana, perusahaan juga memberi arahan misal Gen Z, terutama generasi Covid yang pendidikan [tatap muka] di sekolahnya hanya setengah, kami perlu menambahkan arahan lagi. Yang sering kabur, yang gen Z yang kena masa Covid,” kata dia.
Rifai mengatakan proses rekrutmen membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya. Ketika pelamar yang sudah diterima tidak jadi bekerja, perusahaan kehilangan kesempatan menggunakan waktu tersebut untuk merekrut kandidat lain.
”Waktu 1-2 hari yang bisa dimanfaatkan untuk rekrutmen yang lain, karena dari generasi yang agak susah itu, pasti jadi kendala untuk kami,” kata dia.
Untuk mengurangi kejadian serupa, perusahaan memberikan pembekalan dan memetakan potensi kerja pelamar. Langkah tersebut diharapkan membantu calon pekerja memahami ritme serta beban pekerjaan sebelum mulai bekerja.
”Agar nanti mereka tidak kaget ketika bekerja,” kata dia.
Ribuan Lowongan di Boyolali Job Fair Inklusi 2026
Kepala Diskopnaker Boyolali, Sawitri Danik Rahayuni, mengatakan sebanyak 30 perusahaan dari Boyolali dan 13 perusahaan dari luar daerah mengikuti Boyolali Job Fair Inklusi 2026. Kegiatan tersebut juga melibatkan empat LPKS SO dari Boyolali dan tiga kantor cabang P3MI.
Menurut Sawitri, tema inklusi dipilih untuk membuka kesempatan bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.
Total lowongan yang tersedia mencapai 10.167 posisi, terdiri atas 2.262 lowongan untuk laki-laki dan 7.905 untuk perempuan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 34 lowongan diperuntukkan bagi penyandang disabilitas.
Sawitri mengatakan panitia menargetkan 1.000 pengunjung. Hingga Kamis (22/10/2026), tercatat 877 orang telah mendaftar, termasuk delapan penyandang disabilitas. Jumlah peserta masih berpotensi bertambah karena pendaftaran juga dibuka di lokasi kegiatan.
Sementara itu, Bupati Boyolali, Agus Irawan, menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah angkatan kerja di Boyolali pada 2025 mencapai 671.249 orang dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 2,97%.
”Jumlah pengangguran terbuka ada 19.924 orang. Jumlah pengangguran terbuka diupayakan terus turun tiap tahunnya karena penurunan jumlah pengangguran menjadi salah satu indikator keberhasilan pengentasan kemiskinan,” kata dia.
Agus berharap Boyolali Job Fair Inklusi 2026 dapat mempertemukan perusahaan dengan pencari kerja dalam satu tempat sehingga menghemat waktu dan biaya. Perusahaan diharapkan memperoleh calon pekerja sesuai kualifikasi, sedangkan pencari kerja mendapatkan akses terhadap lowongan yang tersedia.
Kegiatan tersebut terbuka bagi pencari kerja dari Boyolali maupun daerah lain.
“Kegiatan job fair inklusi ini khususnya diharapkan dapat mengakselerasi pemenuhan kebutuhan ribuan tenaga kerja di berbagai perusahaan di Kabupaten Boyolali dan dapat meningkatkan persentase serapan tenaga kerja penyandang disabilitas Kabupaten Boyolali,” kata dia.

Leave a Reply