Nusatime.com, SOLO — Hari pertama masuk sekolah, Wali Kelas I SDN Tegalayu di Purwosari, Laweyan, Kota Solo, Nurhidayah, mengajak murid-murid barunya bernyanyi bersama. Mereka pun mengikuti dengan antusias.
Ruang kelas I tidak terlalu ramai karena hanya ada empat anak. SDN Tegalayu sebenarnya mendapat lima murid baru pada tahun ajaran 2026/2027 ini. Namun satu anak tidak hadir pada hari pertama itu karena sakit.
Suara anak-anak yang riuh tidak bergema di sudut-sudut ruang itu. Senin (13/7/2026) ini merupakan hari pertama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Nurhidayah mengaku awalnya ia sempat patah semangat mendengar kabar sekolah tempat ia mengajar minim murid. Meski begitu, ia justru kini lebih bersemangat melihat antusiasme anak-anak pada hari pertama masuk sekolah.
“Ya, kemarin sempat down, sedikit agak minder. Tapi ya tetap harus jalan,” ungkap Nurhidayah ketika ditemui wartawan di sekolahnya, Senin (13/7/2026).
Rasa kecewa itu dinilai manusiawi, mengingat para guru sebelumnya telah berjuang keras melakukan jemput bola dan promosi sekolah jauh-jauh hari sebelum MPLS.
Nurhidayah menyebut pihak sekolah sudah berusaha turun ke jalan membagikan brosur di momen Car Free Day (CFD) hingga mendatangi langsung berbagai Taman Kanak-Kanak (TK) di wilayah sekitar sekolah.
Namun, Nurhidayah enggan larut dalam kesedihan dan menyalahkan keadaan. Ia meyakini anjloknya jumlah pendaftar bukan karena sekolahnya tidak diminati, melainkan murni akibat tren penurunan tingkat kelahiran atau faktor demografi usia anak di wilayah tersebut pada lima tahun silam.
Program Belajar sesuai Kebutuhan
Nurhidayah menegaskan sudah tidak mempermasalahkan jumlah siswa yang ia bimbing. Baginya mau jumlah berapa pun, pelayanan pendidikan tetap harus diutamakan. Ia bertekad membimbing para murid hingga naik kelas.
“Yang lebih penting, kita memberikan pelayanan terbaik kepada anak-anak. Mau muridnya sedikit, mau banyak, kita berikan yang terbaik,” tegasnya.
Nurhidayah melihat jumlah siswa yang sedikit justru menguntungkan. Sebab, ia pun bisa melihat kondisi emosional dan tumbuh kembang anak yang ia bimbing secara lebih detail. Sehingga ia bisa membuat program belajar sesuai kebutuhan.
“Kita kenalan dulu kondisi emosionalnya masing-masing anak bagaimana. Di MPLS kan nanti orang tua juga mengisi [kuesioner]. Dari situ, sekolah tahu pelayanan spesifik apa yang harus diberikan kepada anak-anak,” paparnya.
Bahkan, hanya dalam waktu pengamatan singkat di hari pertama, Nurhidayah sudah mampu memetakan karakter dan kebutuhan spesifik anak didiknya. “Tadi sepintas [terlihat], yang satu [ada kebutuhan] terkait motoriknya, yang dua kurang fokus. Nanti dikasih treatment untuk mengembangkan bakatnya,” tambahnya.
Jika diperlukan, ia akan mengarahkan anak-anak untuk melakukan asesmen khusus dari Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (PLDPI) Kota Solo demi melihat tumbuh kembang anak secara mental.
Selain itu, guna menghidupkan suasana kelas yang diisi segelintir anak tersebut, ia juga telah menyiapkan berbagai permainan yang menyenangkan agar anak-anak cepat saling mengenal dan merasa betah di sekolah.
Sementara itu, minimnya jumlah murid rupanya juga tidak menjadi soal bagi para wali murid. Salah satu orang tua siswa baru, Citra Angraini, mengaku memilih SDN Tegalayu karena jaraknya yang paling dekat dengan rumah dan kakak-kakak dari anaknya juga merupakan alumni sekolah tersebut.
Citra yang merupakan warga Purwosari itu justru melihat sisi positif dari jumlah teman sekelas anaknya yang hanya berjumlah lima orang itu. “Enggak khawatir sih, malah menganggapnya ya anggap aja kayak bimbel ya, privat. Anaknya juga alhamdulillah bisa menyesuaikan,” ungkap Citra.
Ia menambahkan anaknya berangkat pada hari pertama dengan sangat bersemangat karena ada anak tetangga yang juga bersekolah di tempat yang sama. Citra juga mengapresiasi perkembangan SDN Tegalayu saat ini yang semakin banyak tambahan kegiatan ekstrakurikuler.
Faktor Demografi
Sementara itu, Kepala SDN Tegalayu, Sutanto, menjamin kelima murid baru tersebut tetap mendapatkan hak dan program yang sama sesuai petunjuk pemerintah pusat.
Ia mengatakan semua siswa mengikuti kegiatan MPLS selama lima hari, Senin-Jumat (13-17/7/2026). Kegiatan dikemas dengan banyak permainan dan pendidikan karakter, dengan tujuan utama membuat anak merasa senang, ramah, dan aman.
Terkait jumlah siswa, ia menjelaskan bahwa penurunan jumlah siswa ini sangat dipengaruhi oleh faktor demografi daerah perkotaan. Menurutnya, populasi warga yang menetap serta jumlah anak usia sekolah di sekitar lingkungan tersebut memang terpantau menurun.
Ia mengatakan beberapa tahun sebelumnya sekolah mendapat 10 siswa, lalu naik menjadi 18 siswa pada tahun 2025/2026, sebelum akhirnya turun menjadi lima siswa pada tahun ini.
Minimnya jumlah siswa ini bisa berdampak langsung lantaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) reguler yang diterima akan semakin sedikit. Sebab, BOS dihitung per anak.
Namun, Sutanto mengatakan saat ini pelayanan sekolah masih bisa jalan menggunakan BOS Kinerja yang didapatkan selama dua tahun berturut-turut. Kemudian sekolahnya juga mendapatkan BOS Daerah (Bosda) dari Pemerintah Kota Solo.
Ia mengatakan anggaran tambahan dari pemerintah daerah tersebut akan dialokasikan untuk mendanai kegiatan kesiswaan, yakni ekstrakurikuler. Tahun ini terdapat lima kegiatan tambahan, yakni pramuka, tari, olahraga, musik, dan Baca Tulis Al-Qur’an (BTA).
“Mudah-mudahan kualitasnya lebih bagus lagi. Untuk minat bakat anak itu akan lebih terlihat, kemudian ending-nya nanti kan bisa membawa sekolahnya lebih maju dan lebih banyak muridnya,” harap Sutanto.

Leave a Reply