Harga Telur Anjlok, Peternak Karanganyar Gadaikan BPKB hingga Sertifikat Rumah

Harga Telur Anjlok, Peternak Karanganyar Gadaikan BPKB hingga Sertifikat Rumah
Peternakan ayam petelur di wilayah Beruk, Kecamatan Jatiyoso.

Nusatime.com, KARANGANYAR — Penurunan harga telur dan ayam di tingkat peternak membuat pelaku usaha peternakan di Kabupaten Karanganyar kian tertekan. Di sisi lain, harga pakan yang menjadi komponen biaya terbesar belum menunjukkan penurunan signifikan sehingga margin usaha terus menyusut.

Akibat kondisi tersebut, sebagian peternak mulai mengurangi populasi ayam, menjual seluruh ternaknya, hingga menggadaikan aset pribadi demi mempertahankan usaha.

Peternak ayam petelur asal Beruk, Kecamatan Jatiyoso, Wahyudi, mengatakan kondisi yang dihadapi peternak saat ini sangat berat. Harga jual telur terus melemah, sementara biaya produksi tetap tinggi.

“Menurut saya peternak perlu diperhatikan pemerintah. Harga harus bisa pulih seperti semula, karena harga pakan masih tetap. Harga telur maupun ayam pedaging sama-sama turun,” ujar Wahyudi, Selasa (7/7/2026).

Menurut Wahyudi, harga telur di tingkat peternak saat ini hanya berkisar Rp18.000 per kilogram, jauh di bawah harga normal yang berada di kisaran Rp25.000-Rp26.000 per kilogram.

Tak hanya telur, harga ayam hidup juga ikut merosot. Saat ini harga ayam di tingkat peternak sekitar Rp12.500 per kilogram, padahal agar biaya produksi tertutup, harga ideal berada di kisaran Rp20.000 per kilogram.

“Dengan harga sekarang tidak menutup biaya operasional. Malah minus,” ujarnya.

Peternak Kurangi Populasi Ayam hingga Cari Pinjaman

Wahyudi menuturkan banyak peternak mulai mengambil langkah bertahan agar usaha tetap berjalan. Sebagian mengurangi populasi ayam, sementara yang lain memilih menjual seluruh ayam petelur karena tidak lagi mampu membeli pakan.

Menurutnya, setelah menjual seluruh ternak, sebagian peternak berencana memulai kembali usaha dengan membeli ayam baru ketika kondisi pasar membaik.

Bagi peternak yang masih bertahan, berbagai cara dilakukan untuk memperoleh tambahan modal. Salah satunya dengan mencari pinjaman menggunakan aset pribadi sebagai jaminan.

“Ada yang sampai menggadaikan BPKB kendaraan, bahkan sertifikat rumah, untuk mencukupi kebutuhan pakan. Yang penting ayam tetap bisa makan dan usaha tidak berhenti,” tuturnya.

Wahyudi mengaku memilih tetap bertahan sambil mencari berbagai cara agar kebutuhan pakan ternaknya tetap terpenuhi. Namun, ia mengingatkan kondisi ini tidak akan bertahan lama apabila harga telur dan ayam terus berada di bawah biaya produksi.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga komoditas peternakan sehingga usaha peternak rakyat tetap dapat berjalan.

“Peternak butuh harga yang wajar. Kalau harga jual bisa pulih dan harga pakan bisa ditekan, usaha peternakan masih bisa berjalan,” katanya.

Leave a Reply