Nusatime.com, SOLO — Ikatan Dosen Ekonomi, Akuntansi, dan Bisnis Indonesia (IDEABI) menggelar konferensi tingkat internasional di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS Solo, Selasa (7/7/2026).
Konferensi yang digelar bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Tengah ini menelurkan ratusan riset dengan rekomendasi terkait penggabungan teknologi modern dan prinsip keberlanjutan ekonomi hijau.
Mengusung tema Advancing Green Economy and Sustainable Development: Innovation, Resilience, and Inclusive Growth in a Changing World, konferensi ini menghasilkan setidaknya 144 artikel ilmiah dari berbagai peneliti, akademisi, dan praktisi lintas negara.
Ketua Umum IDEABI, Edy Supriyono, mengatakan benang merah dari seluruh riset dan pemaparan para pakar mancanegara itu berkesimpulan bahwa keberlanjutan (sustainability) adalah tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan (stakeholder).
Menurut Edy, rekomendasi ini tidak hanya ditujukan bagi pemerintah selaku pembuat regulasi, tetapi lebih ditekankan kepada para pelaku usaha, akademisi, hingga peserta didik di lapangan.
“Pada prinsipnya, semua hasil penelitian menunjukkan bahwa sustainability itu menjadi tanggung jawab seluruh stakeholder. Setiap aktivitas bisnis tidak boleh hanya berorientasi jangka pendek. Sumber daya yang dieksploitasi tidak boleh dihabiskan sekarang, melainkan harus dijaga untuk kepentingan masa depan anak cucu kita,” tegas Edy saat dihubungi Espos, Rabu (8/7/2026).
Lebih lanjut, Edy menyoroti krusialnya adaptasi teknologi di era sekarang. Ia menegaskan bahwa sektor bisnis atau organisasi apa pun yang tidak mengadopsi teknologi seperti Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dan cloud computing dipastikan akan tertinggal.
Meski demikian, pemanfaatan teknologi tersebut wajib diiringi dengan pendekatan lingkungan yang berkelanjutan.
“Pengembangan teknologi informasi seperti artificial intelligence memang perlu diaplikasikan agar aktivitas lebih efektif dan efisien. Tetapi, pendekatan yang digunakan harus tetap berwawasan sustainability agar tidak merusak lingkungan,” jelasnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, seluruh riset dalam konferensi ini merekomendasikan penerapan teori Triple Bottom Line sebagai standar bagi pelaku organisasi. Artinya setiap institusi tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan (profit), namun juga sosial (people) dan lingkungan (planet).
“Organisasi apa pun dikatakan baik jika dia mampu secara finansial [profit], baik secara sosial [people], dan bagus dalam menjaga lingkungan [planet]. Itu berkaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) baik di tingkat nasional maupun internasional,” urai Edy.
Terkait luaran atau output dari 144 artikel ilmiah yang masuk, Edy memastikan karya-karya tersebut akan dipublikasikan ke dalam prosiding ber-ISBN. Sementara itu, artikel-artikel terpilih akan didorong untuk diterbitkan di jurnal-jurnal bereputasi yang telah disepakati oleh pihak penyelenggara.
Tahun depan, Edy mengatakan Konferensi Internasional IDEABI kedua pada 2027 ditargetkan berlangsung di luar negeri.
“Insya Allah konferensi internasional kedua dengan topik yang berkesinambungan akan diadakan di luar negeri. Saat ini kami segera melakukan MoU [nota kesepahaman] dengan salah satu universitas di Thailand,” ungkapnya.
Edy mengatakan sengaja menggelar di luar negeri agar bisa memfasilitasi kampus-kampus di Indonesia di ajang internasional. Ia ingin agar para dosen juga mendapatkan eksposur, reputasi, dan pengalaman akademis di level internasional.

Leave a Reply