Sarat Makna Spiritual, Ini Filosofi 2 Gunungan Grebeg Besar Keraton Solo

Sarat Makna Spiritual, Ini Filosofi 2 Gunungan Grebeg Besar Keraton Solo
Salah satu gunungan Grebeg Besar Keraton Solo ketika diarak dari Kori Kamandungan Keraton Solo menuju Masjid Agung, Kamis (28/5/2026). (Daerah/Dhima Wahyu Sejati)

Nusatime.com, SOLO — Tradisi Grebeg Besar yang rutin digelar setiap perayaan Iduladha di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Masjid Agung Solo tak pernah absen menghadirkan dua gunungan, tak terkecuali pada Iduladha 2026 ini. 

Dua gunungan itu merupakan sepasang gunungan laki-laki (jaler) dan perempuan (estri). Kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng, mengungkapkan momentum Iduladha menjadi pengingat bagi manusia untuk senantiasa mengikhlaskan sebagian harta yang dimiliki melalui ibadah zakat maupun kurban.

“Keluarnya sepasang gunungan ini semoga menjadi wujud pembersihan harta-harta kita. Apa yang mungkin kurang baik diterimanya, bisa disucikan atau dibersihkan. Kita harus mengikhlaskan apa yang kita miliki untuk diwujudkan dalam zakat atau kurban ini,” terang Gusti Moeng kepada wartawan, Kamis.

Gusti Moeng menjelaskan sepasang gunungan yang disebut Gunungan Jaler (laki-laki) dan Gunungan Estri (perempuan) itu memiliki isian dan makna yang berbeda. Gunungan Estri atau perempuan secara khusus diisi dengan penganan yang sudah matang.

Isian utamanya didominasi oleh rengginang yang terbuat dari beras ketan. Sementara itu, Gunungan Jaler atau laki-laki memuat hasil bumi berupa sayur-sayuran mentah. Di bagian dalam gunungan laki-laki ini juga terdapat hidangan khusus berupa sego janganan.

“Sego janganan itu hasil sayur-sayuran yang dibikin urap. Dalam kebiasaan masyarakat Jawa, hidangan ini biasanya digunakan untuk selamatan, sepasaran, atau selapanan saat merayakan kelahiran anak,” urainya.

Warna Merah dan Putih

Identitas kedua gunungan ini juga disimbolkan melalui balutan kain yang berwarna merah dan putih. Gusti Moeng juga menjelaskan posisi kain kedua gunungan itu berbeda. Pada Gunungan Estri, warna merah diletakkan di bagian bawah, sedangkan pada Gunungan Jaler, warna merah diletakkan di bagian atas.

Secara keseluruhan, ia mengatakan wujud gunungan dan tumpeng yang diarak merupakan manifestasi dari rasa syukur manusia kepada Sang Pencipta atas karunia rezeki berupa makanan. “Orang Jawa itu setiap makan pastinya selalu [berdoa] bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillah Gusti Allah paring rezeki berupa makanan,” katanya.

Selain itu, ia mengatakan seluruh isi gunungan dibagikan seluruhnya untuk masyarakat yang telah menunggu di halaman Masjid Agung Solo. Tidak ada gunungan yang dibawa kembali ke Keraton.

“Kebetulan itu perintah saya tadi pagi supaya diparingke [diberikan] semua di masjid. Jangan dibawa masuk [ke keraton] lagi. Kalau abdi dalem, mereka sudah ada jatahnya sendiri dan bisa memohon berkah langsung di dalam keraton,” tegasnya.

Gusti Moeng berharap adat istiadat keraton dapat terus dijaga dengan baik. “Yang paling penting, kami memohon doa restunya dari semua warga masyarakat agar keraton bisa lestari dan bisa kembali lagi kewibawaannya,” tandasnya.

Leave a Reply