Harga Telur Anjlok ke Rp21.000/Kg, UMKM Senang Peternak Sragen Menjerit

Harga Telur Anjlok ke Rp21.000/Kg, UMKM Senang Peternak Sragen Menjerit
Anak kandang memanen telur pada kandang ayam petelur di wilayah Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Sragen, belum lama ini. Harga telur di tingkat peternak di Sepat mencapai Rp21.000 per kg pada Sabtu (4/7/2026). (Istimewa/Iwan Sartono Sragen)

Nusatime.com, SRAGEN — Harga telur ayam ras di Kabupaten Sragen anjlok pada awal Juli 2026 hingga menyentuh Rp21.000 per kilogram di tingkat peternak. Penurunan harga ini disambut gembira pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggunakan telur sebagai bahan baku. Sebaliknya, para peternak mengaku semakin tertekan karena harga jual turun di tengah biaya produksi yang tetap tinggi.

Berdasarkan pantauan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumindag) Sragen, harga telur ayam ras pada Juni 2026 masih berada di kisaran Rp25.000 per kilogram.

Harga kemudian turun menjadi Rp23.000 per kilogram pada 26 Juni dan kembali merosot hingga sekitar Rp22.500 per kilogram pada awal Juli. Di tingkat peternak, harga bahkan hanya mencapai Rp21.000 per kilogram. Di sejumlah minimarket, telur dijual sekitar Rp21.500 per kilogram.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Diskumindag Sragen, R. Widya Budi Mudhita, mengatakan pihaknya masih memantau perkembangan harga telur di pasaran. Menurut dia, penurunan harga terjadi cukup cepat dalam beberapa pekan terakhir.

“Harga sebelumnya sekitar Rp25.000 per kilogram, sekarang turun menjadi Rp22.500 per kilogram. Dengan kondisi pasar yang relatif sepi, harga masih berpotensi turun lagi. Hingga saat ini kami belum menemukan indikasi pasti penyebab penurunan harga tersebut,” ujarnya kepada Espos, Sabtu (4/7/2026).

Turunnya harga telur memberikan keuntungan bagi pelaku UMKM yang mengandalkan telur sebagai bahan baku produksi. Salah seorang pelaku UMKM di Sragen, Mulyani, mengaku biaya produksi menjadi lebih ringan dibandingkan saat harga telur masih tinggi.

“Kalau pelaku UMKM tentu senang karena harga telur turun. Yang kasihan justru peternaknya. Sekarang masih ada yang menjual Rp22.000 per kilogram, padahal dulu harga eceran bisa sampai Rp29.000 per kilogram,” katanya.

Menurut Mulyani, usaha yang paling diuntungkan adalah pedagang kue karena kebutuhan telur mereka relatif besar setiap hari. Sementara dirinya yang menjual tumpang telur tidak membutuhkan pasokan dalam jumlah banyak.

Di sisi lain, peternak ayam petelur di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Iwan Sartono, mengaku penurunan harga membuat margin keuntungan semakin tipis. Kondisi itu diperparah dengan harga pakan pabrikan yang justru mengalami kenaikan.

“Harga telur sekarang sekitar Rp21.000 per kilogram. Dulu bahkan pernah sampai Rp19.000. Saat harga telur turun seperti ini, harga pakan malah naik. Harapan kami harga bisa kembali sesuai Harga Acuan Pemerintah (HAP), yaitu Rp26.500 per kilogram,” ujarnya.

Iwan menuturkan tren penurunan harga mulai terasa sekitar satu bulan terakhir. Dengan harga jual saat ini, pendapatan peternak dinilai tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk memelihara ayam petelur.

Ia memelihara sekitar 1.100 ekor ayam petelur dengan tingkat produksi sekitar 82 persen. Telur hasil produksinya dipasarkan ke toko kelontong di sekitar Kecamatan Masaran. Selain itu, ia juga memasok telur ke dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, selama program MBG diliburkan sekitar tiga pekan mengikuti masa libur sekolah, permintaan dari SPPG ikut terhenti. Kondisi tersebut membuat peternak harus mencari pasar lain untuk menjaga arus kas usaha.

“Sekarang suplai ke MBG juga libur selama tiga pekan. Kami harus mencari konsumen lain supaya uang tetap berputar. Penyebab harga turun saya juga kurang paham, apakah memang siklus atau produksi sedang melimpah. Kami hanya berharap ada perhatian pemerintah untuk menstabilkan harga telur,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menetapkan Harga Acuan Pemerintah (HAP) telur ayam ras sebesar Rp26.500 per kilogram. Angka tersebut diharapkan menjadi acuan agar harga di tingkat peternak tetap memberikan keuntungan yang layak, sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan keberlangsungan usaha peternak.

Leave a Reply